
Bab 32
Pasien hanya bertahan kerana obat-obatan, Waktu hidup pasien tidak lama lagi...
Kaki day terasa lumpu, telinganya mendadak tuli ketika mendengar penjelasan dari dokter. Day sama sekali tidak percaya bagaimana bisa tuhan begitu kejam pada stella.
Day sama sekali tidak bisa membayangkan hidup tanpa stella begitu juga nadia. June tidak tau harus berkata apa, ia juga merasa sedih. June masih tidak menyangka bagaimana orang seceria stella bisa menahan sakit selama ini.
“bagaimana keadaanmu sayang? Kepalamu pusing?” tanya nadia ketika stella sudah sadarkan diri. Stella menggelengkan kepalanya.
“mam, maafkan stella. Stella tidak bermaksud untuk tidak memberi tahu mama tentang penyakit stella”
“lalu kau anggap kami siapa? apa kami bukan keluargamu!” ujar day membuat stella menggelengkan kepalanya, ia sudah menangis sekarang. Orang-orang terdekatnya sudah sangat mencemaskan dirinya.
“aku..ahhgggg” stella memegangi kepalanya, kepalanya sakit seperti tertimpa batu besar.
“sayang kau kenapa?” tanya nadia panik
“DOKTER! DOKTER!” teriak day keluar dari ruangan stella, ia tidak peduli orang-orang sekitar menatapnya dengan tatapan jijik yang paling utama adalah dokter.
“panggil dokter bambam sekarang!” ujar dokter yang tadi menangani stella tadi.
“baik dok”
Day mengacak rambutnya frustasi, bagaimana bisa ia memarahi stella yang sedang sakit. Ini semua salahnya kalau saja ia tidak membentak stella, maka stella tidak akan begini.
-
Sudah dua hari stella dirawat dirumah sakit, dan wanita itu masih betah untuk terus menutup matanya. Day sudah berangkat kerja berkat paksaan dari nadia, june dia pulang untuk beristirahat, tinggallah nadia yang menjaga stella. Nadia mengeluarkan ponsel stella dari tasnya lalu mengisi daya ponsel stella.
“sus, tolong jagakan anak saya sebentar saya ingin buang air besar”
“baik buk”
Suster itu mengecek cairin infus dan menyuntikan obat kedalam infus.
Drtt..drt...
Dengan ragu suster itu mengangkat panggilan dari ponsel stella.
“.......................”
“maaf sebelumnya, saya suster. Orang yang dimaksud bapak sedang dirumah sakit dan sudah dua hari koma”
“..............................”
Tut.
Suster itu meletakan kembali ponsel stella,
“aa..ai..r” ujar stella terbata membuat suster segera mengambilkan minum dan memberikan nya pada stella.
“suster kenapa dengan putri saya?” tanya nadia ketika melihat suster dengan buru-buru keluar dari kamar inap stella.
“nona stella sudah sadar, saya akan memanggil dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut”
“ya tuhan terima kasih karena telah membiarkan stella kami sadar” ucap nadia penuh syukur.
Nadia menunggu diluar sementara stella diperiksa dokter didalam, day langsung kerumah sakit ketika mendapat kabar dari nadia kalau stella sudah sadar.
“bagaimana stella mam?” tanya day
“sedang diperiksa dokter, stella sudah siuman”
“syukurlah,”
“stella sudah baik-baik saja, dia wanita yang kuat” jelas dr. Bambam yang memang dokter stella selama ini.
“terima kasih dok”
“sama-sama”
Day dan nadia masuk kedalam kamar inap stella, stella tersenyum menyambut mereka berdua. Nadia tersenyum miris bagaimana bisa stella bisa tersenyum saat seperti ini. tanpa sadar nadia sudah meneteskan air matanya, stella yang melihat itu langsung menghapus air mata nadia.
“jangan menangis mam” ujar nya pelan, bukannya berhenti air mata nadia bertambah deras.
“kita beri tahu orang tua mu ya sayang” ujar nadia membuat stella menggelengkan kepalanya, stella tidak bisa membiarkan bunda nya sedih untuk dirinya. Karena sedih tidak cocok untuk bundanya.
“jangan mam, jangan”
“baiklah, kau harus sehat”
“iya”
Day tidak berkata apa-apa karena ia tidak mau mengeluarkan kata-kata kasar atau pun membentak stella seperti tempo hari.
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.