
Bab 37
Sebelum sampai apartemennya alvaro menelpon rumah karena stella tidak mengangkat telponnya.
“dimana stella?”
“nonya sedang menonton televisi tuan”
Tut
Alvaro menghela nafas karena firasat buruknya tidak tepat. Alvaro mengabaikan panggilan dari clara, jika ia mengangkat telpon clara maka ia akan lupa jika tujuan awalnya pulang bisa-bisa ia kembali lagi kerumahnya dan menemui clara dan tidak jadi menemui stella.
Sementara dikediaman keluarga besar alvaro, sekarang clara sedang menggeram kesal. Bisa-bisa nya alvaro tidak mengangkat telpon darinya, apa wanita itu begitu penting sehingga alvaro mengabaikannya sekarang. Clara terbayang ketika ia melihat tanda merah dileher stella, clara tidak bisa tinggal diam ia harus menyusul alvaro untuk memastikan wanita itu tidak menggoda prianya. Clara mengambil tasnya, namun sebelum ia pergi maria mencegahnya.
“sayang, kakek dan nenenk ingin berbincang denganmu”
Clara tersenyum lalu mengikuti maria, sekarang clara sedikit merasa senang karena ia sedang berada diatas awan sekarang. Berbincang dengan kakek dan nenek adalah tujuan awalnya yaitu mendapat restu dari mereka. Kalau para tertua sudah memberi izin maka alvaro tidak bisa lagi menghindar. Alvaronya akan selalu menjadi miliknya dan sesuatu yang menjadi miliknya tidak bisa dimiliki oleh orang lain termasuk wanita itu.
Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mendengar kan musik klasik kesukaannya.
Stella sedang menonton merathon drama nya yang belum juga selesai ia tonton. Stella berencana akan menonton hingga tamat hari ini juga karena besok hari libur, stella tidak bisa menyia-nyiakan semuanya.
Drt...drt...
Stella mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari nadia.
“hallo mam?”
“bagaimana keadaanmu sayang?”
“stella baik mam, tidak ada yang perlu dikhawatirkan”
“baguslah, jangan lupa minum obatmu, jangan pernah lupa”
“iya mam, stella akan mengingatnya.”
“iya mam”
Stella tersenyum kecut, ini yang stella tidak inginkan. Ia tidak mau membuat semua orang khawatir tentang kesehatannya. Stella tidak suka itu, stella tidak suka pergi dengan perasaan seperti itu.
Stella memejamkan matanya dan mendudukan dirinya, kepalanya kembali pusing tapi tidak sepusing yang kemarin-kemarin.
‘untung saja tidak mimisan’ batin stella ketika mengecek hidungnya.
“nyonya kenapa? Ada yang perlu saya bantu?” tanya sekar membuat stella langsung menggelengkan kepalanya.
“aku mandi dulu, sepertinya aku perlu berendam air hangat” ujar stella berdiri dari duduknya.
“mau saya siapkan nyonya?”
“tidak, aku sendiri saja” jawab stella cepat dan berjalan kekamarnya.
Stella sudah menyiapkan air hangatnya dan masuk kedalam bathtub, stella memejamkan matanya lalu menikmati aroma sabunnya.
Saat stella ingin bangun dari berendamnya tiba-tiba kakinya sangat keram, stella rasanya tidak bisa bernafas. Stella sudah berusaha bangkit tapi ia tidak bisa. Yang bisa stella lakukan adalah memejamkan matanya dan pasrah mungkin takdirnya mati lebih cepat, mungkin bukan penyakit yang dapat membunuhnya tapi air.
“dimana stella?” tanya alvaro ketika sudah sampai diapartemen.
“nyonya sedang berendam air hangat tuan”
Allvaro menganggukan kepala lalu masuk kedalam kamar, alvaro awalnya tidak berniatan masuk kekamar mandi tapi ia rasa stella sudah lumayan lama berendam. Alvaro masuk untuk mengingatkan stella agar keluar dari bathtub nanti stella bisa sakit.
“STELLA!”
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.
To be continue...