
Bab 11
stella’s pov
hari ini seperti biasanya aku berangkat kekantor, tentunya aku pergi sendiri. Alvaro? Pria itu tadi menawarkan aku tumpangan, aku menolak. Tentu saja, karena kantor alvaro dan juga kantorku berlawan arah. Aku bukan tipe wanita yang suka merepotkan pria, kalau alvaro mengantarku dia bisa seja terlambat. Ya, stella tau alvaro boss, walaupun boss bukan berarti alvaro bisa terlambat.
aku kembali mengerjakan tugasku yang deadlen nya sudah mepet, aku tentunya tidak mau kena semprot lagi oleh mia, wanita itu selalu seja mencari masalah denganku. Ada sekidit cela saja ia bisa menerkamku dan mencabik-cabik bisa dibilang mia tidak punya hati nurani.
Wanita itu seperti ada kepuasan sendiri setelah mencari dan memarahi kesalahan orang lain, aku rasa dia perlu ke psikiater.
Lupakan mia, sekarang kembali pada pekerjaanku. Sebenarnya pekerjaanku kalau dilihat sangat lah mudah dan gampang tapi setelah melakukan pekerjaan itu sendiri kau akan mengatakannya dengan berteriak kencang ‘ SUSAH SEKALI’. Lebay, katakan lah begitu, karena aku memang lebay.
Aku mamatikan laptopku ketika jam makan siang telah tiba,
“sar, makan siang bersama?” tawarku pada sari pegawai baru yang jadi sasaran empuk mia sekarang karena kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh sari.
“boleh kak?”
“hm”
Heran sekali aku, kenapa dia bertanya boleh’ memang nya makan siang dilarang dikantor ini. kalau iya kenapa aku tidak tau.
Aku dan sari makan siang direstoran dekat kantor, sengaja makan didekat kantor karena aku ingin menikmati makan siangku agak lama.
“berapa umurmu?” aku senagja bertanya karena makan siang yang garing seperti ini sangat membosankan.
“22 kak, kakak?”
“aku 24, asalmu?”
“aku jakarta asli, kakak?”
“indonesia”
Aku dapat melihat jelas sari menatapku tidak percaya, aku tidak peduli lebih baik garing daripada bolak-balik saling bertanya dan menjawab.
Aku menatap jalanan yang dipenuhi oleh mobil-mobil, jalanan macet itu salah satu yang paling ku benci didunia selain hujan, aku membenci hujan. Banyak cerita menyakitkan didalam hujan dan itu membuat ku semakin membenci hujan.
Drt...drtt..
Aku mengambil ponsel dari tas kecilku, Day. Kapan pria itu berhenti mengganggu makan siangku yang indah.
“kau dimana, kenapa tidak keruanganku?”
“aku makan siang sekarang, aku sedang malas bertemu denganmu, bye”
Aku memutuskan panggilan begitu saja, aku tau pasti pria itu ingin curhat padanya karena patah hati,
“siapa kak?”
“bukan siapa-siapa, sudah selesai?”
“iya kak”
“bagus, ayo kembali kekantor sebentar lagi jam kerja”
Setelah selesai membayar aku kembali dengan pekerjaan yang melelahkan, jika bukan karena aku sangat butuh uang tidak mungkin aku ingin bekerja. Enak, aku tinggal dirumah dan menonton drama korea.
“kau, dipanggil pak Day” ujar mia membuat ku mendongakan kepala.
“oke”
Aku menghela nafas, pria itu kenapa dia. Dengan malas aku datang keruangan Day, pria menyebalkan itu.
“kenapa lagi?” tanya ku malas
“mama membawakan bekal untukmu, aku belum selesai berbicara kenapa kau mematikan ponselmu,” ujarnya kesal
“terima kasih, aku pikir kau sedang ingin curhat. Aku lagi malas mendengar rengekanmu itu.”
“setidaknya dengarkan dulu aku”
“baik-baiklah, lain kali oke. Terima kasih bekalnya”
“awas saja kalau masih, sama-sama”
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian(
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.
Tbc.