The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 106 — Penyelidikan Desa Thano (3)



‘Diskusi’ berlangsung cukup lama sehingga tanpa terasa hari sudah malam saat mereka selesai ‘bercakap-cakap’. Thea mengambil dua lampu minyak entah dari mana untuk menerangi rumah sederhana yang minim cahaya. Ia meletakkan kedua lampu itu di tengah-tengah tempat Lian Haocun dan kelompoknya duduk. Lalu ia kembali duduk di atas alas jerami dengan tenang.


Kakek tua itu berkata dengan nada ramah, “Di desa ini tidak terdapat rumah yang cocok untuk tempat para orang asing menginap. Bagaimana kalau kalian menginap di rumah saya saja? Atau... Kalian sudah memiliki tempat untuk menginap?”


Lian Huanran langsung berekspresi tidak nyaman, bagaimanapun tempat kakek tua itu tidak terlalu luas, meski masih cukup untuk menjadi tempat menginap beberapa orang, namun Lian Huanran merasa tidak enak karena pasti hal tersebut akan merepotkan kakek tua tersebut, “Tidak-,”


Sebelum Lian Huanran dapat menyelesaikan kata-katanya, Lian Haocun menyela, “Maaf kami perlu merepotkan Anda untuk malam ini.”


‘Kakak tidak akan memilih pilihan ini tanpa alasan.’ Batin Lian Huanran sambil menelusuri kembali ingatannya sedari mereka tiba di Desa Thano, untuk menemukan hal yang mencurigakan tetapi sayangnya, meski menelusurinya berapa kali pun, Lian Huanran tidak bisa menemukan hal yang mencurigakan.


Kakek tua itu langsung menanggapi dengan berkata, “Tidak-tidak, tidak perlu sungkan. Saya akan sangat senang jika kalian menginap, tapi... mungkin tempat kalian tidur tidak akan terlalu nyaman.”


Kali ini Chao Bence yang menanggapi, “Tidak masalah... Maaf merepotkan kepala desa.”


Kakek tua itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Thea yang sedari tadi diam, berkata dengan sopan, “Kalau begitu silakan beristirahat. Saya akan mengundurkan diri terlebih dahulu. Senang bercakap-cakap dengan kalian.”


Lian Huanran dan Long Yuan menanggapi dengan menganggukkan kepalanya, lalu Thea pun pergi.


Kakek tua itu berteriak, “Hua! Tolong bantu bersihkan cangkir-cangkir teh!”


Lian Huanran langsung berkata, “Tidak perlu. Biar saya dan Yuan yang membereskannya.”


Kakek tua segera menampakkan reaksi menolak dan berkata, “Tidak, tidak perlu. Bagaimanapun saya adalah tuan rumah, saya harus menyambut tamu dengan baik dan sopan.”


Sebelum Lian Huanran dapat menjawab, Hua yang seluruh tubuhnya gemetaran, berlari dengan kecepatan tercepatnya dan mengambil cangkir-cangkir yang berisi teh yang sudah dingin secepat kilat. Lalu Hua meletakkannya di nampan dan berlari kembali ke tempatnya berada sebelumnya.


Lian Huanran menelan kembali kata-katanya ke dalam tenggorokannya. Sementara Lian Haocun yang sangat jarang berbicara, menyuarakan pujian, dengan nada yang terdengar sangat dingin, “Hua benar-benar anak yang rajin. Kepala desa harus memperlakukannya dengan baik.”


Kakek tua itu menganggukkan kepalanya dan berkata dengan nada bangga, “Tentu.”


Lalu kakek tua itu membimbing Lian Haocun dan kelompoknya ke tempat yang hanya berjarak beberapa centimeter dari ruang tamu. Tempat itu memiliki alas jerami dan satu lampu minyak yang terlihat sangat kuno.


Kakek tua itu menjelaskan, “Ini bisa dijadikan ruang kalian bermalam. Mungkin kalian harus sedikit berdempet-dempetan, apakah itu tidak masalah?”


Lian Huanran dan Long Yuan menggelengkan kepalanya bersamaan.


Mendapatkan jawaban dari Lian Huanran dan Long Yuan, kakek tua menganggukkan kepalanya ke arah mereka, lalu berkata, “Baiklah. Kalau begitu silakan beristirahat. Ini sudah malam, jadi saya juga harus beristirahat.”


Lian Huanran mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada kakek tua tersebut. Lalu kakek tua beserta lampu minyak di tangannya, pergi dan menghilang ke dalam kegelapan. Tanpa siapapun yang berbicara, suasananya menjadi agak sedikit menakutkan dan horror. Lian Huanran mengabaikan ketakutan yang sudah ada sejak hari mulai gelap dan dengan lembut mengendong Bai dan Cheng.


Dengan Bai dan Cheng yang terlihat cukup lelah di gendongan Lian Huanran, Lian Huanran duduk di alas jerami dan meletakkan Bai dan Cheng yang cukup lelah di alas jerami. Tindakannya menghangatkan hati semua orang, kecuali Lian Haocun. Lalu Lian Huanran juga berbaring dan tidak lama kemudian, terlelap dan menuju ke alam mimpi. Long Yuan mengikuti Lian Huanran dan berbaring menutup mata di samping Lian Huanran.


