The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 35 — Masalah Lian Huanran



Suasana hening terjadi di kamar penginapan itu. Lian Haocun dengan sabar menunggu Lian Huanran mengutarakan tujuannya. Lian Huanran berekspresi sedikit sedih lalu mulai menceritakan permasalahannya,


“Kakak.... Apa seharusnya aku menjadi ahli pedang saja seperti Kakak.... Di pertandingan tadi, aku sama sekali tidak banyak berguna. Apa aku harus berganti senjata?” Ucap Lian Huanran nanar dan matanya menjadi sedikit merah namun tidak ada air mata.


Lian Haocun yang bersender melangkah maju ke arah Lian Haocun dan mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut pirang Lian Huanran, Lian Huanran kaget dengan tindakan Lian Haocun hingga melupakan kesedihannya sejenak.


Lian Haocun berkata, “Setiap senjata memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Senjatamu adalah busur panah, yang merupakan senjata jarak jauh. Arena itu tidak begitu luas seperti hutan, jadi wajar kau tidak leluasa menggunakan panah tambahkan lagi kau tidak menggunakan elemenmu sama sekali dan lawan memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi darimu. Jadi itu wajar.” Kata per kata Lian Haocun yang bernada dingin namun dipenuhi kepercayaan diri dan ketegasan.


Hal tersebut membuat perasaan kacau Lian Huanran yang disembunyikan sejak pertandingan selesai menjadi lebih tenang.


“Untuk menjadi ahli pedang tidak semudah mengatakannya. Apalagi kalau dirimu sendiri tidak suka menggunakan senjata pedang.”


Lian Haocun menjeda perkataannya sebentar lalu melanjutkan dengan nada serius namun dingin yang sangat tidak cocok dengan usianya, “Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain, bandingkan dirimu dengan dirimu di masa lalu.”


Lian Huanran terpana oleh kata-kata Kakaknya, tanpa disadari kepalanya mengangguk dan semangatnya bangkit kembali, “Iya!”


Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, Lian Huanran memeluk Lian Haocun erat. Lian Haocun tidak membalas pelukan Lian Huanran namun dia juga tidak menolaknya. Suasana di kamar penginapan itu menjadi hangat, harmonis dan dipenuhi kasih sayang persaudaraan.


Lian Huanran merasa enggan berpisah dengan saudara kembarnya, sehingga ia memaksa Lian Haocun agar mengizinkannya untuk tinggal di kamar Lian Haocun untuk satu malam.


Lian Haocun yang dipaksa, agak tidak berdaya menghadapi adik laki-lakinya, jadi Lian Haocun hanya bisa menyetujuinya setelah beberapa putaran perdebatan.


Akhirnya Lian Huanran dan Lian Haocun tidak tidur sampai jam empat pagi, karena Lian Huanran merasa sangat bersemangat, celotehannya tidak berhenti sama sekali sehingga Lian Haocun harus mendengarkan celotehan Lian Huanran sepanjang malam.


Terkadang Lian Haocun menanggapi dengan mengangguk atau bergumam singkat. Meski Lian Haocun merasa sedikit rasa kesal di hatinya karena diganggu waktu berkultivasi dan tidurnya, Lian Haocun merasa bahwa mengobrol sepanjang malam dengan Lian Huanran tidak buruk, rasanya tidak sepi dan sunyi seperti biasanya.


Tanpa disadari Lian Haocun sendiri, dia mulai terbuka dengan orang lain dan menjadi lebih manusiawi dari sebelumnya.


Ketika menuju ke lantai dasar penginapan untuk berkumpul, Lian Huanran terlihat lesu dan kekurangan tidur sehingga mau tidak mau Tang Yelu yang tertidur nyenyak semalam bertanya kepada Lian Huanran dengan suara yang hanya bisa didengar mereka berdua,


“Apa kemarin kau tidak tidur?”


Lian Huanran mengangguk sebagai tanggapan dan menyebutkan apa yang terjadi kemarin malam, “Aku mengobrol dengan Kakak hingga pagi.”


Lalu Tang Yelu segera mengalihkan pandangannya kepada Lian Haocun yang bahkan tidak terlihat lesu sedikit pun dan seperti biasanya, hingga mau tidak mau di dalam hatinya ia meragukan perkataan Lian Huanran.


Kemudian mereka melanjutkan mengobrol sehingga ketiga penatua datang.


Shen Wenhuan, Penatua Hong dan Penatua Rong tidak menanyakan apa pun ataupun menginterogasikannya kepada Lian Huanran yang terlihat tidak tidur, meski terkesan tidak peduli, Lian Huanran lebih merasakan kebebasan dalam melakukan sesuatu.


Bagaimanapun itu hanya begadang semalam, asal itu tidak mempengaruhi pertandingan, itu tidak masalah. Lalu mereka segera berangkat ke Konferensi Daffodil untuk pertandingan babak ketiga.


Ketika kelompok Sekte Langit Biru tiba, sudah ada banyak orang di Konferensi Daffodil. Tidak sedikit dari mereka yang segera berdiskusi ketika melihat Tang Yelu, Lian Haocun dan Lian Huanran sementara Luo Bowen dan Chun Ming yang ikut datang untuk menonton diabaikan begitu saja.


Kelompok Sekte Langit Biru yang terdiri dari tiga penatua dan lima murid itu segera menuju ke tempat khusus untuk Sekte Langit Biru.


Setelah sekitar sepuluh menit, Konferensi Daffodil sudah hampir dipenuhi oleh penonton dari berbagai ras dan saat itu juga Pembawa Acara memunculkan dirinya secara misterius,


“Halo, para tuan dan nona penonton sekalian. Mari kita mulai Konferensi Daffodil babak ketiga! Apakah semua peserta yang ikut sudah hadir!? Kuharap begitu. Baiklah aku akan segera menjelaskan mengenai babak ketiga.”


Berbagai diskusi terjadi di area penonton, menebak seperti apa babak ketiga. Pembawa Acara sengaja menjeda sejenak untuk membuat suasana menjadi tegang dan meriah sebelum melanjutkan, “Babak ketiga adalahhhh..... Bertahan hidup di hutan!”