The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 38 — Babak Ketiga Konferensi Daffodil (3)



Sosok ular yang sangat besar muncul dari air yang sangat jernih itu. Ular tersebut berwarna biru laut yang terlihat sangat indah dan tingginya jauh melebihi Lian Haocun dan Lian Huanran.


Tubuh ular biru itu terlihat sangat keras dan kokoh. Auranya memancarkan tekanan yang mengintimidasi dan penuh kekuatan seperti seorang jenderal.


Lian Huanran gemetar melihat ular yang tingginya jauh melebihi dia sementara Lian Haocun segera menjadi sangat waspada. Namun ular itu bahkan tidak menyerangnya, ular itu hanya melantunkan mantra yang bahkan Lian Haocun tidak mengerti artinya.


Tapi Lian Haocun mengetahui bahwa ia harus mengganggu ular, jika tidak risikonya bisa sangat berbahaya. Lian Haocun menatap Lian Huanran yang berada di sebelahnya dan berkata dengan suara yang menenangkan,


“Tenang.”


Lalu Lian Haocun segera melompat tinggi dan menerjang ke arah ular tersebut, tetapi dia terpental oleh pelindung tidak terlihat. Mau tidak mau dengan segala cara, Lian Haocun mulai mencoba menghancurkan pelindung tidak terlihat di sekitar si ular raksasa.


Satu kata dari Lian Haocun anehnya menenangkan Lian Huanran dari kegelisahannya. Lian Huanran segera melepaskan anak panah dengan satu-satunya teknik yang ia pelajari berturut-turut.


Namun bahkan panah itu tidak bisa menembus kulit tebal ular tersebut dan bertemu penghalang tidak terlihat di sekitar ular raksasa. Sama seperti Lian Haocun tidak dapat menyerang ular sama sekali karena pelindung tidak terlihat di sekitar ular.


Ular itu bahkan tidak memperhatikan tindakan perlawanan sia-sia Lian Haocun dan Lian Huanran lalu melanjutkan mantra itu hingga selesai. Lian Haocun segera memerintahkan Lian Huanran untuk mundur keluar dari gua, tapi itu sudah terlambat.


Saat mantra itu selesai cahaya memancar dari ular tersebut. Lalu Lian Haocun dan Lian Huanran jatuh ke bebatuan gua. Ular biru laut itu dengan sinis berkata,


“Huh, hanya kultivator tahap Foundation Building stage mau melawanku. Hehe.... Bersenang-senanglah dalam ilusi yang akan membuatmu meninggal perlahan-lahan, bocah-bocah bodoh....”


...****************...


Sementara itu, kepala Lian Haocun terasa berdengung dan ingatannya berantakan. Lian Haocun hanya mengingat namanya, namun dia tidak bisa mengingat hal-hal lain.


‘Di mana aku?’ Batin Lian Haocun kebingungan melihat padang rerumputan yang segar, tempat yang cocok untuk berpiknik.


Sinar matahari yang cukup panas dan menyengat menandakan bahwa hari masih siang.


Aroma makanan yang harum dan aroma rerumputan segar bercampur memasuki indra penciuman Lian Haocun, tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki yang bersurai pirang pendek dan bermata hijau dengan tubuh kecil berumur sekitar delapan hingga sepuluh tahun, Lian Haocun merasa asing dengan anak laki-laki berambut pirang pendek namun juga familier.


Anak laki-laki berambut pirang pendek itu berkata dengan nada ceria dan hangat, “Kakak! Ayo makan, Ayah dan Ibu sudah selesai menata bekal!”


Lagi-lagi Lian Haocun merasa familier namun juga keterasingan yang aneh terhadap anak laki-laki dihadapannya.


“Siapa kamu?” Tanya anak laki-laki berambut pendek pirang yang sama dengan anak laki-laki yang memanggil “Kakak” tapi warna matanya berwarna biru samudera, anak laki-laki dengan mata biru itu adalah Lian Haocun.


Anak laki-laki bermata hijau melambaikan tangannya berkali-kali di hadapan Lian Haocun untuk memastikan bahwa dia sadar, bahkan menempelkan tangannya untuk mengecek apakah kakaknya sakit tapi anak laki-laki itu tidak mendapat apa-apa.


Jadi dia hanya bisa berkata dengan volume keras seakan takut Lian Haocun tidak bisa mendengarnya, “Apa kakak sakit? Ini aku! Huanran!”


Nama tersebut terasa tidak asing bagi Lian Haocun.


Seorang perempuan berambut perak panjang dengan mata hijau yang mirip seperti mata Lian Huanran berteriak ke arah Lian Haocun dan 'Lian Huanran',


“Apa yang kalian lakukan!? Ayo makan!”


'Lian Huanran' segera menyahut, “Iya, ibu! Tunggu sebentar!”


