
Rumor segera beredar di seluruh penjuru Sekte Langit Biru oleh beberapa murid. Beberapa murid melihat Lian Haocun yang terlihat cukup tergesa-gesa meskipun ekspresinya masih acuh tak acuh dan dingin. Namun tidak ada yang berani menyapanya, karena aura menyeramkan di sekitarnya sudah cukup untuk membuat murid-murid ketakutan untuk mendekatinya dan menghalangi jalannya.
Rumor ini segera sampai ke telinga Tang Yelu. Tang Yelu berasumsi bahwa Lian Huanran juga sudah kembali dan menuju ke ‘Paviliun Langit Jingga’ bersama Bai dan Cheng.
...****************...
Di Paviliun Langit Jingga,
Lian Huanran meremas tangannya kuat dan air mata mulai mengucur kembali. Chao Bence merasa tidak bisa berbuat apa-apa dan mencoba mengatakan kata-kata penghiburan yang jelas sangat tidak efektif.
Lian Huanran tidak terisak terlalu lama, ia menenangkan dirinya dalam waktu yang cukup singkat. Suara serak Lian Huanran yang mengajukan pertanyaan terdengar,
“Di mana Kakak?”
Chao Bence menjawab, “Pergi bertemu Pemimpin Sekte, Sekte-mu.”
Lian Huanran mengangguk pelan dan mengusap sisa air mata yang mengalir. Chao Bence mendeteksi keberadaan seseorang yang berjalan menuju Paviliun Langit Jingga dan segera bersembunyi dalam bentuk binatang ajaib-nya. Tang Yelu mendobrak pintu dengan cara yang agak tidak sopan dan mengajukan berbagai pertanyaan dalam satu tarikan nafas sambil berjalan ke arah Lian Huanran.
“Hei... Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Ke mana Penatua Shen? Kenapa Kakakmu menemui Pemimpin Sekte? Hei... Apa ada seseorang yang menindasmu? Beritahukan pada Senior Tang ini, biar senior ini yang membalasnya untukmu.”
Sedangkan Bai dan Cheng kecil sudah mendekat ke Lian Huanra dengan kecepatan yang cukup tinggi. Seakan merasakan emosi Lian Huanran yang kacau, mereka menghibur Lian Huanran dengan menggosok-gosokkan kepala mereka ke tangan kecil Lian Huanran. Lian Huanran menanggapi dengan mengelus kepala Bai dan Cheng pelan dan tidak bersemangat. Kemudian ia menjawab pertanyaan Tang Yelu dengan masih menundukkan kepalanya sambil mengelus Bai dan Cheng,
“Aku baik-baik saja... Kau bisa mencari Kakakku untuk bertanya apa yang terjadi.”
Tang Yelu memandang Lian Huanran tajam. Ia menengok sekeliling kamar dan berkata dengan suara berbisik,
“Hei... Kau tau kan... Kakakmu itu bagaimana... Bagaimanapun bisa kau menyuruhku untuk-,”
Tiba-tiba Lian Haocun memasuki ruangan dan melihat adegan Tang Yelu yang berbisik kepada Lian Huanran yang menundukkan kepalanya, tapi Lian Haocun bisa membayangkan bahwa mata Lian Huanran pasti merah dan sembab karena menangis.
Tang Yelu bergumam di hatinya, ‘Benar-benar panjang umur.’
Lian Haocun mengabaikan Tang Yelu dan bertanya kepada Lian Huanran meskipun jarak di antara mereka cukup jauh, “Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Lian Huanran tidak menjawab dan hanya diam sambil menunduk menatap selimut. Tang Yelu tertegun melihat tanggapan Lian Huanran. Padahal biasanya ia akan langsung menjawab
Lian Haocun menghela nafas di dalam hatinya dan berkata, “Aku sudah membicarakannya dengan Pemimpin Sekte. Istirahatlah yang baik untuk hari ini.”
Tubuh Lian Huanran membeku mendengar kalimat pertama Lian Haocun. Kemudian Lian Haocun berbalik, keluar dan menutup pintu. Suasana di dalam kamar menjadi sunyi senyap. Tang Yelu menundukkan kepalanya untuk berbisik kepada Lian Huanran,
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
Lian Huanran tidak menjawab dan mendongak menatap Tang Yelu dengan tatapan hampa dan kosong. Tidak terlihat sedikit pun sosok ceria dan periang yang biasanya ada pada Lian Huanran. Tang Yelu tertegun melihat Lian Huanran dan tidak tau harus berbuat apa. Bagaimanapun biasanya yang menghibur seseorang adalah Lian Huanran. Jadi ia hanya bisa berdiam diri dengan suasana sunyi senyap merasuk ke kamar Lian Huanran, yang berlawanan dengan dekorasi dan interior yang terasa sangat cerah.
