The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 136 — Misi Tingkat C (6)



Suasana menjadi hening sejenak, sebelum suara anak kecil itu kembali terdengar. Dari nada suaranya, Lian Haocun bisa mengetahui bahwa anak kecil tersebut agak ragu-ragu.


“Tapi…, penampilanku sangat buruk… Kakak-kakak pasti tidak akan menyukainya!”


Tanpa perubahan dalam ekspresinya, Lian Haocun berkata, “Tidak perlu khawatir, kami tidak memedulikan seperti apa penampilan mu, tapi untuk memulai permainan, kita harus mengenal satu sama lain di terlebih dahulu.”


Anak kecil, “…” Apa kakak ini sedang menghiburku? Tapi…, apa itu ekspresi wajah orang dewasa yang sedang menghibur anak-anak?


Setelah berpikir sejenak, akhirnya anak kecil tersebut memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Lian Haocun bisa melihat, sosok anak kecil diselimuti aura hitam yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Anak kecil itu memiliki tinggi seperti anak berusia lima sampai enam tahun, dan memiliki luka di kepalanya. Luka tersebut tampak seperti luka jatuh dari ketinggian. Lian Haocun bisa melihat, darah dari luka tersebut sudah mengering.


Lian Huanran yang penasaran, mengintip sekilas, dan langsung kembali bersembunyi. Pasalnya, pemandangan anak kecil dengan luka di kepalanya dan tanpa dua bola mata, sangat menyeramkan dan menakutkan! Rongga mata anak kecil tersebut kosong, seakan-akan, matanya di cabut dengan paksa dari tempatnya!


Lian Haocun sama sekali tidak takut dengan penampilan menyeramkan dari roh anak kecil di hadapannya, ia bahkan mengamati pakaian yang dikenakan anak tersebut, dandari pengamatan singkatnya, Lian Haocun menyimpulkan bahwa anak kecil itu berpakaian seperti anak orang yang sangat berkecukupan. Namun, Lian Haocun tidak tergesa-gesa menanyakan apa yang terjadi kepada anak kecil tersebut.


Lian Haocun, “Bagaimana kau ingin bermain?”


Dengan nada senang dan bersemangat, anak kecil tersebut menjawab, “Kalian akan mencariku! Sedangkan aku akan bersembunyi! Permainannya hanya di ruangan ini. Tidak masalah kan, kak?”


Masih tanpa ekspresi, Lian Haocun menganggukkan kepalanya, sementara Lian Huanran yang berada di belakangnya, tampak sangat takut dan cemas. Lian Haocun membalikkan setengah badannya, dan menundukkan kepalanya sehingga menghadap ke adik kembarnya. Lalu Lian Haocun berkata, “Tenanglah, kakak akan melindungimu.”


Lian Huanran yang masih gemetaran, berkata dengan terbata-bata, “Tapi…, tapi…,”


Lian Haocun mengelus kepala Lian Huanran untuk menenangkannya, lalu beralih ke roh anak kecil yang masih tampak sangat bersemangat. Kemudian Lian Haocun berkata, “Kami siap.”


Roh anak kecil itu tersenyum lebar, pertanda ia sangat menantikan permainan ini. Meski di mata Lian Huanran, senyum lebar roh anak kecil tersebut sangat menakutkan, karena sontak, Lian Huanran membayangkan senyuman hantu yang memiliki benang tipis membentuk zig-zag di antara kedua bibirnya. Membayangkan itu, bulu kuduk Lian Huanran berdiri.


Kemudian, roh anak kecil tersebut menghilang perlahan-lahan dan meninggalkan butiran-butiran asap hitam.


Lian Huanran bertanya, “Apa kita benar-benar harus mencarinya di seluruh ruangan ini?”


Lian Haocun menggelengkan kepalanya dan tanpa diduga, dengan elemen apinya, Lian Haocun membuat bola-bola api kecil! Lian Haocun masih bisa mengingat dengan jelas, terkadang sebelum pertarungan tidak manusiawi tersebut dimulai, akan diadakan ‘atraksi’ untuk menyenangkan penonton. Lian Haocun berniat menggunakan atraksi ini untuk memancing roh anak kecil untuk keluar dari persembunyiannya.


Lian Haocun memutar enam bola api yang dibuatnya dengan kecepatan tinggi! Sehingga, tampak lingkaran api bersinar yang berputar sangat cepat. Lian Huanran melihat apa yang dilakukan Kakaknya, merasa sangat takjub, bahkan mata Lian Huanran berbinar layaknya anak kecil.


Tidak sampai di situ, Lian Haocun tiba-tiba melemparkan tiga bola api ke atas! Seketika, suara, ‘Duarrrr’ beriringan terdengar. Kembang api yang sangat indah, tampak di langit-langit ruangan tersebut.


Lian Huanran melupakan semua ketakutannya dan fokus memperhatikan apa yang dilakukan Kakaknya. Dalam hati, berkali-kali, Lian Huanran melontarkan pujian atas pemandangan yang dilihatnya. Lian Haocun melakukan beberapa atraksi menarik lainnya sampai roh anak kecil itu muncul di hadapan Lian Haocun dan Lian Huanran.


Roh anak kecil melontarkan pujian, “Indahnya! Bagaimana Kakak bisa membuat hal seperti itu?”


Meski anak kecil tersebut tidak memiliki bola mata, Lian Haocun bisa mengetahui bahwa jika roh anak kecil tersebut memiliki mata, mereka akan berbinar layaknya bintang terang. Tapi, dengan nada datar, Lian Haocun berkata, “Kau tertangkap.”


Roh anak kecil, “…”


Lian Huanran yang masih kagum dengan pemandangan menakjubkan yang dilihatnya sebelumnya, tidak memedulikan roh anak kecil yang muncul di hadapannya. Pasalnya, di kepala Lian Huanran, tiga kembang api di langit tadi, terpatri dan terulang terus-menerus di kepalanya.


Sementara, Lian Haocun berkata, “Sebagai ganti pertunjukkan yang ku tunjukkan sebelumnya, kau harus mengatakan, alasanmu mengganggu orang-orang di Kota Andan setiap malam.”


Ekspresi anak kecil tersebut menjadi gelap, ia tampak marah.