The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 40 — Babak Ketiga Konferensi Daffodil (4)



Lalu Chao Bence melepaskan tekanan pada Lian Haocun dan Lian Huanran sehingga mereka bisa kembali bergerak dan bernafas dengan lancar.


Lian Huanran yang tidak tau bagaimana bereaksi terhadap kejadian, ‘Kakaknya mendapatkan binatang ajaib yang awalnya berencana membunuh mereka.’


Sehingga ia hanya bisa berdiri mematung sambil melihat apa yang akan dilakukan Kakaknya.


Lian Haocun dengan cepat memproses kejadian yang tidak masuk akal ini dan mengatakan kepada Chao Bence dengan nada dingin,


“Kau tidak boleh melukai dia.”


Sambil menunjuk Lian Huanran, Chao Bence mengangguk menyetujui dan menanggapi dengan nada malas yang sangat kentara,


“Untuk apa aku menyakiti dia? Bukankah itu tidak ada gunanya?” Lian Haocun mengabaikan tanggapan Chao Bence dan bertanya,


“Apa di ngarai ini terdapat harta karun?”


Chao Bence tersenyum menyeringai menanggapi Lian Haocun sementara mata Lian Huanran berbinar mendengar kata harta karun.


Chao Bence menjawab, “Tidak tau. Tapi aku memilikinya.”


Meskipun Chao Bence tinggal di Ngarai Mortinta bukan berarti ia mengenal Ngarai Mortinta, karena Chao Bence hanya berniat beristirahat sebentar sambil bersantai dan bermain-main dengan beberapa manusia yang memasuki wilayahnya.


Catatan : [Istirahat binatang ajaib bisa berlangsung ratusan hingga ribuan tahun]


Chao Bence tersenyum lalu mengeluarkan sebuah buku entah dari mana, “Ini adalah sesuatu yang kudapatkan dari suatu tempat.”


Lian Huanran menatap buku itu dengan binar kagum di matanya. Buku itu terlihat sudah sangat tua dengan sampul yang sangat kuno namun bisa terasa bahwa itu buku itu merupakan harta karun. Lian Haocun menebak buku apa itu, “Buku Keterampilan?”


Chao Bence tersenyum lebar dan mengangguk, “Ini adalah buku keterampilan seni bela diri yang sangat jarang di Benua Afer. Kalian berdua bisa mempelajarinya. Lalu ada,”


Chao Bence memunculkan dua buku lagi yang terlihat sangat tua, “Ini adalah buku keterampilan pedang sedangkan ini teknik panah.”


Lalu melemparkan ke-tiga buku itu ke arah Lian Haocun dan Lian Huanran. Lian Haocun langsung menyimpan dua buku keterampilan yang diterimanya, karena ia malas memegangnya.


“Semua buku keterampilan ini tingkat jingga.”


Mata Lian Huanran membelalak, “Jingga!? Ini terlalu berharga. Aku tidak bisa menerimanya.” Kata Lian Huanran sambil menyodorkan buku yang baru saja ia baca sekilas, kembali ke Chao Bence.


Sedangkan Lian Haocun berkata setelah Lian Huanran menyodorkan kembali buku keterampilannya, “Kau memberikan kami ini. Apa yang kau ingin kami lakukan?”


Chao Bence tersenyum lebar, “Kau benar. Tidak ada yang gratis di dunia ini kecuali aku adalah seseorang yang sangat murah hati.”


Lian Haocun menanggapi dengan dingin, “Tapi aku yakin kau bukan kategori yang terakhir.”


Chao Bence tertawa terbahak-bahak sementara Lian Huanran sudah tidak mengerti lagi perkembangan macam apa ini.


“Akan kupikirkan nanti. Sekarang kalian harus menjadi lebih kuat dulu.” Kata Chao Bence setelah selesai tertawa terbahak-bahak.


“Jadi, bocah bermata hijau....., lebih baik kau menerima buku keterampilan itu.” Lanjut Chao Bence.


Lian Huanran langsung merasa kesal dibilang bocah sehingga ia langsung memperkenalkan dirinya, “Aku bukan bocah, aku adalah Lian Huanran. Kau bisa memanggilku Huanran.” Chao Bence mengangguk dengan senyum di wajahnya namun tidak ada yang tau apakah dia benar-benar mendengarkan Lian Huanran.


“Jadi siapa nama masterku ini?” Tanya Chao Bence memecahkan suasana hening setelah Lian Huanran berbicara.


Lian Haocun menjawab singkat, “Lian Haocun.”


Chao Bence yang ditinggalkan tanpa diajak, mulai mengikuti Lian Haocun dan berbicara banyak omong kosong yang sangat mirip dengan saat Lian Huanran berceloteh selama perjalanan.