Meski Lian Huanran tidur begitu nyenyak, Lian Haocun bisa melihat kerutan kening Lian Huanran yang Lian Haocun duga karena tidak nyaman. Bagaimanapun mereka sebelumnya tidak pernah tidur di atas alas jerami yang sangat sederhana. Ditambah udara di tempat tersebut cukup dingin, meski itu tidak berpengaruh banyak kepada Golden Core Formation stage.


'Maaf.' Batin Lian Haocun di dalam pikirannya.


'Tapi ini diperlukan untuk mendapatkan informasi.' Lanjut Lian Haocun di dalam hati.


Tentu sebelum berkata seperti itu, Chao Bence sudah memasang pelindung di sekitar mereka, agar suara percakapan mereka tidak bisa didengar oleh orang di luar pelindung.


Shui Zuo berkata, “Aku tidak mendapatkan informasi apa pun dari gestur dan gerak gerik mereka.”


Lian Haocun, “Dari gerak-gerik tubuh mereka, mereka benar-benar tanpa celah.”


Shui Zuo menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Lian Haocun.


Sedangkan Chao Bence segera menyadari implikasi lain dari perkataan Lian Haocun, “Apa master mendapatkan sesuatu?”


Lian Haocun, “Iya. Aku memperhatikan tatapan dan gerak gerik Hua. Dia tidak takut kepada kita, tapi kepada Kakek tua itu.”


Chao Bence terlihat agak terkejut begitu pula dengan Shui Zuo.


Shui Zuo bertanya memastikan, “Dari mana kau tau hal ini?”


Lian Haocun, “Tatapan matanya kepada kakek tua itu.”


‘Wenhuan, murid yang kau pilih benar-benar luar biasa.’ Batin Shui Zuo merasa terkejut saat mengetahui bahwa Lian Haocun bisa membaca emosi di tatapan orang lain.


Chao Bence mengajukan pertanyaan sarkas, “Kenapa dia takut dengan kakek tua itu? Dia terlihat renta dan sangat lemah. Bahkan tidak ada aura kepemimpinan yang seharusnya dimiliki seorang kepala desa.”


Shui Zuo menjawab, “Entahlah... Tapi ini bisa jadi berhubungan dengan apa yang terjadi di Desa Thano.”


Chao Bence mengangguk. Lalu Lian Haocun, Chao Bence dan Shui Zuo berbaring di alas jerami yang sebenarnya tidak terlalu nyaman untuk tidur. Lian Haocun yang sudah terbiasa tidur di alas jerami, tidak merasa tidak nyaman namun ia tidak tertidur. Lian Haocun hanya menutup matanya sambil berkultivasi dalam posisi tidur.


Saat larut malam, Chao Bence, Lian Haocun dan Shui Zuo yang sebenarnya tidak tertidur sama sekali dan hanya menutup mata, mendengar suara-suara berbisik yang tidak terlalu keras.


Jika Lian Huanran terbangun saat ini, dia mungkin akan mulai menjerit ketakutan, karena hal tersebut sangat menakutkan. Ditambah suasana hening tanpa suara yang sangat mendukung suasana horror.


Tetapi ini adalah Lian Haocun, Chao Bence dan Shui Zuo. Mereka bertiga bangkit tanpa mengeluarkan suara dan saling bertatapan. Dengan suasana hening yang mencekam, Lian Haocun, Chao Bence dan Shui Zuo menajamkan indra pendengaran mereka untuk mendengarkan bisikan-bisikan tersebut lebih jelas.


Terdengar suara kakek tua yang sangat familier di telinga Lian Haocun bersama suara seorang perempuan muda.


"Besok ya... Akhirnya kita tidak perlu mengorbankan apa pun untuk bulan ini. Setidaknya kita bisa aman sampai sebulan ke depan." Kata kakek tua yang merupakan kepala desa tersebut.


Lalu terdengar suara perempuan muda yang persis mirip dengan Thea, menjawab, "Iya.. Tapi bagaimana cara kita membuat mereka ke tempat tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan?"


Kakek tua itu menjawab, "Tenang! Aku sudah memiliki caranya. Tidak perlu khawatir... Hehehe!"


Mereka bercakap-cakap cukup lama, tetapi informasi yang terkandung di percakapan setelahnya sangat tidak penting. Jadi Lian Haocun mengabaikannya dan mulai membentuk spekulasi-spekulasi di pikirannya. Begitu juga dengan Chao Bence dan Shui Zuo, mereka bertiga sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tetapi mereka sudah menentukan solusinya tanpa berdiskusi.


‘Satu-satunya cara, tentu, mengancam agar mulut mereka terbuka kan.’ Batin Chao Bence sambil tertawa di dalam hatinya. Chao Bence merasakan perasaan tidak sabar dan bersemangat untuk apa yang akan terjadi keesokan harinya.


Setelah bercakap-cakap hampir tiga puluh menit, lelaki tua itu dan Thea berpisah. Dengan cepat, Lian Haocun, Chao Bence dan Shui Zuo kembali ke tempat mereka masing-masing dan berpura-pura tertidur.


Tidak lama kemudian Kakek tua dengan lampu minyak di salah satu tangannya, berjalan pelan ke arah Lian Haocun dan kelompoknya, lalu ia tersenyum senang bak menatap makanan untuk persembahan.