Lian Huanran mengusap matanya hingga matanya menjadi lebih merah dan mulai bercerita dengan suara serak,
“Di tempat tidur yang kududuki saat ini, aku yang berusia enam tahun pernah bermimpi buruk... Aku hanya bisa meringkuk ketakutan di sini, berharap ada orang yang akan datang... Tanpa kuduga Guru yang berniat mengecek apakah aku sudah tertidur atau belum, melihat aku meringkuk ketakutan.”
Mata Lian Huanran menjadi sedikit berair dan dipenuhi berbagai emosi, dengan suara serak, ia melanjutkan, “Guru memeluk dan menenangkanku. Sebenarnya Guru tidak terlalu pandai menenangkan orang, jadi dia hanya bisa memelukku dengan harapan bahwa aku merasa aman dan lebih tenang. Lalu kita berdua mengobrol bersama-sama sepanjang malam untuk menghabiskan waktu. Topik pembicaraan itu sangat ringan dan santai. Aku masih bisa mengingat kehangatannya sampai sekarang.”
“Lalu di atas karpet itu. Aku sering mendengar guru bercerita mengenai berbagai hal. Indahnya dunia-dunia luar dan cerita-cerita fantasi yang indah, cerita-cerita itu membuatku percaya bahwa dunia ini adalah dunia yang sangat indah dan penuh kehangatan seperti dirinya.”
“Ada juga suatu saat, aku tidak sengaja terjatuh saat berlari-larian dengan murid-murid yang bermain denganku. Guru merawat lukaku dengan sangat berhati-hati dan lembut, membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang sangat berharga dan penting.”
“Waktu itu juga, saat-saat aku merasa sangat tidak cocok menggunakan pedang. Guru mengenalkanku dengan senjata-senjata lain. Dengan sangat sabar, Guru menjelaskan setiap senjata itu secara mendetail dan memintaku untuk mencobanya satu-persatu. Guru sangat sabar dan lembut ketika mengajarkanku cara menggunakan masing-masing senjata. Bahkan ketika aku menanyakan pertanyaan yang berulang kali sama, ia menjawabnya dengan sangat sabar dan tidak merasa marah sedikit pun padahal dia sudah mengajarkannya berkali-kali.”
“Ada juga saat aku tidak sengaja menumpahkan teh panas ke pakaian Guru. Pakaian Guru waktu itu basah dan bahkan kulitnya memerah karena teh panas. Namun ia tidak memarahiku dan malah mengecek keadaanku. Dia tidak memedulikan dirinya sendiri dan hanya khawatir denganku...”
"Guru selalu merawat kami dengan hati-hati, selalu mengutamakan kami, peduli dengan kami. Guru adalah sosok keluarga dan guru yang sangat berharga bagiku."
Lian Huanran melanjutkan menceritakan satu-persatu kejadian yang diingatnya di dalam ingatannya yang paling dalam. Terkadang juga ia mencurahkan apa yang dirasakannya. Air mata mengalir ke wajahnya seiring waktu ia bercerita. Semua kenangan itu penuh kehangatan dan kelembutan. Tang Yelu yang mendengarnya merasa matanya berlinang air mata. Meski ia tidak mengetahui apa yang terjadi, Tang Yelu sudah membuat berbagai dugaan di pikirannya.
Sudah malam hari saat Lian Huanran selesai bercerita. Selama itu, Tang Yelu berdiri di samping Lian Huanran dan mendengar ceritanya tanpa menyela maupun bergerak untuk meregangkan ototnya yang kaku. Setelah melihat bahwa Lian Huanran sudah melampiaskan emosinya, Tang Yelu mengajak berbicara Lian Huanran sebentar sebelum pergi. Setelah Tang Yelu pergi, Lian Huanran dengan air mata yang masih mengalir memeluk Bai dan Cheng erat. Perlahan-lahan Lian Huanran tenang dan tidur dengan Bai dan Cheng di pelukannya.
Lian Haocun masuk ke dalam ruangan yang sudah gelap gulita dengan baskom penuh es dan air dingin serta kain halus. Dia berjalan ke tempat tidur Lian Huanran dan duduk di sebelahnya. Lalu ia mengelus rambut pirang Lian Huanran dan memastikannya tertidur nyenyak, sepertinya dikarenakan kelelahan.
Untungnya Bai dan Cheng juga tertidur sehingga mereka tidak menyadari bahwa Lian Haocun memasuki ruangan.
Lian Haocun meletakkan baskom penuh air dan es batu di meja yang berada di dekat tempat tidur. Ia mulai mengompres mata sembab dan merah Lian Huanran dengan hati-hati dan pelan-pelan, takut membangunkan Lian Huanran dari tidurnya. Ia mengompresnya setiap lima belas menit per-jam sepanjang malam, sebelum pergi saat pagi hari karena takut Lian Huanran terbangun.