The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 203 – Tes: Ketidakberdayaan (7)



‘Mini Lian Haocun’ bersama dengan seorang anak laki-laki berpakaian lusuh lainnya, melawan gladiator pria berbadan gemuk, yang memiliki senyum menjijikkan di wajahnya. Sosok berbadan gemuk itu memiliki sebutan yang cukup terkenal di antara para Gladiator, ‘Noble’. Ya, berkat sosok tersembunyi di belakang ‘Noble’ tersebut, ‘Noble' mendapatkan perawatan terbaik yang bahkan tidak didapatkan oleh Gladiator terkuat, Cerberus.


‘Noble’ memutar belati tajam di tangan kanannya, sambil dengan wajah santai, berusaha meraih ‘mini Lian Haocun' yang berniat untuk melarikan diri. Sayangnya, meski tubuh lawan 'Noble' terlihat gemuk, kecepatannya tidak lambat. Sehingga ‘Noble’ dengan mudah menangkap ‘mini Lian Haocun’ dan anak laki-laki lain, yang merupakan rekan setim ‘mini Lian Haocun’ di pertandingan kali ini.


Dengan satu tangannya yang besar, ‘Noble’ memegang ‘mini Lian Haocun' serta anak laki-laki yang sudah mengucurkan air mata, karena merasa sangat ketakutan. Melihat ‘mini Lian Haocun' yang tidak tampak setakut anak laki-laki lainnya, ‘Noble’ menyipitkan matanya, lalu membentuk senyum yang keji.


Kemudian, tanpa sepatah katapun, ‘Noble’ menggerakkan belati-nya sehingga menusuk wajah ‘mini Lian Haocun’! Tidak, lebih tepatnya, hampir menusuk mata ‘mini Lian Haocun', karena belati itu berhenti tepat sepuluh sentimeter di depan mata ‘mini Lian Haocun'.


Tidak dapat dipungkiri, melihat belati di hadapannya, ‘mini Lian Haocun' mengira kematiannya sudah hampir tiba, dan tidak dapat dipungkiri juga, tubuhnya gemetaran, karena rasa takut.


Sementara, ‘Noble’ tertawa terbahak-bahak, seolah-olah telah melihat lelucon yang sangat lucu. Setelah selesai tertawa, ‘Noble’ berkata, “Apa kau pikir ketakutanmu ada artinya? Pada akhirnya, tidak ada yang akan bisa menyelamatkanmu! Hahahaha!! Oh, aku tahu! Ketakutanmu pasti untuk membuatku terhibur kan! Makasih anak kecil, makasih!”


‘Mini Lian Haocun' merasa sangat marah dan kesal, namun ia tidak bisa mengatakan apa-pun. Di saat bersamaan, ‘mini Lian Haocun' juga merasakan ketidakberdayaan dan keputusasaan memenuhi dirinya, karena apa yang dikatakan ‘Noble’ benar.


‘Tidak ada yang bisa menyelamatkanku..., bahkan Kakak itu.., dia tidak akan bisa ikut campur. Apakah pada akhirnya hanya sampai di sini...?’ Batin ‘mini Lian Haocun', untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa segalanya pasti sudah berakhir. Akan tetapi, entah mengapa, ‘mini Lian Haocun' tidak merasa senang, padahal sedari dulu dirinya menginginkan kematian.


‘Kenapa..?’ Batin ‘mini Lian Haocun' bingung, ia merasa ingin menangis, karena di saat ia mulai merasakan keinginan untuk hidup, ia tidak memiliki pilihan lain selain kematian. Dan, ironisnya, ia merasakan hal itu saat ia berada di koloseum, dan bertemu Lian Haocun.


Akan tetapi, tepat saat itu juga, Lian Haocun yang sudah tiba di arena tempat ‘mini Lian Haocun' bertanding melawan ‘Noble’, langsung merebut ‘mini Lian Haocun', dan menendang ‘Noble’ sehingga ia terlempar cukup jauh! Sayangnya, anak laki-laki yang masih dipegang oleh ‘Noble’ juga ikut terlempar.


Segera, terdengar seruan dari penonton yang sangat keras! Beberapa dari mereka bersorak karena pelanggaran peraturan, sementara yang lainnya merasakan semangat mereka menggebu-gebu, karena sepertinya ada tontonan menarik yang dapat mereka nikmati. Sedangkan sisanya merasa sangat disayangkan karena tidak bisa melihat darah yang tumpah dari ‘mini Lian Haocun' dan anak laki-laki lainnya.


Lian Haocun menurunkan ‘mini Lian Haocun' yang berhasil direbutnya dari ‘Noble’, lalu mengeluarkan pedang hitamnya, ‘Jianheng’. Melihat punggung tegap Lian Haocun di hadapannya, ‘mini Lian Haocun' merasa ketidakpercayaan memenuhi hatinya.


Ditambah, ketika melihat pedang Lian Haocun yang tiba-tiba muncul dari udara kosong, ‘mini Lian Haocun' merasa semakin tidak percaya, disertai kebingungan. Ya, perasaan senang, ketidakpercayaan, dan kebingungan menjadi satu.


Lian Haocun berniat membunuh ‘Noble’, dan setelah menenangkan ‘mini Lian Haocun' sebentar, Lian Haocun segera melesat ke arah ‘Noble’! Akan tetapi, ‘Noble’ bangun cukup cepat, dan sebelum Lian Haocun tiba, ia mengambil anak laki-laki yang tidak bersalah di sampingnya, dan menyanderanya.


