The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 41 — Babak Ketiga Konferensi Daffodil (5)



Lian Haocun menjawab, “Kita akan beristirahat. Apa kau kedinginan?”


Lian Haocun tidak merasa dingin, namun dia menghawatirkan Lian Huanran tanpa dia sadari. Lian Huanran menggelengkan kepalanya lalu mulai menutup mata. Dengan cepat Lian Huanran pergi ke alam mimpi.


Suasana menjadi sunyi, Chao Bence yang sedari tadi banyak berbicara menutup mulutnya rapat-rapat sementara Lian Haocun mulai berkultivasi.


Chao Bence yang tidak bisa mengajak berbicara siapa pun juga mulai menutup mata, akan tetapi Chao Bence sangat waspada sehingga jika ada pergerakan berbahaya di sekitar, ia akan bisa menanganinya.


Malam berlalu dengan damai. Bulan mulai digantikan oleh matahari yang terbit dari Timur. Lian Huanran bangun cukup pagi dan mulai bersiap memasak. Chao Bence yang sebenarnya tidak tertidur sama sekali segera mengganggu Lian Huanran yang sedang sibuk memasak.


Sementara Lian Haocun tetap berkultivasi tanpa memedulikan keributan di sekitarnya.


Setelah makanan siap, Lian Haocun yang berkultivasi membuka matanya dan ikut makan dengan Lian Huanran dan Chao Bence. Lian Haocun dan Lian Huanran memulihkan banyak tenaga dan Qi Spiritual melalui daging binatang ajaib yang memiliki banyak nutrisi.


Lalu Lian Haocun, Lian Huanran dan Chao Bence segera menuju ke atas dengan bantuan Chao Bence.


Dari atas, Ngarai Mortinta terlihat masih diselubungi oleh kabut tebal. Lian Huanran bertanya, “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”


Chao Bence mengalihkan pandangannya ke Lian Haocun yang tidak berekspresi sepanjang waktu.


Lian Haocun menjawab, “Mencari lebih banyak simbol. Lalu temukan Tang Yelu dan Wu Shilin. Dan, kau,”


Lian Haocun mengalihkan pandangannya dari Ngarai ke Chao Bence dan memperingatkan Chao Bence,


“Jangan ikut campur dengan pertarungan kami. Kecuali nyawa kami dalam bahaya yang fatal.”


Chao Bence menjawab dengan nada bercanda, “Baiklah... Baiklah... Toh untuk bisa memenuhi permintaanku, kalian harus menjadi lebih kuat. Tidak mungkin bukan, aku menghalangi kalian...”


Lian Haocun tidak memperhatikan Chao Bence lagi dan mulai berjalan menjauh dari Ngarai Mortinta.


Lian Haocun dan Lian Huanran berjalan menuju ke arah Barat diikuti dengan Chao Bence.


Setelah berjalan hingga beberapa menit sambil terkadang memusnahkan binatang ajaib dalam perjalanan, tiba-tiba burung-burung gagak beterbangan seakan mencoba menjauh dari sesuatu serta memberikan peringatan.


Sedangkan Chao Bence menyeringai lebar entah kenapa. Lian Huanran yang sedang berbicara dengan Chao Bence melihat Chao Bence menyeringai, entah kenapa hatinya dipenuhi firasat yang tidak mengenakkan.


Benar saja, geraman binatang ajaib terdengar dari atas pohon. Lalu sesosok macan tutul berkulit oranye-kekuningan dengan bintik-bintik hitam di seluruh tubuhnya menerjang ke tanah tepat di tempat Lian Haocun berdiri sebelumnya.


“Untungnya Kakak memiliki refleks yang bagus. Kalau tidak, mungkin Kakak sudah remuk oleh berat badan macan tutul itu.” Syukur Lian Huanran sambil menghela nafas lega.


Sementara Chao Bence sudah menghilang entah ke mana, sepertinya ia sedang mencari atau bahkan sudah menemukan tempat untuk menonton pertarungan.


Macan tutul itu adalah binatang ajaib tingkat empat yang setara dengan Foundation Building stage 9. Bukan hanya itu macan tutul dikenal dengan keunggulannya dalam kecepatan.


Lian Haocun merasa ada yang aneh, menurut buku yang ia baca, macan tutul merupakan binatang ajaib yang aktif berburu di malam hari.


Macan tutul segera menyerang Lian Haocun sambil berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain. Karena macan tutul yang terlalu cepat, dalam waktu singkat tubuh Lian Haocun dipenuhi goresan-goresan dari cakar macan tutul yang lumayan tajam.


Sementara itu Lian Huanran mulai menyerang macan tutul dengan teknik panah api merah walaupun tidak ada satu pun yang mengenai macan tutul karena kecepatan macan tutul mengelak terlalu cepat. Hal ini membuat Lian Huanran merasa rendah diri lagi.


