
Bab 23
Alvaro dan stella makan seperti biasanya, mereka makan malam seperti tidak ada yang terjadi.
“bagaimana pekerjaanmu, lancar?” tanya stella menatap alvaro.
“hm , lancar. Pekerjaanmu?”
“seperti biasa, tidak ada yang berubah. Selalu membosankan” jawab stella lalu melanjutkan makannya.
Drt..drt....
Stella langsung mengangkat panggilan dari Nadia, ibu Day.
“iya mam?”
“june masuk rumah sakit, dia pendarahan. Kamu bisa kerumah sakit sekarang, ponsel day tidak bisa dihubungi”
“mama sekarang dimana?”
“dirumah sakit bahagia”
“mama tunggu disana, stella langsung pergi sekarang”
Tut,
“mau pergi kemana?” tanya alvaro membuat stella menghentikan langkahnya.
“kerumah sakit, june pendarahan”
“mau kuantar?”
“tidak, aku bisa pergi sendiri. Terima kasih” tolak stella masuk kedalam kamarnya dan mengambil cardigannya.
June? Siapa dia? Tanya alvaro pada dirinya sendiri, alvaro menggelengkan kepalanya. Ia tidak peduli.
Stella diatar oleh supir pribadi yang telah disiapkan oleh alvaro, stella berjalan menuju nadia yang berada didepan ruangan june.
“bagaimana keadaan june mam?” tanya stella membuat nadia langsung memeluk stella.
“mama tidak tau la, june masih diperiksa dokter”
“mama tenang ya, stella yakin june dan bayinya baik-baik saja”
“amiin,”
“bagaimana keadaan menantu saya dok?” tanya nadia ketika dokter telah selesai memeriksa keadaan june.
“keadaannya baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya menyarankan untuk pasien tidak stress karena berpengaruh pada bayi yang dikandungnya.”
“terima kasih dok, boleh kami melihat june dok?”
“sama-sama. Tentu saja kalau begitu saya permisi”
Stella merasakan kepalanya kembali pusing bagai ditusuk berjuta jarum, hidungnya mengalir darah segar, penglihatannya memudar. Dengan susah payah stella duduk dikursi tunggu, ia menundukan kepalanya dan mengelap darah dihidungnya menggunakan cardigannya, untung saja cargidannya bewarna hitam jadi noda darah bisa tertutupi. Biasanya sakit kepala stella tidak sesakit ini apabila sudah meminum obatnya, apa stella perlu menambahkan dosisnya agar rasa sakit dikepalanya hilang agak lama.
Nadia masuk tanpa stella dan langsung bertanya pada june bagaimana keadaannya.
“bagaimana keadaan mu sayang? Sudah baik?” tanya nya lembut
“june baik mam, terima kasih karena telah membawa june kerumah sakit”
“tidak perlu berterima kasih, memang sudah tugas mama”
“tidak mama dengan stella, astaga mana anak itu. Kau tunggu sebentar ya mama cari stella dulu” ujar nadia pergi keluar mencari stella.
Nadia mendapati stella sedang duduk dikursi tunggu dengan kepala terdunduk.
“sayang?” tegur nadia membuat stella langsung mendongakan kepalanya.
“iya mam, bagaimana keadaan june?” jawab stella tersenyum
“sudah baik, ayo masuk”
Stella menganggukan kepalanya, kepalanya masih sakit tapi tidak sesakit tadi.
Stella tersenyum pada june, ketika ia sudah didalam ruangan june. Stella tidak bertanya lagi bagaimana keadaan june karena ia sudah tau kalau june sudah baik-baik saja.
“coba, kau telpon day sayang. Ponselnya aktif tapi telpon mama tidak diangkat”
“stella coba mam”
“iya sayang”
Stella mencoba menelpon Day tapi pria itu tidak mengangkat panggilannya, stella kesal lalu mengirim pesan pada day karena ia sudah berkali-kali menelpon tapi tidak diangkat.
‘aku tidak akan bertemu dengan mu lagi kalau kau tidak mengangat telponku’
Drt..drt...
“ini day mam,”
“angkat lah sayang, katakan kalau june dirumah sakit sekarang”
“kerumah sakit bahagia sekarang!”
“kau kenapa? Sakit? Terluka? Atau si brengsek itu yang membuatmu terluka?”
“kau yang brengsek! Kesini sekarang juga atau aku akan membunuhmu”
“aku kesana sekarang”
Tut.
“apa katanya sayang?”
“dia akan kesini mam”
“baguslah”
“kalau begitu stella pulang dulu mam, june aku pulang” pamit stella membuat keduanya menganggukan kepala mereka
.
“kau hati-hati”
“iya mam”
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.
Tbc