The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 200 – Tes: Diri-nya Sendiri (4)



Lian Haocun yang mengetahui hal tersebut, langsung berlari ke tempat ‘mini Lian Haocun' setelah mendapatkan informasi mengenai arena tempat ‘mini Lian Haocun' bertarung. Lebih tepatnya, setelah ‘memalak' informasi dari penjaga yang mencoba kembali merantainya.


Dengan kecepatan yang luar biasa, Lian Haocun berhasil tiba di arena tersebut hanya dalam hitungan detik, namun sayangnya Lian Haocun mengetahuinya terlambat, pertarungan sudah dimulai beberapa menit yang lalu, meski Lian Haocun tidak mendengar adanya suara pertarungan.


Karena hal itu pula, kecemasan Lian Haocun diredakan dan sesuai dugaan Lian Haocun, apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Akan tetapi, ketika Lian Haocun datang, ia melihat sosok pria di hadapan ‘mini Lian Haocun' menusukkan belati-nya ke jantungnya sendiri! Sontak mata Lian Haocun membulat terkejut, sementara reaksi ‘mini Lian Haocun' tampak lebih buruk.


Jantung Lian Haocun berdegup kencang, dan terasa sedikit sesak. Ia bisa mengingat siapa pria di hadapan ‘mini Lian Haocun’. Dia adalah sosok yang membuat ada-nya sosok Lian Haocun saat ini, dan secara tidak langsung penyelamat dalam hidup Lian Haocun. Lian Haocun tidak menyangka akan bisa melihat sosok pria itu lagi dalam hidupnya, namun sayangnya, sebelum ia mengucapkan terima kasih, pria tersebut sudah pergi terlebih dahulu.


Sementara ‘mini Lian Haocun' memiliki perasaan yang sangat rumit ketika melihat mayat orang yang ia temui pertama kalinya, namun mengorbankan hidupnya untuknya. Di sisi lain, ‘mini Lian Haocun’ merasa bingung dengan tindakan pria tersebut, pasalnya, tidak akan ada yang peduli apakah dirinya hidup ataupun mati, bahkan meski tidak mati saat ini, ‘mini Lian Haocun’ yakin, ia akan mati di pertarungan selanjutnya.


Bagaimanapun, meski ‘mini Lian Haocun’ berhasil mengalahkan seekor singa, ia tetaplah hanya seorang anak kecil yang tidak bisa bertarung, mau pun membela dirinya sendiri. Sudah bisa dipastikan anak kecil seperti itu seperti anak ayam yang menunggu untuk disembelih.


Ingatan sebelum pria tersebut dibawa pergi oleh malaikat maut berputar di benak ‘mini Lian Haocun’, pria itu berkata, “Kuharap dunia yang kejam ini, tidak akan pernah menodai matamu yang 'bersinar'...”


Suara pria itu semakin melemah di akhir kalimatnya, pertanda ia sudah mau dibawa ‘pergi’, namun kata-kata pria itu terus terngiang-ngiang di kepala ‘mini Lian Haocun'. Di saat bersamaan, pertanyaan-pertanyaan seperti,


'Apa maksudmu? Ku tidak memiliki mata yang bersinar.'


‘Kenapa kau menyelamatkanku?’


‘Bukankah pengorbananmu sia-sia? Toh, aku pasti akan mati di pertarungan selanjutnya...’


‘Aku juga tidak berguna, ku hanya beban bagi orang-orang di sekitarku, jadi, bukankah tidak masalah mau aku mati ataupun hidup?’


‘Makanya, kenapa..., kau mengorbankan hidupku untukku yang lebih baik tidak pernah dilahirkan ini?’


‘Mini Lian Haocun’ merasa ingin menangis, dan menyuarakan segala pertanyaan membingungkan di benaknya. Sedari kecil, ia tidak pernah dihargai sebagai seorang manusia, ibunya yang melahirkannya selalu mengatakan kalau ‘mini Lian Haocun' adalah sebuah kesalahan, tanpa ‘mini Lian Haocun' hidup-nya pasti akan sempurna.


