Scenario Of Love

Scenario Of Love
bab 19



Bab 19


Alvaro selesai bekerja pukul 8 malam dan ketika keluar dari kantor hujan sudah berhenti, alvaro menepuk dijadatnya ia lupa janjinya akan menjemput stella. Alvaro menepuk stirnya, sekarang kenapa dia menjadi sedikit labil seperti ini. alvaro melajukan mobilnya menuju jalan pulang, mungkin saja stella sudah pulang mengingat hari sudah malam.


Sedangkan masih didepan gedung kantor stella masih menunggu alvaro bukan lebih tepatnya menunggu hujan berhenti. Stella naik ke taksi yang sudah ia pesan tadi, mungkin alvaro sibuk mangkanya dia lupa menjemput stella. Stella tidak berharap dijemput oleh alvaro hanya saja stella takut nanti kalau dia pulang duluan alvaro menjemputnya.


Alvaro sampai lebih dulu, ia melihat sekelilingnya dan tidak menemukan stella. Alvaro mengambil ponselnya lalu menelpon stella.


“kau dimana?”


“aku dilift”


Tut.


Alvaro mematikan panggilan, keningnya berkerut kenapa dia baru pulang jam segini?


“sudah pulang?” tanya stella ketika sudah berada didalam apartemen.


“hm, kau sendiri?”


“iya, aku kerumah orang tua ku dulu tadi. Jangan-jangan kau datang menjemputku dan aku tidak ada?” tanya stella sambil tersenyum jahil


“syukurlah, aku ada rapat tadi. Ku kira kau belum pulang menungguku”


“menunggumu, ayo lah al. Aku kan sudah bilang terlambat satu detik saja maka aku akan pulang duluan” ujar stella tertawa renyah.


“sudah makan?” tanya stella menghampiri alvaro dan mengambil alih tas kerja alvaro, alvaro menggelengkan kepalanya.


“kau mandilah, akan ku masakan” ujar stella menampakan senyumnya


“baiklah, akanku letakan sendiri” jawab alvaro mengambil alih tas kerjanya.


Stella melepaskan rompi kerjanya yang sekarang hanya menampakan kemeja putih, stella langsung mengambil bahan-bahan masaknya didalam kulkas.


Stella mulai memasak, ketika ia sedang memotong wartel tiba-tiba saja darah segar keluar dari hidungnya.


“astaga, sepertinya kematianku sudah dekat” ujar stella santai dan membersihkan darah dihidungnya.


“aissss, menyusahkan saja” gerutu stella kesal karena ada noda darah dipergelangan kemeja putihnya.


Setelah membersihkan hidungnya, stella melanjutkan memasaknya.


Makanan sudah diletakan keatas meja makan berbarengan dengan alvaro yang sudah selesai mandi.


“ayo, makan” ujar stella tersenyum pada alvaro.


Stella memasak makanan yang mudah dimasak, mengingat waktu sudah malam.


Alvaro tidak sengaja melihat noda darah dipergelengan kemeja stella, tampak begitu jelas karena kemeja yang stella gunakan bewarna putih.


“tanganmu terluka?” tanya alvaro menunjuk kemeja stella.


“sudah diobati?”


“sudah, walaupun kecil kalau tidak diobati nanti akan infeksi” jawab stella berbohong.


“baguslah”


-


Stella terkejut ketika keluar kamar begitu banyak orang-orang berseragam hitam putih yang berkeliling dikediamannnya ah salah di apartemen alvaro.


“siapa mereka?” tanya stella mendekati alvaro yang baru saja keluar dari kamarnya.


“pekerja” jawab alvaro santai,


“pekerja?”


“hm, mereka sudah dua minggu berlibur saat nya kembali bekerja. Jadi kau tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak”


“kenapa?”


“karena itu memang bukan tugasmu” jawab alvaro meminum kopinya.


Mereka sudah duduk dimeja makan, banyak sekali makanan yang tersaji dimeja makan membuat stella tercengang.


“dia diana, kepala pelayan kalau ada apa-apa beri tahu dia saja”


“oke” jawab stella menganggu-anggukan kepalanya.


Stella sama sekali tidak berpikir kalau alvaro sekaya ini, bukan, bukan berarti stella tidak tau kalau alvaro memang kaya hanya saja stella tidak mengira kalau alvaro akan sekaya ini.


“ah ya, aku hampir lupa mulai sekarang akan ada yang mengantar dan menjumputmu. Jangan gunakan taksi atau pun bus lagi”


“mana bisa begitu?” protes stella membuat alvaro mengangkat jari telunjuknya dan menggelengkan kepalanya.


“aku sudah berpikir keras La, bukan berarti kau tidak becus mengurus rumah, tidak bisa memasak, atau lain sebagainya, dan bukannya aku tidak mau menjemput mengantarmu. Tapi karena memang setiap mereka ada tugasnya, sekarang kau mengertikan”


Stella menganggukan kepalanya,


“baiklah, terima kasih”


“bagus”


Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚


Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author


Tbc