Scenario Of Love

Scenario Of Love
bab 116



Bab 116


Hari ini alvaro pulang kerja agak lama karena banyak pertemuan penting yang tidak bisa ia tunda atau ia batalkan,


Alvaro sangat ingin melewati bagian ia bekerja dan segera pulang menemui istrinya, sekarang rasa rindunya sudah sangat banyak sehingga membuatnya ingin segera pulang dan meninggalkan pertemuan sialan ini,


Sementara dirumah stella dan maria sedang bercanda ria sambil menikmati cemilan buatan maria,


“sayang, bagaimana kita minta bundamu datang kesini agar bertambah rame” usul maria membuat stella menganggukan kepala,


Maria mengambil ponselnya kekamar dan membuat stella cepat-cepat kekamar mandi membersihkan mimisannya yang sudah ditahan stella menggunakan tangannya tadi.


Stella berada dikamar mandi 10 menit kurang karena menunggu mimisannya berhenti sendiri, stella menghela nafas.


‘Tuhan, tolong berikan aku hidup setidaknya sampai anak ku lahir’ doa stella tulus bahkan sekarang tanpa sadar ia mulai menangis, ia tidak bisa membayangkan jika nanti ia akan meninggal tanpa membawa buah hati nya kedunia ini. membayangkan nya saja membuat stella tidak sanggup.


Stella mencuci wajahnya lalu keluar menemui maria,


“sudah menelpon bunda, mi?” tanya stella duduk disebelah maria,


“sudah, kau dari mana?” tanya maria balik,


“perut stellla tiba-tiba sakit mi, stella kira apa ternyata stella ingin boker” jawab stella menyengir kuda, maria menghela nafas,


“ada-ada saja, mami kira ada apa tadi” ujar maria tersenyum membuat stella ikut tersenyum kaku,


“terima kasih bun,” ujar nya mengambil alih pizza dari tangan bunga, maria dan bunga hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat itu.


Mereka lama bercerita stella hanya ikut menimbrung saja karena bunda dan maminya bercerita tentang masa-masa emas mereka.


Stella pamit untuk istirahat, pada bunga dan maria ketika pukul sudah menunjukan jam 16.00.


Stella langsung tidur dikasurnya karena kepalanya sangat sakit, sebenarnya stella masih ingin mendengar lebih banyak cerita dari mami dan bundanya tapi keadaannya tidak mengkondisikan sehingga membuatnya harus istirahat. Belakangan ini kepala stella sangat pusing dan rambutnya banyak yang rontok belum lagi ia kerap mimisan setiap beberapa kali dalam sehari.


Stella tidak takut mati karena setiap yang bernyawa pasti akan menghadap keMaha yang Kuasa, tapi bukan sekarang waktunya.


Stella memejamkan matanya karena tidak tahan dengan kepalanya yang sudah hampir pecah sekarang, stella mengambil sapu tangannya didalam kantongnya dan menyumbat hidungnya yang mimisan.


Sekarang stella sudah menangis karena tidak bisa menahan semua ini, ia takut menutup mata karena didalam pikiranya sekarang jika ia menutup mata stella takut ia tidak bisa lagi membuka matanya.


Stella sungguh tidak kuat, ia menjambak rambut nya sampai sebagian tercabut dan stella tidak bisa merasakan sakit atas itu. Stella menghela nafas dalam tangis lalu memuang asal rambutnya yang rontok. Stella sengaja tidak pernah memakai sisir karena ini yang ia takutkan ia akan melihat rambut nya yang semakin hari semakin berkurang karena penyakit yang menggerogotinya.


Stella meringkuk dalam tidurnya, sungguh stella tidak ingin begini tapi takdir berkata lain padanya. Stella sekarat dan hanya tinggal menunggu waktunya saja ia akan menghadap Tuhan.


Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian 💚


Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.


To be continue.....