Bukan hanya itu, dirinya tidak diperlakukan sebagai seorang anggota keluarga sama sekali, ibu-nya selalu memaksanya membersihkan rumah setiap hari, dan bahkan sering lupa memberinya makanan. Sehingga ‘mini Lian Haocun' sering harus mencari makanan sendiri di tempat sampah yang berada di luar rumah, atau bertahan dengan perut lapar hingga keesokan harinya dengan harapan mendapatkan makanan.


Tentunya, tidak jarang sang ibu memukul, memaki, menganiaya ataupun mencoba membunuh ‘mini Lian Haocun'. Hal tersebut dikarenakan, sang ibu membutuhkan pelampiasan stress. Sementara, ketika ‘mini Lian Haocun’ menangis, memohon pengampunan, ataupun memohon makanan untuk mengisi perutnya, ibunya akan selalu meneriaki atau memaki ‘mini Lian Haocun’ dengan kasar, lalu mengusir ‘mini Lian Haocun’ selama sehari, tidak sekali dua kali ‘mini Lian Haocun’ diusir saat hujan sedang turun, dan berakhir sakit.


Sampai saat ia berumur lima tahun, ibunya menjualnya ke bangsawan yang terkenal kejam, dan berhati dingin. Kala mengetahui hal tersebut, ‘mini Lian Haocun' berpikir hidupnya sudah berakhir. Namun sesampainya di sana, ‘mini Lian Haocun' diberi makan hingga kenyang selama beberapa hari. ‘Mini Lian Haocun’ mengingat waktu itu, ia merasakan kehangatan tumbuh di hatinya, berpikir mungkin keluarga bangsawan itu tidak sejahat yang ia dengar, dan bahkan peduli padanya.


Sampai pada hari ‘mini Lian Haocun’ dikirim untuk bertarung di koloseum, ‘mini Lian Haocun' langsung memahami mengapa ia diberi makan hingga kenyang setiap harinya. Perasaan ‘mini Lian Haocun’ waktu itu seperti perasaan sudah diangkat tinggi-tinggi, namun dijatuhkan begitu saja. Ya, meski ia hanya berumur lima tahun, ‘mini Lian Haocun' sudah mengalami berbagai pengalaman tidak mengenakkan, sehingga ia membentuk pemahaman untuk berbagai hal.


Ketika, ‘mini Lian Haocun' berhasil ‘menang’, ia meneteskan air mata, merasakan kehidupan yang berhasil ia lindungi ini, tidak nyata. Akan tetapi, ‘mini Lian Haocun' berhasil, ia berhasil bertahan hidup, namun, ketika ‘mini Lian Haocun' di bawa dalam pertandingan kedua dalam kondisi luka-luka, ia sudah menyerah akan hidupnya. Lawannya adalah seorang pria berbadan kekar yang bersenjata, berapa kemungkinan ‘mini Lian Haocun' berhasil menang dengan tubuh kecilnya yang penuh luka?


Akan tetapi, ‘mini Lian Haocun' tidak menduga sama sekali, pria itu akan mengorbankan dirinya sendiri. ‘Mini Lian Haocun’ yang sudah siap merasakan kematian, tentu sangat terkejut, bingung, dan hampa, ya, hampa, karena ia tidak mengetahui, untuk apa ia hidup saat ini.


Sayangnya, ‘mini Lian Haocun' mau pun pria itu tidak mengetahui, ‘mini Lian Haocun' di masa mendatang, akan melakukan hal besar yang menyelamatkan banyak orang dari koloseum tersebut, namun, kehidupan di koloseum juga membuat ‘mini Lian Haocun’ bertumbuh menjadi sosok berdarah dingin yang kejam, dan tidak peduli kepada nyawa sesamanya.


Setelah memastikan lawan ‘mini Lian Haocun’ meninggal, ‘mini Lian Haocun' dibawa kembali dengan kasar oleh penjaga yang menggerutu mengenai keberuntungan ‘mini Lian Haocun'. Penjaga itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana dampaknya pada mental ‘mini Lian Haocun'. Sosok anak kecil berumur lima tahun itu, harus menanggung beban yang tidak dimiliki anak seumuran-nya.


