
Lalu Lian Haocun, Lian Huanran, Tang Yelu, Wu Shilin dan para peserta lainnya segera diteleportasikan ke Hutan Drego ke tempat acak di Hutan Drego. Pohon-pohon yang tumbuh lebat menjulang tinggi memasuki pandangan Lian Haocun dan Lian Huanran yang beruntung mendarat di titik yang sama.
Cahaya matahari yang menyengat memasuki celah pepohonan pertanda bahwa hari masih siang. Udara yang terdapat di hutan itu terasa sejuk dan menyegarkan disertai aroma-aroma kayu dan beberapa aroma lainnya.
Di tanah tidak terdapat banyak tumbuhan sehingga tanah bisa dilihat dengan jelas dan leluasa untuk bergerak tanpa terganggu tanaman-tanaman.
Lian Haocun dan Lian Huanran sepakat untuk menemukan Tang Yelu dan Wu Shilin terlebih dahulu sambil berburu binatang ajaib. Dalam perjalanan, Lian Haocun dan Lian Huanran berulang kali bertemu binatang ajaib dengan tingkat dua ataupun tiga.
Hal tersebut membuat waktu yang dibutuhkan untuk menemukan Tang Yelu dan Wu Shilin lebih lama, karena untuk menangani binatang ajaib tingkat tiga membutuhkan waktu yang cukup banyak, apalagi jika berkelompok.
Untungnya Lian Haocun sekarang dapat menggunakan elemen nya sesuka hati tanpa perlu takut diketahui begitu juga dengan Lian Huanran karena tidak ada orang di sekitar sehingga waktu Lian Haocun dan Lian Huanran untuk mengalahkan binatang ajaib tingkat tiga lebih cepat dibandingkan peserta lainnya.
Bertarung melawan binatang ajaib yang bervariasi, pengalaman bertarung Lian Haocun dan Lian Huanran perlahan-lahan meningkat dan terbentuk pemahaman diam-diam yang lebih kuat di antara kedua saudara kembar Lian tersebut sehingga setiap pertarungan dengan binatang ajaib menjadi lebih cepat dan cepat dari pertarungan sebelumnya.
Untuk menangani binatang ajaib, Lian Huanran yang merupakan pemanah melompat ke dahan-dahan pohon, perhentiannya di setiap kali melompat ke dahan pohon yang satu ke yang lainnya hanya sekitar satu detik, hingga dahan itu hanya bergoyang sedikit sebelum kembali seperti semula.
Sembari melompat, Lian Huanran memanah-manah binatang ajaib yang sudah ia ikat dengan sulur-sulut tanaman kayunya. Untuk melakukan itu, Lian Huanran membutuhkan fokus dan keahlian yang tinggi agar anak panahnya tidak meleset karena itu terkadang Lian Huanran juga akan berhenti sebentar di dahan pohon yang kokoh untuk melepaskan anak panah berturut-turut.
Sementara itu cara Lian Haocun menangani binatang ajaib sangat mirip seperti sebelumnya di Pegunungan Yama namun setiap tebasan pedangnya mengandung Qi yang lebih tebal dari sebelumnya di Pegunungan Yama dan gerakannya menjadi lebih cepat, tajam dan akurat ke titik vital binatang ajaib sehingga bahkan membuat pohon yang berada di belakang binatang ajaib itu ikut tergores oleh ledakan Qi Spiritual yang tidak terlihat.
Dengan cara itu mereka memusnahkan binatang ajaib dan mulai mengumpulkan simbol-simbol berbentuk segi lima yang dikatakan Pembawa Acara. Simbol-simbol itu disimpan di dalam cincin penyimpanan masing-masing.
...****************...
Saat ini, Lian Huanran sedang memasak daging binatang ajaib dengan bumbu-bumbu yang Lian Huanran miliki di cincin penyimpanannya. Lian Haocun yang sedang berpatroli di sekitar untuk memastikan tidak ada bahaya kembali tepat setelah Lian Huanran selesai memasak.
