Scenario Of Love

Scenario Of Love
bab 97



Bab 97


“bun, sudah waktunya stella pulang” ujar stella yang langsung menjadi pusat perhatian,


Bunga menghampiri stella lalu mengecek selang infus stella, detik selanjutnya bunga menganggukan kepalanya.


“iya boleh” jawab bunga melepaskan infus ditangan stella,


“apa stella tidak apa dibawa pulang bun?” tanya alvaro membuat bunga menganggukan kepalanya,


“iya, tapi walau pun begitu bunda akan memanggil dokter bambam untuk memastikan stella benar-benar boleh pulang” jawab bunga


“bunda akan memanggil dokter bambam sebentar” pamit bunga namun dicegah oleh bram


“biar aku saja” ujar nya langsung pergi


Maria menghampiri stella dan membantu stella membersekan semuanya. Bunga tersenyum melihat itu.


“sayang kau benar-benar ingin pulang? Bagaimana kalau kau...”


“aku sudah baik-baik saja sayang, kalau bunda bilang aku baik maka aku akan baik” jawab stella membuat maria ingin menangis sekarang.


“sayang kau harus tinggal bersama mamimu mulai dari sekarang, agar ada yang mengawasimu mulai dari sekarang” ujar bunga memberikan kesempatan untuk stella agar lebih dekat dengan maria


“bunda?” tanya stella


“bunda akan kembali ke slendia baru dan bunda akan mencari informasi lebih lanjut lagi tentang obat herbal yang akan menyembuhkanmu” jawab bunga disertai dengan senyuman,


“terima kasih bun” ujar stella tulus,


“kenapa harus berterima kasih em?” tanya bunga mengedipkan sebelah matanya, seperti apa yang bunga katakan ia akan melakukan apapun agar putrinya tetap hidup. Sama hal nya dengan maria ia juga berusaha hal yang sama untuk kesembuhan stella.


“selamat malam semuanya” sapa dokter bambam tersenyum lebar diikuti bram disamping bambam.


“malam paman, kata bunda aku sudah boleh pulang jadi paman tidak bisa berbohong dan menahanku disini” jawab stella membuat bambam terkekeh karena itu,


Bambam memeriksa stella lalu kemudian tersenyum


“bundamu benar, kau boleh pulang dan ingat kalau ada apa-apa langsung menelpon paman”


Setelah memastikan stella sudah pergi bersama alvaro dan maria, bram langsung mengantar bunga kebandara.


“terima kasih yah” ujar bunga tulus membuat bram menganggukan kepalanya,


Bram hanya bisa menatap hilangnya bunga dikerumuan, bram sungguh tidak ingin berjauhan dari bunga, tapi ini bukan cinta, sudah jelas cinta nya hanya untuk maria bukan untuk bunga lalu kenapa ia merasa sangat kehilangan ketika ditinggal bunga. Ada yang salah dengan otaknya dan bram tidak tau dimana letak kesalahan otaknya.


Drt..drt...


“hallo sayang” ujar bram mengangkat panggilan dari putri sulungnya,


“bunda ada bersama ayah, velle sudah menghubungi bunda tapi ponsel bunda tidak aktif”


“bundamu baru saja pergi sayang”


“pergi? Lagi?”


“hm”


“kenapa ayah tidak melarang bunda kalau bunda pergi rumah akan sepi karena hanya ada kita berdua saja, ayah payah sekali”


“ayah juga inginnya begitu tapi bundamu tetap ingin pergi, ayah bisa apa”


“maafkan velle yah, velle tutup karena velle ada pasien”


“iya sayang, bye”


“bye ayah”


Benar, bram sangat payah. Payah akan mengerti hatinya sendiri, payah karena tidak mengerti apa arti detak jantungnya untuk bunga.


Dan bram tidak pernah mau mengakui itu, bram terlalu menjunjung tinggi harga dirinya. Karena seperti sebelumnya cinta dan hatinya hanya untuk satu orang yaitu maria selain itu tidak ada lagi. Termasuk bunga sendiri yang telah berhasil membuat jantungnya berdetak sekalipun.


Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian 💚


Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.


To be continue.....