
Bab 150 (EPILOG)
Sekarang Alvaro dan keluarga kecilnya sedang menikmati pemandangan pantai karena sebentar lagi sunset, tadi Rachel berdrama lagi dia menangis sambil guling-guling didepan lift karena ingin pergi kepantai untuk melihat matahari terbenam.
Alvaro tidak bisa menolak putrinya seperti biasanya, walaupun putrinya tidak melakukan drama Alvaro tetap akan mengajak putrinya melihat sunset karena permintaan putrinya sama seperti kewajiban yang harus Alvaro penuhi.
Stella hanya melihat anak dan ayah yang sedang bermain pasir dipinggir pantai, Stella tidak ikutan karena ia malas sekali mandi pantai. Jadilah anak dan ayah yang bermain air dan sekarang tengan membuat rumah pasir.
Stella membayangkan masa depan putrinya yang akan menjadi artis karena masih kecil saja sudah menjadi ratu drama. Sepertinya Rachel dan Sean sangat cocok karena mempunyai ketertarikan dibidang yang sama yaitu Drama, jika Rachel adalah ratu drama maka Sean adalah king of Drama. Jeamin? Anak itu Stella yakin akan melanjutkan karir sang ayah yaitu menjadi penerus.
Stella mengerutkan keningnya ketika Alvaro berbisik pada Rachel dan tidak lama kemudian Rachel berlari padanya.
“mama, ayo buat lumar pasil” ajak Rachel membuat Stella menggelengkan kepalanya.
“Achel sama papa aja ya, mama disini aja” jawab Stella membuat Rachel menyilangkan tangan kecilnya didada sambil cemberut.
“Achel malah ah sama mama, ga mau ngomong sama mama” ujar nya membuat Stella memutar bola matanya dengan malas lalu berdiri dan menggenggam tangan kecil putrinya.
Stella tidak berkata apa-apa ia mengajak Rachel ketempat Alvaro yang sedang menunggu mereka, jadi lah sekarang Stella, Alvaro dan juga Rachel membuat rumah-rumahan dari pasir.
Rachel dan Alvaro sama-sama menghela nafas kesal karena rumah-rumahan mereka hancur karena terkena ombak.
Rachel dan Alvaro kembali membuat rumah mereka sedangkan Stella mengangkat kedua tangannya menyerah.
“mama menunggu dari sana saja sambil menunggu matahari tenggelam” ujar Stella membuat Rachel dan Alvaro sama-sama menganggukan kepala mereka.
“oke mama”
“sayang agak kesini sedikit” ujar Alvaro mengajak Rachel agar sedikit menjauh agar istana mereka tidak hancur lagi terkena ombak.
Istana pasir milik Alvaro dan Rachel kembali berdiri tegak membuat ayah dan anak itu tersenyum penuh kemenangan. Mereka berdua bahkan bertos ria karena keberhasilan mereka.
“hai, duda kau keren sekali. Anaknya juga imut” ujar seorang wanita datang menghampiri Rachel dan Alvaro.
Alvaro tidak menjawab ia hanya menunjuk istrinya yang sedang duduk sambil menikmati es kepala muda.
“oh, baiklah. Semoga langgeng”
“terima kasih”
Alvaro dengan senang hati menunjuk istrinya yang sedang menatap kearah mereka dan para wanita itu mundur teratur lalu pergi.
“papa, udah. Ayo sama mama” ujar Rachel membuat Alvaro mengaggukan kepalanya lalu menggendong putri nya dan membawanya pada istri tercintanya.
“papa duda itu apa?” tanya Rachel membuat Alvaro mengerutkan keningnya bagaimana ia harus menjelaskan pada putrinya.
“duda?”
“iya duda, tadi aunty-aunty menyebut papa duda”
“oh, itu duda artinya kelapa muda sayang. Aunty nya minta kelapa muda sama papa”
“papa kasih?”
“tidak, kan kelapanya untuk Achel sama mama”
“eh iya, ya pa”
Alvaro menghampiri Stella lalu mencium kening istrinya dengan penuh cinta,
“menjadi selebriti em?” tanya Stella membuat Alvaro menggelengkan kepalanya,
“aku hanya mencintaimu sayang, tidak ada dua nya” ujar Alvaro membuat Stella menganggukan kepalanya percaya.
“i love you”
“i love you more and more” jawab Alvaro lalu mencium pelipis istri dan anaknya secara bergantian.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bersama anak dan istrinya, Alvaro, Stella dan Rachel menikmati sunset yang sangat indah.
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.
The end