“Berhenti di tempat! Kalau tidak, aku akan membunuhnya!” Ancam ‘Noble’ ketakutan. Bagaimanapun, ‘Noble’ juga melihat pedang Lian Haocun yang muncul tiba-tiba. Meski begitu, ‘Noble’ memegang belati-nya dengan sangat erat, sambil mendekatkan belati-nya ke leher anak laki-laki yang tidak bersalah itu.


Mendengar ancaman ‘Noble’, Lian Haocun langsung membeku di tempatnya. Dan, reaksinya langsung diketahui oleh 'Noble'.


“Heh, siapa yang menduga kalau nyawa anak ini juga begitu penting bagimu! Kalau begitu, jika kau ingin nyawa anak ini diselamatkan, bunuh dirimu sendiri sekarang!” Kata ‘Noble’ diselingi tawa mengejek. Mengetahui ‘kelemahan' Lian Haocun, ‘Noble’ tidak tampak ketakutan seperti sebelumnya.


Setelah itu, Lian Haocun tidak bisa menggerakkan jarinya sedikit pun. Bahkan ia tidak bisa mengeluarkan tekanannya sebagai seorang kultivator, yang bisa ia lakukan hanya melihat belati ‘Noble’ yang semakin mendekati leher anak laki-laki itu.


Lagi-lagi, suara asing yang datar itu bergema di telinganya, “Satu.”


Dan, anehnya, suara itu terdengar bersamaan dengan suara hitungan 'Noble’.


“Dua.”


Tenggorokan Lian Haocun terasa kering, ia tidak tau harus memilih apa. Dirinya, atau, anak laki-laki itu? Tentunya, Lian Haocun tidak bisa melakukan bunuh diri di sini, karena ia tidak mengetahui apakah ia bisa kembali ke dunianya jikalau ia melakukan itu. Akan tetapi, Lian Haocun juga tidak bisa membiarkan anak kecil yang tidak bersalah itu mati di tangan 'Noble’.


Padahal, jikalau itu dirinya dari kehidupan pertama-nya, Lian Haocun tidak akan ragu-ragu memilih nyawanya sendiri. Karena selama tinggal di koloseum, Lian Haocun belajar untuk tidak mengasihani, berempati maupun bersimpati kepada siapapun, karena bisa saja, orang yang ia kasihanilah, yang keesokan harinya akan mencoba membunuhnya untuk bertahan hidup.


Entah sejak kapan, dirinya mulai berubah. Ia kehilangan ketajamannya dari kehidupan sebelumnya, dan menjadi lebih lembut, seperti pedang yang mulai berkarat setelah digunakan untuk waktu yang lama.


Bukan hanya itu, Lian Haocun juga merasakan emosi-emosi baru yang berkecambah di hatinya yang sudah mendingin saat ini. Perasaan tidak berdaya, kesal, amarah, empati, simpati, belas kasih, dan kebingungan, bercampur menjadi satu emosi yang sangat rumit, dan tidak dapat dipahami Lian Haocun. Sementara Lian Haocun tidak tau bagaimana harus memilih, hitungan detik terus berlalu.


Ketika detik ke-lima, kilasan pria yang mengorbankan dirinya untuk Lian Haocun di kehidupan pertama-nya terlintas. Ya, ia mengorbankan nyawanya yang berharga untuk anak kecil yang masa depannya tidak pasti. Dulu, ketika Lian Haocun memikirkan pengorbanan orang itu, ia hanya merasakan orang itu sangat bodoh, ironisnya, tanpa kebodohan orang itu, Lian Haocun yang sekarang tidak akan ada.


Pada detik ke-tujuh, Lian Haocun mengingat banyaknya kepala anak kecil tidak bersalah yang sudah ia tebas untuk bertahan hidup. Lalu saat sudah detik ke-sembilan, Lian Haocun merasakan perasaan jijik dan amarah kepada dirinya sendiri. Ia juga menghiraukan teriakan dari ‘mini Lian Haocun' di belakangnya, untuk bersikap egois.


Kemudian, saat suara itu terdengar lagi untuk menyuarakan pengakhiran. Lian Haocun memotongnya, dan berkata, “Bunuh saja dia.”


Waktu terasa terhenti, namun ‘Noble’ segera menggerakkan belati-nya untuk menggorok leher anak kecil itu. Di saat bersamaan, Lian Haocun mengayunkan pedang hitamnya secepat kilat, untuk menebas kepala ‘Noble’, mereka melakukannya dalam sepersekian detik setelah hitungan ke-sepuluh selesai. Sayangnya, Lian Haocun gagal, ya, ia gagal. Luka gorokan ‘Noble’ di leher anak itu terlalu dalam, dan langsung membunuh anak itu.


Kepala ‘Noble’ yang terpisah dari lehernya menampakkan senyum kemenangan. Darah bercucuran ke mana-mana. Sedangkan teriakan dan sorakan penonton semakin menggebu-gebu.


Sementara, ‘mini Lian Haocun' di belakang Lian Haocun merasakan betapa mengerikannya Lian Haocun. Pasalnya, dari jarak yang cukup jauh dari ‘Noble’ saja, kepala ‘Noble’ anehnya terpenggal oleh ‘silet’ cahaya yang muncul dari ayunan pedang Lian Haocun.


Akan tetapi, kengerian ‘mini Lian Haocun' segera menghilang melihat situasi Lian Haocun saat ini. 'Mini Lian Haocun' berteriak keras, dan berlari ke arah Lian Haocun, sambil menangis, karena pemandangan janggal dan aneh yang terjadi pada Lian Haocun di hadapannya, yang lebih mengerikan dibandingkan pembunuhan sadis Lian Haocun sebelumnya.