Jadi baik Lian Huanran maupun Chao Bence mengobrol dan bertukar omong kosong satu sama lain sehingga perjalanan Lian Haocun keluar dari gua menjadi sangat berisik, namun suasananya sangat harmonis dan menandakan keakraban.


Lian Huanran yang dipaksa oleh Chao Bence untuk menerima bukunya berkali-kali dengan beberapa ejekan seperti,


'Kau sekarang sangat lemah. Jika kau mempelajari buku itu, kau bisa menjadi lebih kuat dan mengalahkan ku.'


Sehingga mau tidak mau Lian Huanran menyimpan buku keterampilan yang sangat berharga tersebut di cincin penyimpanan. Lalu mereka mulai berbicara beberapa topik lain hingga sampai berdebat berkali-kali.


Chao Bence yang berhasil mengalahkan Lian Huanran dalam berdebat untuk ke-sekian kalinya tersenyum puas lalu mulai mempertanyakan rencana apa yang dilakukan Lian Haocun, “Apa yang akan kita lakukan setelah ini?”


Lian Haocun menjawab, “Kembali ke atas.”


Chao Bence mengangguk mengerti dengan senyuman di wajahnya dan mulai bertanya, “Apa kau tidak akan menjelajahi Ngarai ini? Siapa tau ada harta karun di sini.”


Lian Haocun menanggapi, “Kami sedang dalam kompetisi.”


Chao Bence yang kekurangan informasi segera menuju ke Lian Huanran yang terlihat lesu karena kalah dalam perdebatan, untuk meminta informasi mengenai situasi terkini. Lian Huanran menceritakan informasi dengan ringkas dan cepat namun moodnya belum membaik sama sekali.


Lian Huanran yang sedang dalam mood yang buruk karena kalah berdebat dari Chao Bence berkomentar sinis di hadapan Chao Bence, benar-benar melupakan ketakutannya di awal saat bertemu dengan Chao Bence,


“Apa kau tidak lelah tersenyum terus menerus?”


Chao Bence menyeringai lebar dan berkata dengan nada menggoda seorang laki-laki kepada perempuan, “Kau benar-benar sangat memperhatikanku ya.”


Lian Huanran merinding mendengar nada Chao Bence saat mengatakan kalimat itu, ia segera berteriak, “Jangan mengatakan dalam nada seperti itu. Rasanya sangat menakutkan.”


Sementara Lian Haocun yang berada di depan mereka tetap berwajah dingin dengan sedikit rasa tidak berdaya di hatinya karena harus mendengarkan kedua belah pihak beradu mulut terus-menerus.


Ketika mereka keluar dari Gua, hari sudah malam. Ngarai Mortinta menjadi gelap namun Lian Haocun, Lian Huanran dan Chao Bence masih bisa melihat dengan sangat jelas apalagi Chao Bence yang ke-lima indranya sangat bagus.


“Sudah lama tidak keluar dari Gua.” Kata Chao Bence dengan nada nostalgia.


Lian Haocun segera bertanya memecahkan Chao Bence yang sedang bernostalgia, “Apa yang kau maksud dengan ras kuno?”


Chao Bence segera mengubah senyum di wajahnya menjadi senyum misterius. “Kalian tidak bisa mengetahuinya saat ini.”


Suasana menjadi sedikit tegang, benar-benar berbeda saat Lian Huanran dan Chao Bence berdebat.


Mata Lian Haocun menjadi lebih dingin, “Tapi kami adalah keturunan ras kuno itu bukan? Kenapa kami tidak berhak tau?”


Chao Bence untuk pertama kalinya menghela nafas dan tidak menanggapi dengan kalimat yang berisi omong kosong, “Ini untuk kebaikan kalian.”


Lian Huanran merasa penasaran juga dengan ras kuno yang dimaksud Chao Bence, namun dia tidak berniat memaksa Chao Bence untuk mengatakannya jika Chao Bence tidak ingin mengatakannya jadi dia mencairkan suasana,


“Chao Bence tidak memiliki niat jahat terhadap kita, Kakak..... Mungkin memang belum saatnya kita mengetahuinya bukan?” Bujuk Lian Huanran.


Lian Haocun hanya mendengus dingin dan tidak melanjutkan topik pembicaraan. Jadi Lian Huanran hanya bisa terus berbicara untuk mencairkan suasana.


“Apa kita tidak akan beristirahat?” Tanya Lian Huanran kepada Lian Haocun.


Pasalnya ia merasa agak lelah karena pertarungan mental di ilusi yang dibuat Chao Bence dan pertarungan fisik saat siang hari.