Mata Lian Haocun maupun Lian Huanran tidak bisa mengikuti macan tutul sama sekali. Lian Huanran merasa agak panik di hatinya apalagi luka-luka kecil di tubuh Lian Haocun meningkat terus-menerus.


Lian Haocun memutuskan bahwa menggunakan pedang tidak akan berguna banyak, jadi ia menggunakan elemen apinya. Seketika suhu di sekitar menjadi lebih tinggi.


Chao Bence yang menonton di kejauhan agak terkejut, dia tidak mengetahui bahwa elemen Lian Haocun telah bangkit pasalnya saat Lian Haocun dan Lian Huanran mencoba menembus pelindung tidak terlihat Chao Bence, mereka tidak menggunakan elemen sama sekali, tapi setelah memikirkannya Chao Bence merasa bahwa itu wajar,


‘Bagaimana pun mereka adalah keturunan dari ras kuno yang sudah punah itu.... Tidak mungkin mereka akan menjadi ‘biasa-biasa’ saja.’


Macan tutul yang mengetahui bahwa api Lian Haocun berbahaya, mengubah targetnya ke Lian Huanran yang berada di dahan pohon. Dengan cepat, macan tutul menerjang ke arah Lian Huanran yang berada di ketinggian cukup tinggi.


Lian Huanran merasa panik namun dia segera mencoba melindungi dirinya dengan menyelimuti tubuhnya menggunakan Qi Spiritual alhasil Qi Spiritual Lian Huanran sangat terkuras.


Namun itu terbukti berguna karena tubuh kecil Lian Huanran tidak remuk di bawah terjangan macan tutul jantan, tapi beberapa luka-luka dan memar terlihat di tubuh Lian Huanran dan tubuh Lian Huanran memiliki beberapa debu dengan daun-daun hijau dari pohon yang membuatnya terlihat agak kotor.


Semua itu terjadi dalam beberapa detik saja sehingga Lian Huanran tidak bisa bereaksi terhadap serangan macan tutul yang bisa dibilang sangat cepat. Apalagi Lian Huanran bukanlah Lian Haocun yang memiliki kecepatan relfeks yang 'gila'.


Lian Haocun bergegas ke arah Lian Huanran dan mengeceknya, hatinya dipenuhi perasaan khawatir yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.


Sementara macan tutul yang menghilang sesaat setelah berhasil menerjang Lian Huanran sudah mulai menyerang Lian Haocun lagi, tidak memberi Lian Haocun waktu istirahat sedikit pun.


Lian Haocun yang merasa kesal mulai mencari cara di dalam pikirannya untuk mengalahkan macan tutul, karena ia tidak memiliki serangan area ataupun cara untuk membuat macan tutul tidak bisa bergerak, Lian Haocun tidak dapat menemukan cara apa pun.


‘Apa elemen api tidak bisa menjadi serangan area?’ Batin Lian Haocun, sebelumnya Lian Haocun tidak memiliki waktu untuk bereksperimen dengan elemen apinya sehingga ia tidak mengetahui cara menggunakan elemen apinya dengan benar.


Lian Haocun mencoba membiarkan elemen api yang berada di dalam tubuhnya meliar. Seketika suhu udara menjadi sangat panas, Lian Huanran yang terluka cukup berat berkeringat karena panas yang tidak tertahankan.


Sementara macan tutul mencoba menjauh dari Lian Haocun dan Lian Huanran karena panas namun Lian Haocun tidak membiarkannya sama sekali. Lian Haocun dengan cepat sampai ke tempat macan tutul dan menggunakan gerakan pertama Gulungan Gerakan Teratai Biru.


Macan tutul juga mencoba menyerang Lian Haocun, namun Lian Haocun tiba-tiba menghilang dan macan tutul kehilangan Lian Haocun.


Segera tubuh macan tutul memiliki beberapa luka-luka. Qi Spiritual yang tajam dan kuat mengalir melalui setiap tusukan yang mendarat di tubuh macan tutul terutama di bagian keempat kaki macan tutul. Hal tersebut membuat kecepatan macan tutul berkurang drastis.


Macan tutul yang awalnya meremehkan lawannya karena di permukaan Lian Haocun dan Lian Huanran hanya seperti Foundation Building stage 1 merasa semakin marah.


Macan tutul segera melepaskan tekanan binatang ajaib tingkat empat yang ditujukan pada Lian Haocun dan Lian Huanran. Tekanan itu tidak terlalu berpengaruh besar pada Lian Haocun dan Lian Huanran, bagaimanapun kemarin mereka baru saja merasakan tekanan binatang ajaib tingkat delapan.


Empat orang yang awalnya bersembunyi dari jauh sambil menonton pertarungan Lian Haocun dan Lian Huanran keluar dari tempat persembunyiannya karena menurut keempat orang tersebut, situasi Lian Haocun dan Lian Huanran unggul dari macan tutul. Tepuk tangan yang keras terdengar di siang hari yang hangat.