The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 164 — Kota Noula : Wabah Penyakit (1)



Pada siang hari, Lian Haocun bersama dengan Lian Huanran dan yang lainnya, menuju ke tempat penerimaan dan penyelesaian misi. Dalam perjalanan ke tempat tersebut, Lian Haocun dan kelompoknya, berpapasan dengan Guan Hong serta kelompoknya.


Kedua kelompok tersebut, melanjutkan perjalanan seakan-akan tidak terjadi apa-apa, akan tetapi, Lian Huanran bisa merasakan dengan jelas, suasana tegang di antara mereka.


Tentu, Lian Huanran tidak mengenali siapa pria berambut hitam dan bermata hitam yang tampak sangat dihormati oleh kelima orang di sampingnya. Jadi, ia hanya bisa membuka percakapan dengan Long Yuan dan Yun Shao, untuk meringankan suasana tegang yang ada. Begitulah, kedua kelompok yang berjalan berdampingan ini, asik dengan interaksi masing-masing.


Setelah sampai di tempat penerimaan dan penyelesaian misi, petugas menanyakan beberapa pertanyaan basa-basi, lalu meminta Lian Haocun dan kelompoknya, untuk menggunakan jimat teleportasi dan berteleportasi ke pinggiran Kota Noula. Petugas juga meminta hal yang sama kepada Guan Hong dan kelompoknya.


Sebelum berpindah tempat, memori mengenai apa yang terjadi satu hari lalu, terlintas di pikiran Lian Haocun. Kemarin, ada burung merpati putih yang lagi-lagi mengetuk jendela asrama Lian Haocun, Long Yuan, Yun Shao dan Qian Wenwu. Burung merpati itu, mengantarkan pesan dari Chao Bence, yang sudah kembali ke Kota Vekado untuk mengurus bisnis ‘HaoRan’.


Inti dari pesan itu adalah, ‘Wabah penyakit di Kota Noula diduga merupakan tindakan dari ras iblis yang sudah tidak menunjukkan diri sejak sekian lama.’


Lian Haocun cukup terkejut kala mengetahui hal tersebut, lalu meminta Chao Bence untuk menyelidiki lebih lanjut. Setelah itu, ia mulai mencari lebih banyak informasi, dengan membaca gulungan informasi yang diberikan oleh petugas penerimaan dan penyelesaian misi. Dari informasi di gulungan tersebut, Lian Haocun mendapatkan gambaran mengenai apa yang terjadi di Kota Noula.


Terdapat wabah penyakit menular yang menyebar di Kota Noula dan desa-desa di sekitar kota tersebut. Tidak diketahui pasti, siapa orang pertama yang terjangkit penyakit tersebut, dan kapan penyakit itu mulai menyebar. Namun, Sekte Serigala Giok mengetahui wabah penyakit ini dari empat hari yang lalu.


Karena, tepatnya enam hari yang lalu, Kota Noula dan desa-desa di sekitarnya, mengisolasi ‘diri’ dari dunia luar. Tidak ada orang-orang yang ingin bersinggah, yang dibiarkan masuk ke dalam Kota Noula, begitu pula dengan desa-desa lainnya. Kota Noula juga tidak mengizinkan siapa pun yang telah memasuki Kota Noula, untuk pergi.


Sikap mereka tampak seperti menolak orang-orang luar semenjak enam hari yang lalu, akan tetapi bisa dipastikan, sebelumnya, sikap Kota Noula dan desa-desa di sekitarnya kepada orang luar bisa dikatakan cukup ramah.


Kota Noula terletak cukup dekat dengan Kota Wolvenbont dan Kota Pascima. Akan tetapi, meski dekat, dibutuhkan waktu beberapa minggu hingga satu bulan lebih untuk mencapai Kota Noula, sehingga Sekte Serigala Giok yang jelas tidak ingin membuang waktu untuk perjalanan, memberikan jimat teleportasi kepada murid-murid yang akan ditugaskan sebuah misi.


Mereka bersepuluh, berteleportasi ke pinggiran Kota Noula. Kota Noula berukuran cukup kecil di antara kota-kota lain yang pernah dilihat Lian Haocun.


Kota Noula tampak seperti kota pada umumnya, akan tetapi anehnya, meski masih siang, matahari yang seharusnya menyinari Kota Noula ditutupi oleh awan-awan gelap yang suram, sehingga tempat tersebut terlihat seperti di malam hari, dan memberikan kesan cukup menyeramkan.


Bukan hanya itu, anehnya lagi, walau tidak hujan, terdapat petir-petir yang menyambar tanpa henti. Long Yuan merasa petir-petir itu memberikan pertanda buruk.


Karena petir-petir itu juga, suasana Kota Noula yang sudah suram dan gelap, menjadi tambah suram dan gelap. Bahkan menciptakan sedikit suasana horror.


Lian Huanran merasa, Kota Noula terasa sangat suram, seakan-akan ada aura jahat yang mengelilingi Kota Noula dan desa-desa di dekatnya. Sementara, kening Qian Wenwu langsung berkerut ketika melihat Kota Noula.


Yun Shao menyadari hal tersebut, dan bertanya, “Kenapa?”


Karena suasana yang hening, satu kata pertanyaan dari Yun Shao, menarik perhatian semua orang yang berada di sana.