The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 142 — Misi Tingkat C (12)



Seketika, ekspresi wajah Nakato Yuji menjadi tegang. Ia tampak gelisah, cemas dan takut. Bagaimanapun tatapan tajam Lian Haocun saja sudah bisa menakuti orang dewasa, apalagi anak kecil berumur delapan tahun seperti Yuji, sudah pasti ia akan kewalahan menghadapi tatapan tajam Lian Haocun.


Masih dengan tatapan tajam yang menusuk tulang, Lian Haocun bertanya, “Kenapa kau terlihat sangat tegang? Kan, bukan kau yang membunuhnya.”


Nakato Yuji langsung bereaksi dengan mencoba merilekskan ekspresi wajah dan tubuhnya, tapi, tentu, semua itu tidak luput dari penglihatan Lian Haocun. Lalu, seperti mendapatkan suatu ide, Nakato Yuji berteriak, “Bukan aku! Aku tidak membunuhnya! Orang itu yang membunuhnya!”


Tubuh gemetaran Nakato Yuji, menambah kesan kalau ia baru saja mengingat kenangan yang mengerikan. Lian Huanran sedikit iba dengan Nakato Yuji, ia berniat menghentikan tindakan Lian Haocun yang bisa dibilang, menindas anak kecil, tetapi, ia sendiri tidak mengetahui pasti, apakah Nakato Yuji berbohong atau berkata jujur, hingga karena itu, Lian Huanran memutuskan untuk berdiam diri di tempat, dan mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sementara Tuan dan Nyonya Nakato tampak bingung dan heran dengan apa yang dilakukan Lian Haocun. Bagaimanapun, siapa yang tidak akan bingung, ketika orang yang membawa kabar putri bungsu mereka sudah tiada menjadi roh, bertanya pertanyaan tidak masuk akal ke anak laki-laki mereka. Ditambah selama percakapan tadi, mereka tidak merasa kalau Lian Haocun berniat buruk, sehingga mereka tidak bisa bereaksi dengan apa yang terjadi.


Dengan nada dingin dan tenang, Lian Haocun berkata, “Kalau begitu siapa yang membunuhnya? Bagaimana kau bisa mengetahui kalau dia yang membunuhnya?”


Seketika, Nakato Yuji terdiam. Ia benar-benar bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Lian Haocun. Tidak menemukan jawaban yang tepat, Nakato Yuji hanya bisa berteriak sambil berlari ke arah ayah dan ibunya, “Aku tidak mau menjawab! Pergi!”


Tentu, Lian Haocun menyadari bahwa Nakato Akami ingin mengusir mereka, tetapi ia tidak mundur sama sekali, dan malah berkata, “Kalau begitu, bagaimana kalau kukatakan putramu lah yang membunuh putri bungsumu?”


Nada Lian Haocun sangat tenang, seakan-akan ia tidak mengetahui kalau perkataannya merupakan bom bagi Nakato Akami dan Nakato Mai.


Dengan sikap elegan, Nakato Mai berteriak marah, “Cukup! Apa buktimu mengatakan Yuji membunuh Rie!? Saat Rie menghilang, Yuji sedang tidur! Bagaimana kau bisa mengatakan kebohongan besar seperti ini dengan wajah tenang!?”


Tidak peduli dengan kemarahan Nakato Mai mau pun Nakato Akami, Lian Haocun melanjutkan menambahkan api, “Kenapa kalian tidak bertanya sendiri kepada-nya? Apakah itu kebohongan, atau kenyataan? Ditambah, kalau itu merupakan kebohongan, kenapa ia tidak memberitahu kita siapa yang membunuh Nakato Rie sebenarnya?”


Nakato Mai yang berniat berteriak marah lagi, membeku di tempat. Sisi rasionalnya, mengatakan kalau apa yang dikatakan Lian Haocun sangat masuk akal, tetapi sisi emosionalnya, mengatakan hal-hal yang jauh berlawanan. Begitu pula dengan Nakato Akami, ia sama bingungnya dengan Nakato Mai.


Bagaimanapun, mereka tetap merupakan orang tua. Mereka menyayangi Nakato Rie, dan tentu juga menyayangi Nakato Yuji. Apalagi, menghilangnya Nakato Rie, membuat perhatian mereka berdua terpusat pada Nakato Yuji setiap harinya, mereka tidak ingin, satu-satunya anak laki-laki mereka juga menghilang tanpa jejak.