The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 51 — Misteri Kota Pascima (3)



Setelah makan bersama, kelompok yang terdiri dari tiga orang dan satu binatang ajaib menuju ke tempat-tempat yang diprediksi sebagai tempat menghilangnya korban.


“Tempat pertama adalah kebun buah. Korban pertama adalah orang biasa yang bekerja serabutan, korban pertama bekerja di kebun buah tersebut. Perkiraan waktu korban pertama menghilang antara sore dan malam hari karena korban pertama merupakan pekerja keras, dia tinggal lebih lama di kebun dari pada pekerja lainnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.” Ucap Shen Wenhuan sambil berjalan santai ke arah kebun tempat korban pertama bekerja.


Kebun tersebut cukup luas. Ada berbagai macam pohon buah-buahan di kebun tersebut. Aroma buah-buahan yang manis dan harum bercampur dengan udara segar.


Lian Huanran yang untuk pertama kalinya melihat kebun buah, melihat-lihat sekeliling dengan mata berbinar sambil memberikan beberapa komentar sepanjang waktu. Sementara Chao Bence menanggapi dengan memberikan beberapa deskripsi mengenai kebun buah yang lebih bagus daripada kebun buah tersebut.


Shen Wenhuan yang melihat Lian Huanran dan Chao Bence saling bertukar obrolan mengenai kebun buah, “..”


Shen Wenhuan memutuskan untuk mengabaikan mereka dan berjalan lebih dekat ke tempat Lian Haocun berdiri.


Shen Wenhuan, “Haocun, bagaimana menurutmu?”


Lian Haocun menjawab, “Ada berbagai cara untuk memancing korban pertama keluar dari kebun. Apalagi kalau dalang dari kasus ini merupakan seseorang yang kuat, korban tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan.


Karena tidak terdapat jejak apa-pun yang tersisa maka bisa disimpulkan kalau dalang dari kasus ini adalah seorang kultivator atau bisa saja jejaknya sudah dihapus. Bagaimanapun sudah tujuh bulan berlalu.


Atau bisa saja korban sudah berjalan pulang dan menghilang di jalan bukan di kebun buah ini.”


Shen Wenhuan mengangguk ringan sebelum berkata, “Tapi mengetahui bahwa dalang merupakan seorang kultivator tidak akan banyak membantu. Ada banyak kultivator yang tinggal di Kota Pascima. Apalagi waktu si dalang dari kasus ini beraksi tidak menentu. Jadi, kita harus mencari petunjuk lain untuk memecahkan kasus ini. ”


Hari sudah menjelang siang setelah Shen Wenhuan, Lian Haocun, Lian Huanran dan Chao Bence menginvestigasi seluruh kebun buah yang cukup luas. Pada akhirnya, Shen Wenhuan, Lian Haocun, Lian Huanran dan Chao Bence tidak mendapatkan petunjuk lain sama sekali. Jadi mereka memutuskan untuk pergi ke tempat kedua.


Tempat kedua adalah hutan kecil di luar Kota Pascima. Untuk mencapai tempat kedua, mereka harus melewati pusat perdagangan Kota Pascima. Di salah satu gang kecil yang Shen Wenhuan, Lian Haocun, Lian Huanran dan Chao Bence lewati terdapat sedikit keributan.


Lian Haocun melihatnya cukup lama dengan tatapan intens sambil berpikir.


Seseorang yang baik hati memberikan roti kecil kepada anak kecil yang berpakaian lusuh di gang gelap tersebut. Anak kecil itu mengambil roti kecil tersebut, tapi tanpa diduga anak kecil berpakaian lusuh menggigit tangan dermawan yang memberikannya roti kecil sebelum kabur ke lebih dalam gang yang kotor. Semua petunjuk dari kasus ini tergabung menjadi teori di pikiran Lian Haocun.


Dengan pusat perdagangan yang ramai sebagai latar belakang, Lian Haocun memanggil Shen Wenhuan, “Guru. Saya memiliki pendapat baru.”


Shen Wenhuan membuat penghalang tidak terlihat di sekitarnya supaya tidak ada yang bisa mendengarnya sebelum menengok ke arah Lian Haocun dan menganggukan kepalanya pertanda bahwa Lian Haocun sudah bisa mengutarakan pendapatnya. Sementara Lian Huanran dan Chao Bence mempersiapkan telinga mereka untuk menjadi pendengar.


Lian Haocun mulai mengutarakan teorinya, “Korban-korban yang menghilang sangat acak, tapi mereka memiliki satu kesamaan, mereka adalah bagian dari masyarakat.


Mungkin dalang dari kasus ini adalah seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk dengan masyarakat sehingga dia menganggap semua anggota masyarakat sebagai orang yang buruk atau munafik dan memiliki kebencian yang mendalam terhadap masyarakat.


Lalu dalang dari kasus ini mendapatkan kesempatan untuk berkultivasi. Dengan kekuatan yang lebih dari orang biasa, dalang kasus ini bertindak untuk memuaskan kebencian di hatinya dengan membalas dendam.”