Laki-laki itu terlihat terlihat menawan seperti ‘ibu’, laki-laki itu bersurai pirang pendek dan bermata biru seperti Lian Haocun tampak seperti Lian Haocun dewasa. Jika ‘ibu’ terlihat lembut dan cantik, maka laki-laki itu terlihat tampan dan tegas namun juga memiliki kelembutan seorang orang tua. Lian Huanran menyapa laki-laki itu dengan panggilan ayah.


Lian Huanran yang melihat makanan pun langsung duduk, mengambil makanan dan memakannya dengan lahap, langsung melupakan keanehan kakak laki-lakinya.


Sementara Lian Haocun hanya memandangi pemandangan tiga orang di depannya dengan tatapan aneh. Mata ‘ibu’ melembut ketika melihat Lian Haocun yang berdiri,


“Haocun, ngapain berdiri di sana? Ayo duduk dan makan.” Kata ‘ibu’ sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Sementara ‘ayah’ mengobrol beberapa percakapan singkat dengan Lian Huanran.


Suasana itu terlihat sangat harmonis dan menyenangkan, ada kasih sayang, rasa aman dan nyaman yang membuat seseorang ingin tinggal selamanya di sana dengan waktu yang terhenti.


Namun Lian Haocun tidak termasuk kategori orang tersebut karena ia hanya merasa aneh walaupun ia tidak tau mengapa. Bagi Lian Haocun 'ayah' dan 'ibu' itu tidak lebih dari orang asing.


Lian Huanran segera mengalihkan perhatiannya dari makanan ke Lian Haocun saat ibunya menawarkan tempat duduk dan berkata dengan nada ceria dan periang yang sangat cocok dengan suasana hangat ‘keluarga’,


“Kakak tidak lapar? Makanannya enak sekali! Bukannya kakak suka telur ini?”


Lian Huanran menunjuk ke salah satu makanan, telur dadar yang terlihat sangat menggugah selera.


‘Ayah’ juga melanjutkan perkataan Lian Huanran, “Iya. Buat apa kau hanya berdiri menatap kami makan. Ayo makan.”


Dipaksa oleh tiga orang mau tidak mau Lian Haocun terpaksa duduk dan makan, telur yang ditunjuk oleh Lian Huanran memang sangat enak. Lembut dan creamy dengan rempah-rempah yang membuat cita rasa yang khas di mulut.


Meski Lian Haocun sedang makan, otaknya sebenarnya sedang memproses berbagai hal yang dialaminya.


Sementara ketiga orang yang sedang makan itu mengobrol dengan harmonis dan ceria, terkadang bahkan mereka melibatkan Lian Haocun yang memang jarang berbicara secara paksa ke percakapan.


Lian Haocun merasa perasaan aneh menyelimuti hatinya sepanjang makan sehingga otomatis tubuhnya sangat waspada. Saat ‘ibu’ ingin mengelus kepala Lian Haocun, Lian Haocun yang waspada secara refleks menghindari sentuhan ‘ibu’.


‘Ayah’ dan ‘Lian Huanran' merasa bingung dengan sikap Lian Haocun yang sedari tadi agak aneh tapi juga terasa seperti biasanya.


Sementara ‘ibu’ mulai menanyakan Lian Haocun berbagai pertanyaan dengan nada khawatir dan gelisah yang sangat kentara karena Lian Haocun tidak pernah menghindari elusan kepalanya.


‘Ayah’ bertanya dengan lembut, “Haocun, ada apa?”


Lian Haocun menggelengkan kepalanya sedangkan ‘Lian Huanran' mulai mengingat saat Lian Haocun mulai bertingkah aneh. ‘Lian Huanran' segera menceritakan hal tersebut kepada ‘ayah’ dengan suara berbisik sehingga Lian Haocun dan ‘ibu’ yang sedang berbicara tidak bisa mendengarnya atau lebih tepatnya menyatakan kekhawatirannya.


Mendengar perkataan ‘Lian Huanran', ‘ayah’ menunjukkan kekhawatiran terang-terangan terhadap Lian Haocun, segera ia mengikuti ‘ibu’ dan mulai mengecek Lian Haocun sambil menanyakan berbagai pertanyaan seperti,


‘Apa kau bisa mengingat siapa kami?’, ‘Apa tadi kau ingat sempat terjatuh? Atau ada bagian-bagian yang sakit?’ dan pertanyaan semacamnya.


Lian Haocun mulai merasa kebingungan di dalam hatinya namun ekspresinya tetap acuh tak acuh seperti biasa jadi baik ‘ayah’ maupun ‘ibu’ tidak bisa merasakannya. Sementara ‘Lian Huanran’ memandang Lian Haocun dengan pandangan penuh kekhawatiran, kecemasan dan kegelisahan seperti ‘ayah’ dan ‘ibu’.


Lalu karena Lian Haocun tidak menjawab pertanyaan sekalipun karena bingung dan yang menyelimuti hatinya, ‘ayah’ dan ‘ibu’ segera bergegas ke rumah sakit menggunakan mobil. Sepertinya ini adalah dunia modern tempat Lian Haocun sebelum berinkarnasi.