Lian Haocun menyelinap diam-diam ke sel tempat ia tinggal sebelum ‘mini Lian Haocun' tiba di sel tersebut terlebih dahulu. Tentunya, pria dan laki-laki tua yang menyaksikan tindakan Lian Haocun keluar masuk sel dengan begitu mudahnya, merasakan kejanggalan, dan kerumitan. Begitu pula dengan gladiator-gladiator lainnya, mereka merasakan hal yang sama.


Akan tetapi, anehnya, ketika para gladiator itu ingin berteriak meminta tolong kepada Lian Haocun untuk dibebaskan, kekuatan tidak terlihat membekap mulut mereka, dan memaksa mereka untuk diam sambil meronta-ronta. Ya, itu juga terjadi kepada laki-laki tua, serta pria yang mencoba mengajak Lian Haocun berbicara.


Tidak lama kemudian, ‘mini Lian Haocun’ yang di bawa oleh penjaga koloseum, dimasukkan ke dalam sel. ‘Mini Lian Haocun’ tidak tampak sedih, maupun terlihat habis menangis. Namun, Lian Haocun yang pernah mengalami hal yang sama dengan ‘mini Lian Haocun' mengetahui bagaimana kira-kira perasaan ‘mini Lian Haocun’ saat ini.


Memikirkan itu, tanpa disadari Lian Haocun, tangannya bergerak sendiri untuk mengelus kepala ‘mini Lian Haocun'. Rambut pirang ‘mini Lian Haocun' terasa lembut. Sontak, jiwa ‘mini Lian Haocun’ kembali ketika merasakan sentuhan di kepalanya. Mata biru ‘mini Lian Haocun’ menunjukkan kebingungan, dan kekosongan yang kuat.


“Kau harus bertahan, setidaknya demi orang yang mengorbankan nyawanya untuk mu.” Ucap Lian Haocun dengan ekspresi dingin, begitu pula dengan nada suaranya, namun entah mengapa ‘mini Lian Haocun' bisa merasakan empati Lian Haocun, seakan-akan ia pernah mengalami hal yang sama dengannya.


‘Mini Lian Haocun’ juga merasakan keinginan yang kuat untuk menangis, namun ia mencoba menahannya, berpikir dirinya harus kuat. Akan tetapi, air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya tanpa bisa dihentikan, di saat bersamaan, ‘mini Lian Haocun’ memeluk erat tubuh Lian Haocun yang hangat.


Lian Haocun langsung membalas dengan memeluknya erat, membiarkan ‘mini Lian Haocun’ mencurahkan perasaannya. Pelukan hangat dan aman Lian Haocun seakan-akan berbicara, ‘Tidak apa-apa, aku mengerti, ku memahami bagaimana rasanya. Menangis sesekali tidak masalah, karena, kau adalah anak yang kuat...’ Dan hal itu membuat perasaan ‘mini Lian Haocun’ semakin meluap-luap. Segala keluhan, kesedihan, kemarahan, dan penderitaan dalam hidupnya selama lima tahun itu, dicurahkan dalam tangisan itu.


Mereka adalah orang yang sama, dan pernah mengalami masa kecil yang sama kejamnya. Sehingga mereka merasakan kedekatan pada satu sama lain tanpa mereka sadari. Karena, bagaimanapun, yang menemani Lian Haocun pada kehidupan pertama, hanya lah ‘diri’-nya sendiri.


...****************...


Halo! Bagaimana chapter kali ini? Apakah itu membuat kalian terharu, atau bahkan menangis?


Ku mau mengucapkan, Selamat Tahun Baru Imlek! Untuk kalian semua pembaca The Journey, meski udah agak telat, ku berharap The Journey bisa mengisi hari-hari kalian.


Terima kasih atas segala dukungannya, sampai jumpa!