Shen Wenhuan mengangguk dan berkomentar, “Itu adalah teori yang masuk akal.”


Lian Huanran dan Chao Bence juga mengangguk menyetujui perkataan Shen Wenhuan.


Lian Huanran bertanya, “Kalau apa yang dikatakan Kakak benar. Bagaimana cara menangkap dalang dari kasus ini?”


Shen Wenhuan bertanya balik kepada Lian Huanran, “Menurut Huanran bagaimana?”


Lian Huanran terlihat tidak bisa menanggapi pergantian ‘angin’ yang sangat cepat ini.


Lian Huanran dengan cepat memutar otaknya, “E-h, emm..., mungkin mencoba memancing dia keluar?”


Shen Wenhuan tampak memikirkan perkataan Lian Huanran dengan serius sementara Lian Haocun sudah memiliki ide di dalam pikirannya,


“Bagaimana kalau kita membuat rumor mengenai anak kecil yang ditindas saat meminta makanan karena kelaparan dan membuat dalang dari kasus ini menargetkan salah satu dari kita dan datang sendiri kepada kita.”


Shen Wenhuan memuji ide Lian Haocun, “Ide yang bagus. Lagi pula kita tidak memiliki petunjuk lagi. Jadi mari lakukan itu. Nah untuk lebih lanjutnya lebih baik kita membahasnya di penginapan.”


Meski Shen Wenhuan sudah membuat penghalang agar pembicaraan mereka berempat tidak terdengar keluar. Jalan di pusat perdagangan memiliki banyak orang yang berlalu lalang dan cukup ramai sehingga tidak nyaman untuk berdiskusi di sana.


Lalu mereka berempat sepakat untuk menghentikan penyelidikan ke hutan kecil karena kemungkinan mendapatkan petunjuk lain di sana sangat rendah dan kembali ke penginapan. Mereka berempat memilih ruangan tanpa Bai dan Cheng di dalamnya untuk berdiskusi.


Shen Wenhuan mengawali percakapan dengan berkata, “Kalau begitu aku akan menyewa orang untuk menyebarkan rumor dengan cepat beserta ciri-ciri ‘penindas’-nya. Aku akan menjadi ‘penindas’ ini.”


Lian Haocun menggelengkan kepalanya tidak setuju, “Reputasi Guru sangat terkenal. Ada kemungkinan dalangnya akan mengetahui identitas Guru. Bukan hanya itu, Guru sama sekali tidak terlihat lemah. Bisa jadi dalangnya akan menyerah setelah melihat Guru meski dia tidak mengetahui mengenai Guru. Lebih baik saya atau Huanran yang menjadi ‘penindas’-nya.”


Lian Huanran menganggukkan kepalanya setuju.


Begitu pula dengan Chao Bence yang selalu tersenyum sepanjang waktu, “Tuan Shen bisa tenang. Saya pasti akan melindungi mereka. Bagaimanapun master saya adalah kakak bocah kecil itu.


Kalau bocah kecil itu mati, pasti aku yang akan terkena masalah dan lagi bocah kecil itu cukup menyenangkan untuk diajak berbicara.”


Perkataan Chao Bence seakan sudah memutuskan bahwa Lian Huanran menjadi ‘penindas’.


Mendengar kata bocah kecil, Lian Huanran segera menaikkan volume suaranya dan mengerucutkan bibirnya kesal, “Aku bukan bocah kecil! Panggil aku Huanran!”


Lian Haocun tidak memedulikan kekesalan Lian Huanran yang tidak penting dan berkata, “Huanran memang lebih cocok dari padaku.”


Chao Bence setuju dan mengkritik Lian Haocun, “Bukan lebih cocok tapi sangat cocok. Bagaimanapun ekspresi master selalu dingin, menyendiri seperti tidak memiliki keinginan duniawi sama sekali. Saya yakin si dalang tersebut pasti tidak bisa memperkirakan bahwa master adalah 'penindas'-nya.”


Lian Haocun melirik tajam Chao Bence sekali sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Shen Wenhuan. Bagaimanapun hanya Shen Wenhuan yang bisa memutuskan.


Shen Wenhuan yang ditatap oleh Lian Haocun, menghela nafas dan berkata, “Baiklah. Bagaimanapun ada Tuan Chao. Jadi kalian pasti akan aman.”


Lian Huanran juga menyetujui perannya sebagai 'penindas'.


Lalu mereka mulai melakukan apa yang mereka rencanakan. Dalam waktu singkat ada rumor mengenai anak kecil malang yang ditindas karena meminta makanan.


Salah satu pejalan kaki yang mengenakan jubah hitam, berwajah dingin dan terlihat tidak peduli dengan hal apapun, mendengarkan rumor yang beredar tersebut, tangannya yang mengepal erat menunjukkan amarah luar biasa sedang ditahannya. Niatan membunuh bercampur amarah berkilat di mata pejalan kaki dengan jubah hitam tersebut. Lalu dia berjalan pergi ke tempat yang gelap.