Scenario Of Love

Scenario Of Love
bab 40



bab 40


bunga menjadi orang terakhir yang bergabung dimeja makanm, tidak seperti biasanya.


“mau pergi bun?” tanya velle ketika melihat bunga sudah rapi pagi-pagi begini. Bram melirik istrinya, lalu ikut menganggukan kepalanya.


“setelah sarapan bunda mau berburu diskon, sudah mau akhir tahun pasti banyak diskon dimana-mana” jawab bunga tampak meyakinkan.


Velle mengerti ia menganggukan kepalanya lalu melanjutkan sarapannya.


“velle pamit bun, yah aku ada banyak pasien hari ini”


“iya sayang, hati-hati” ujar bram dan bunga bersamaan.


“ayah juga berangkat kerja bun”


“iya yah”


Setelah velle dan bram sudah pergi barulah bunga bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam kamarnya mengambil tas.


-


Sementara dikediaman alvaro, stella sedang demam tinggi. Pagi-pagi sekali alvaro sudah berteriak-teriak memarahi diana karena ia sangat cemas pada stella.


“MANA DOKTERNYA DIANA!” teriak alvaro sambil memasang kompres kekening stella.


“jangan marah-marah kepalaku bertambah pusing” ujar stella pelan membuat alvaro menganggukan kepalanya.


“mereka memang harus dimarah-marah,”


“al,”


“baiklah-baiklah sayang, aku tidak akan marah-marah lagi” jawab alvaro membuat stella tersenyum lemah, ia hanya demam biasa namun alvaro sudah seperti orang gila saja.


Alvaro naik keranjang lalu memeluk stella,


“aku tidak mau kehilanganmu, aku mencintaimu” ujar alvaro membuat jantung stella berdetak tak beraturan.


Stella memberanikan diri menatap alvaro, ia menatap dalam mata alvaro.


“entah ini kebohongan atau tidak, tapi kau berhasil al. Aku kalah, aku telah jatuh padamu” ujar stella pelan tapi alvaro masih bisa mendengarnya.


“tidak sayang, perasaanku tulus tidak ada kebohongan. Aku mencintaimu” ujar alvaro menjelaskan, alvaro bahkan minta maaf pada maria maminya karena ia telah jatuh cinta pada putri pria yang telah meninggalkan maria.


‘maafkan aku mam, bukankah cinta tidak bisa ditentukan akan pergi kemana’


Stella memejamkan matanya, tidak peduli itu bohong atau tidak karena stella tidak mau mendengar kenyataan. Begini saja dengan alvaro sudah cukup baginya.


“biarkan dokter masuk!” jawab alvaro bangkit dari tempat tidur.


“periksa yang benar paman”


“iya, al ngomong-omong kau menjadi cerewet akhir-akhir ini” jawab bambam sambil tersenyum jahil


“jangan banyak bicara paman, periksa saja dia”


“baiklah, paman mengerti”


Bambam sudah selesai memeriksa stella, ia mengeluarkan obat dari tas kerjanya.


“ini obatmu, dengan dosis yang sama seperti terakhir kali” ujar dr. Bambam pelan berusaha agar alvaro tidak mendengarnya.


“terima kasih dokter”


“obat apa itu paman?” tanya alvaro menatap bambam tajam.


“tentu saja obat untuk menyembuhkan istrimu, memangnya apalagi” jawab bambam membuat alvaro menangguk-anggukan kepalanya.


“oh begitu, paman boleh pergi”


“astaga anak ini tidak sopan sekali”


“pintu keluar paman tau kan” ujar alvaro lagi membuat bambam menganggukan kepalanya.


“iya, paman akan pergi. Terima kasih kembali” ujar bambam mencoba menyindir alvaro tapi itu tidak lah mempan.


“ah, akan ku buatkan bubur agar kau bisa meminum obatmu. Kau tunggu sebentar ya” ujar alvaro membuat stella menganggukan kepalanya.


“bagus” ujar alvaro lalu kedapur untuk membuatkan bubur untuk stella.


“kau pergilah sana, biar aku yang membuat bubur” alvaro mengusir diana dari dapur.


“apa tuan tahu cara membuat bubur?” tanya diana ragu-ragu


“tentu saja tidak, jadi kau harus memberi tahu ku bagaimana cara membuatnya”


“baik tuan”


Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚


Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.


Tbc...