
Bab 34
Clara melemparkan semua barang yang bisa terjangkau dengannya, kamarnya sekarang sudah seperti kapal pecah.
Clara menangis karena alvaro pergi tanpa memberi tahunya, kalau alvaro pergi kekantor clara bisa menerimanya hanya saja alvaro menemui stella dirumah sakit.
Dua hari alvaro mematikan ponselnya, dan selama dua hari itu alvaro sama sekali tidak ingat untuk menelponnya sedikitpun.
Alasan clara membawa alvaro dari apartemen itu untuk menjauhkan alvaro dari stella, tapi bukannya menjauh mereka bertambah dekat.
Clara tidak bisa meremehkan stella, wanita itu tidak boleh menang darinya. Alvaro hanya miliknya seorang dan stella tidak berhak akan alvaro.
Clara mengambil tasnya lalu pergi keapartemen alvaro, ia ingin melihat bagaimana keadaan stella. Benarkan wanita itu sakit? Atau wanita itu hanya berpura-pura saja.
“dimana alvaro dan wanita itu?” tanya clara ketika sampai kekediaman alvaro
“tuan dan nyonya sedang beristirahat” jawab diana membuat clara geram, dengan langkah cepat ia membuka pintu kamar alvaro. Apa ini, clara tidak salah lihat kan. alvaro tunangannya tidur sambi memeluk stella.
Clara ingin berteriak mengeluarkan kekesalannya, namun ia urungkan. Clara keluar dari kamar alvaro, ia harus memikirkan bagaimana caranya stella tidak bisa lagi menempel pada alvaro.
Clara pulang kerumahnya lalu mengambil anggurnya, disaat frustasi begini hanya anggur merah yang bisa menenangkannya.
-
Alvaro sudah mencegah stella bekerja, namun wanita keras kepala itu memaksakan diri untuk bekerja. Alvaro tidak bisa berkata-kata lagi.
“baiklah, mandi air hangat. Aku siapkan”
“terima kasih”
Setelah mandi air hangat dan berpakaian rapi stella bergabung sarapan pagi dengan alvaro,
Stella bisa saja tidak bekerja, hanya saja ia juga mempunyai tanggung jawab. Pekerjaannya tidak bisa ia lalaikan.
“aku yang akan mengantarmu bekerja”
“aku ada sup...”
“aku yang antar atau tidak sama sekali!” ujar alvaro dingin membuat stella merinding, belakangan ini alvaro suka aneh.
“baiklah kau yang antar”
Alvaro mengantar stella hingga depan gedung kantor,
“aku pergi, terima kasih tumpangannya”
“sama-sama, kalau ada apa-apa langsung telpon aku” ujar alvaro membuat stella memutar bola matanya dengan malas.
“iya”
“kenapa?”
“ada yang ketinggalan” stella mengerutkan keningnya, ketinggalan? Apa?
“tidak ada” jawab stella karena merasa memang tidak ada yang tinggal
“ini” ujar alvaro mendekatkan diri lalu mencium kening, hitung dan juga bibir stella.
“itu yang tinggal” ujar alvaro membuat stella terkekeh
“kau hati-hati” ujar stella mencium sekilas bibir alvaro lalu keluar dari mobil.
Stella menghidupkan komputernya, ia sudah sangat merindukan komputernya ini. walaupun tugasnya menumpuk tetap saja stella sudah mulai menyukai pekerjaanya yang sekarang ini.
“dari mana kau 5 hari ini?” tanya mia membuat stella mendongakkan kepalanya.
“sakit” jawab stella jujur dan kembali menatap komputernya.
“benarkah?”
“hm”
Mia tidak bertanya lebih lanjut ia kemeja sari memeriksa pekerjaan anak magang itu, karena kalau tidak diperiksa maka kesalahan-kesalahan baru akan muncul.
Day langsung keluar memastikan jika stella tidak masuk kerja hari ini, karena wanita itu harusnya beristirahat sekarang.
“kau? Kau keruanganku sekarang”
Stella menghela nafas lalu mengikuti day dari belakang.
“Siapa yang menyuruhmu masuk kerja em?” tanya day gemas sendiri
“aku suntuk, aku butuh kerja”
“kau harusnya istirahat, nonton drama yang biasa kau tonton”
“aku sedang tidak mood, lagian episode lanjutan dramanya belum keluar”
Day menghela nafas, melarang stella sama seperti bicara pada batu. Percuma saja.
Jangan lupa like n komen n SHARE keteman-teman kalian💚
Karena satu dukungan dari setiap kalian sangat berharga untuk author.
Tbc...