The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 178 — Kota Noula : Wabah Penyakit (15)



Melihat kejadian mengerikan di hadapannya, Lian Haocun refleks menutupi mata Lian Huanran. Ia tidak ingin adik kembarnya melihat sesuatu yang mengerikan itu. Bagaimanapun, siapa yang menginginkan adik mereka, melihat penampakan manusia yang dimakan hidup-hidup oleh cacing besar?


Mendengar suara kunyahan yang sangat keras, tentunya Lian Huanran sudah menduga apa yang terjadi. Ia merasa senang dengan perhatian Kakaknya, tetapi di sisi lain ia juga merasa terbebani. Pasalnya, ia tidak ingin terus dianggap sebagai anak kecil oleh Kakaknya, ia ingin bisa membantu dan berguna bagi Kakaknya.


Lian Huanran ingin mengutarakan pikirannya kepada Lian Haocun, tetapi ia tidak ingin memulai perdebatan di saat yang genting ini, sehingga ia mengurungkan niatnya, dan menajamkan indra pendengarannya untuk mengetahui situasi saat ini.


Akan tetapi, tiba-tiba, Lian Haocun membalikkan badan Lian Huanran hingga berlawanan dengan anak cacing yang sedang memakan manusia itu, dan berkata, “Cari tempat di mana kau bisa menyerang dengan leluasa, dan jangan lupa berhati-hati, pasti ada anak cacing lain di sekitar sini.”


Kemudian, Lian Haocun mengeluarkan pedangnya, Jianheng, dan berlari melesat melewati Guan Hong yang menatap anak cacing di hadapannya tajam dan anggota kelompok Guan Hong yang tersisa, yang tampak sangat terkejut, dan sedih, pasalnya, matanya berlinangan air mata, dan ia jatuh terduduk.


Tepat ketika mendengar derap langkah kaki Lian Haocun, Lian Huanran membuka matanya dan membalikkan badan, ia disambut pemandangan yang mengerikan, tetapi mata hijaunya yang indah, tidak menunjukkan ketakutan, hanya ada keteguhan dan ketegasan yang terlihat. Lalu, Lian Huanran berjalan mundur dan mengambil posisi yang cukup aman untuk membantu Lian Haocun menangani cacing besar itu.


Lian Haocun tidak melepaskan kesempatan di saat anak cacing itu sedang sibuk 'makan', dan langsung menyerang anak cacing itu bertubi-tubi! Anak cacing itu tampak sangat terganggu dengan tindakan Lian Haocun dan panah bertubi-tubi dari Lian Huanran, sayangnya, karena tubuhnya yang sedang menyerap nutrisi, ia tidak bisa membalas serangan Lian Haocun. Sehingga, anak cacing itu memilih untuk kabur!


Sedari awal Lian Haocun tidak berniat membunuh anak cacing itu, sehingga ia membiarkan anak cacing itu kabur begitu saja. Lalu, ia berbalik dan berjalan ke arah Lian Huanran. Namun sebelum ia bisa mencapai tempat Lian Huanran, anggota kelompok Guan Hong yang tersisa, menyerangnya dari belakang! Orang yang menyerang Lian Haocun juga merupakan orang yang sama dengan orang yang berdebat dengan Lian Huanran.


Tentunya, Lian Haocun tidak menduga akan diserang, tetapi refleks tubuhnya yang bagus, membuat ia berhasil meminimalisir dampak luka yang bisa saja lebih buruk. Ya, perut Lian Haocun tergores sedikit oleh pedang dari anggota kelompok Guan Hong yang bernama, Yang Mu. Yang Mu tidak berhenti sampai di situ, dan langsung menindaklanjuti dengan menyerang Lian Haocun bertubi-tubi!


Sementara, Lian Huanran ingin membantu Lian Haocun, akan tetapi, Lian Haocun yang sudah mengetahui pemikiran adiknya itu berteriak supaya suaranya terdengar, “Tidak perlu memedulikan ku, aku akan segera menyelesaikan ini, carilah jalan lain untuk menemukan Cacing Iblis Beranak, lalu kembalilah ke sini!”


Lian Huanran tidak menyangka akan diberikan misi seperti itu oleh Lian Haocun, apalagi di saat seperti ini. Karena kepercayaan mutlaknya kepada Kakaknya di situasi-situasi genting, Lian Huanran langsung pergi mencari jalan untuk menuju ke Cacing Iblis Beranak.


Setelah Lian Huanran pergi, Lian Haocun mulai mengamati lawannya saat ini, yang ia sendiri tidak ketahui namanya. Matanya sembab dan masih mengeluarkan tangisan, pipinya tampak merah karena amarah. Sepertinya ia sangat marah dengan kematian salah satu temannya tadi.


Sambil terus menyerang Lian Haocun, meski serangannya ditangkis terus menerus, Yang Mu akhirnya membuka mulutnya dan berteriak, “Ini salahmu! Kalau kami yang berjalan di depan, pasti dia tidak akan mati! Kalau.., kalau kau tidak memilih lorong ini di antara persimpangan lorong lainnya, nasibnya mungkin akan berbeda! Ini salahmu!”


Ekspresi wajah Lian Haocun tetap tenang, meski mendengar pernyataan-pernyataan Yang Mu yang benar-benar sangat tidak tau malu.


Tangan Lian Haocun pun tetap tidak berhenti untuk menangkis serangan bertubi-tubi dari Yang Mu. Dari sikapnya saat ini, Lian Haocun mengetahui kalau Yang Mu sudah terbiasa menyalahkan orang lain, dan meninggikan posisinya sendiri.


Lian Haocun sedang memikirkan solusi terbaik untuk masalah ini, tetapi tiba-tiba, Yang Mu yang selama ini hanya menyerang dengan pedangnya, melompat mundur dan mengambil tindakan yang tampak tidak biasa. Ya, dia sedang bersiap untuk menggunakan salah satu gerakan pedangnya!