Scenario Of Love

Scenario Of Love
bab 5



Bab 6


Disinilah stella sekarang diapatemen mewah, besar, dilantai paling atas gedung yang hanya orang-orang tertentu yang bisa tinggal disana. Stella bisa menebak pernikahannya tidak akan bahagia seperti novel-novel yang sering ia baca. Bagaimana bisa stella dapat menyimpulkan? Itu karena sekarang saja alvaro tidak ada disini, hanya dirinya dan ruang hampa didalam apartemen seluas ini. stella sedih? Tidak, ia malah menssyukuri hidupnya. Stella lebih baik diabaikan dan tidak terlihat bahkan stella lebih menginginkan alvaro membencinya karena stella tidak biasa menerima cinta. Cinta hanya lah bualan orang-orang yang nantinya akan saling menyakiti satu sama lain. Terserah alvaro ingin melakukan apapun yang pria itu anggap benar dan pria itu sukai, stella akan menutup mata dan telinganya.


Stella menyusun baju-bajunya disebelah pakaian alvaro, terserah nantinya pakaianya akan dibuang oleh alvaro atau tidak yang penting stella menyusunnya terlebih dahulu.


Sudah pukul 10 malam alvaro belum juga menampakan batang hidungnya, stella memilih untuk tidur. Tidak perlu repot-repot menunggu hal yang tidak pasti, urusan alvaro pulang atau tidak bukan urusanya. Disini dia memang seorang istri tapi itu hanya status saja.


Paginya, stella ingin berteriak kencang tapi tertahan karena mengingat ini tempat asing baginya untuk berteriak. Stella mengamati jerawat besar dijidatnya, sangat besar. Wajahnya memang sangat sensitiv mangkanya stella tiidak sembarangan memakai produk bedak yang tidak cocok dengan wajahnya. Stella mengingat sekarang dari mana asal jerawatnya, kemarin bunga memakaikan produk bedak yang biasa dipakai oleh velle.


Stella akhirnya mematong poninya menjadi pendek sehingga menutupi jerawatnya. Stella berpakain rapi stella keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Ia memasak sarapan untuknya dan untuk alvaro.


Stella memilih memasak nasi goreng selain mudah memasak nasi goreng sangat cepat. Stella meletakan nasi goreng dan ceplokan telur diatas meja makan. Karena alvaro tidak tau ada dimana stella memutuskan untuk sarapan sendiri, memangnya apa yang diharapkan oleh stella, sarapan bersama? Tidak.


Stella sampai dikantor tepat waktu seperti biasanya ia langsung menyuting teks yang akan diluncurkan oleh majalah.


Brakkk


Seseorang melemparkan berkas keatas mejanya dengan kasar, stella mendongak kearah seseorang itu.


“SEMUANYA SALAH! KAU BISA BEKERJA ATAU TIDAK! KERUANGANKU SEKARANG!”


Stella menganggukkan kepalanya lalu mengesave filenya baru mengikuti Day yang tak lain adalah bossnya. Day? Hari? Ya, nama boss stella Day wijaya, kenapa dinama kan Day? Hanya orang tua Day lah yang tahu.


“maaf pak saya tidak akan mengulangi nya lagi” ujar stella menghadap Day.


“KAU SALAH LAGI!”


“KATAKAN DENGAN BENAR!”


Stella memutar bola matanya dengan malas lalu dengan santainya ia duduk disofa sambil membaca majalah.


“HEI! BERANI SEKALI KAU! MEMUTAR BOLA MATA ITU PENGHINAAN UNTUK BOSS”


“sudah lah Day aku sedang malas berdebat sekarang, moodku sedang buruk.” Ujar stella membuat Day langsung menghampiri stella dan duduk disebelahnya.


“kenapa? Apa ada masalah?”


“hm”


“ceritakan padaku”


“kau dulu yang ceritakan apa masalahmu sehingga memanggilku kesini” ujar stella membuat Day menghela nafas.


“pacarku kabur bersama pria lain, tidak taukah sarah kalau aku adalah pria baik sedunia tapi dia malah pergi bersama pria pecundang itu.” Cerita day sambil memeluk stella.


Lagi-lagi masalah wanita, Day selalu saja begini. Wanita dan ditinggal wanita.


Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚


Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.