
Bab 117
Alvaro mengembangkan senyumnya ketika pekerjaannya selesai tepat waktunya, alvaro mengira bahwa pekerjaannya akan selseai lama tapi kenyataanya tidak, belum pukul 17.00 ia sudah tiba dirumah.
“sore mi, bun” sapa alvaro membuat keduanya berhenti bercerita lalu sama-sama melihat alvaro,
“sore”
“sore”
“stella mana bun, mi? Tumben hanya berdua biasanya bertiga” ujar alvaro karena tidak menemukan wanitanya diatara maria dan bunga,
“Ada dikamar, sedang istirahat” jawab maria membuat alvaro menganggukan kepalanya,
“kalau begitu alvaro masuk kamar dulu mam, bun”
“iya, “
Alvaro melatakan tas kerjanya diatas meja rias stella, serta sepatunya pada rak sepatu, karena kalau stella tau ia meletakan sepatu sembarangan stella akan memarahi alvaro.
Alvaro tersenyum karena melihat stella sedang tidur memunggunginya, alvaro lalu masuk kedalam kamar mandi. ia harus membersihkan diri setelah itu ia akan membangun kan stella, sesuai rencana hari ini ia dan stella akan makan diluar.
Kurang lebih 15 menit alvaro telah selesai mandi, setelah berpakaian rapi alvaro membangun kan stella dengan lembut,
“sayang, bangun kita harus bersiap untuk makan malam sesuai dengan rencana kita” ujar alvaro lembut namun tidak ada sahutan dari stella, alvaro khawatir dengan pelan ia membalik badan stella kearahnya. Keringan bercucuran didahi dan leher stella serta dileher stella, belum lagi badan stella panas dingin membuat alvaro setengah mati khawatir. Dengan cepat alvaro menggendong stella dan membawa stella kerumah sakit,
“mam, bun tolong beri tahu supir untuk menyiapakan mobil” ujar alvaro membuat maria dan bunga langsung berdiri dan mencari supir,
Maria pergi menyiapkan mobil sementara bunga ia mengangkat telpon dari sesama teman dokternya yang sekarang sedang bertugas dibelanda.
“iya katakan ada apa?” ujar bunga dengan cepat bahkan dengan satu nafas,,
“................................”
“jangan bertele-tele aku tidak ada waktu sekarang”
“......................................................”
Setelah mendengar penjelasan dari temannya itu, bunga mengembangkan senyumnya tak henti-hentinya ia berterima kasih pada Tuhan.
Alvaro menundukan kepalanya, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Alvaro bahkan tak henti-hentinya menangis, ia begitu sedih sekarang didalam sana istrinya sedang berjuang hidup dan mati. Alvaro seakan nafasnya telah dicuri paksa oleh seseorang karena dokter belum keluar dari memeriksa stella.
Maria menatap langit-langit rumah sakit, ia berdoa pada Tuhan untuk memberikan stella kesempatan hidup.
Bunga tidak meminta banyak ia hanya ingin putrinya sadar saja, hanya itu tidak ada yang lain.
Bram yang menerima telpon kalau putrinya sedang masuk rumah sakit langsung kerumah sakit, tadi ketika ia baru saja pulang kerja bunga menelponnya dan mengatakan kalau stella dirawat dirumah sakit.
Bahkan tanpa ganti pakaian kerja nya tadi bram langsung kerumah sakit, ia khawatir pada keadaan putrinya saat ini sekarang,
Didalam sana dokter bambam dibantu dengan dua dokter lainnya berusaha sangat keras untuk membuat stella kembali sadar.
“100J” teriak dokter bambam,
“150J”
“200J”
Titttt.........................
Bahu dokter bambam melemas karena stella tidak bisa diselamatkan, sekarang ia bahkan menangis bukan karena ia dokter yang selama ini menangani stella tapi sebagai seorang yang telah tahu betapa banyak penderitaan stella.
Istirahatlah yang tenang nak, sekarang penderitaanmu sudah berakhir.
Tamat..
Tapi, boong wkwkw.
Sekitar 7 partan lagi bakal tamat. Jadi stay stuned ya!
Big love, juwita.
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian 💚
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.
To be continue.....