Bau harum memasuki indra penciuman Lian Haocun, Lian Haocun pun duduk bersila di atas daun dan mulai menikmati makanannya sambil mendengarkan celotehan Lian Huanran yang bersemangat dan ceria.
“Berburu di hutan memang yang terbaik! Hahh.... Bertarung di arena benar-benar berbeda dengan di hutan.” Lian Haocun mendengarkan Lian Huanran sehingga mereka menyelesaikan makanan mereka.
“Ayo lanjut.” Ucap Lian Haocun sambil berjalan santai ke suatu arah.
Di perjalanan, mereka sangat sering berpas-pasan dengan binatang ajaib, sehingga mereka memutuskan untuk beristirahat di gua terlebih dahulu untuk memulihkan energi yang digunakan saat bertarung.
Namun Lian Haocun dan Lian Huanran tanpa sengaja menemukan ngarai saat menjelajahi Hutan Drego, ngarai itu ditutupi awan kabut yang sangat tebal sehingga baik Lian Haocun maupun Lian Huanran tidak bisa melihat dasarnya sama sekali.
Lian Haocun segera mengingat mengenai ngarai di Hutan Drego dan membagikan pengetahuannya dari buku kepada Lian Huanran,
Lian Huanran mengangguk mendengarkan penjelasan Lian Haocun dan berkomentar dengan semangat berpetualang, “Menarik.... Apa kita akan menjelajahinya, Kak?”
Lian Haocun menjawab setelah memikirkan keuntungan dan kerugiannya, “Risikonya terlalu tinggi, tapi mari lakukan.”
Lian Huanran mengetahui bahwa Kakaknya adalah orang yang suka mengambil risiko dan berani. Meski merasa sedikit khawatir dan cemas di dalam lubuk hatinya, Lian Huanran tetap menyetujui Kakaknya.
“Jadi, bagaimana cara kita turun? Terbang ke bawah menggunakan pedang?” Tanya Lian Huanran,
Lian Haocun menjawab, “Tidak bisa menggunakan pedang. Pakai sulur tanamanmu.”
Lian Huanran segera mengeluarkan sulur tanaman dari tangannya untuk memanjat ke bawah.
“Woah ngarai ini dalam sekali.” Komentar Lian Huanran.
Lalu mereka memanjat ke bawah dengan banyak usaha. Punggung Lian Huanran berkeringat deras karena Lian Huanran tidak sering berolahraga seperti Lian Haocun.
"Tanganku sangat lelah. Tidak..... Seluruh tubuhku lelah...." Keluh Lian Huanran sementara itu Lian Haocun hanya menonton Lian Huanran yang mengeluh sambil melihat-lihat situsi di dasar ngarai itu.
Lian Huanran beristirahat sebentar dan mulai memperhatikan pemandangan di dasar Ngarai Mortinta.
Di dasar ngarai itu sangat cerah walaupun tidak ada matahari, tidak seperti yang dikira Lian Huanran, “Kukira di dasarnya akan sangat gelap. Indah sekali.....”
Dasar ngarai itu memang sangat indah, terdapat rerumputan berwarna hijau yang terlihat sangat segar dan subur dan pohon-pohon berdaun hijau yang menjulang tinggi.
Ada juga suara sungai yang mengalir yang membuat suasana membuat pikiran menjadi tenang dan relaks.
Itu benar-benar tidak cocok dengan kesan berisiko dan berbahaya yang tertera di Ngarai Mortinta.
“Ayo jelajahi sekitar dulu.” Ajak Lian Haocun dengan nada dingin seperti biasanya, Lian Huanran mengangguk dan mulai menjelajahi sambil mengagumi pemandangan indah di dasar Ngarai Mortinta.
Lalu mereka menemukan gua yang gelap. Lian Haocun dan Lian Huanran segera memasuki gua dan menjelajahi gua tersebut, di dalam gua tersebut terdapat air yang terlihat sangat jernih dan bercahaya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang penuh kemarahan dan ancaman,
“Berani-beraninya kalian memasuki wilayahku!”