
Setelah memastikan tidak ada sampah di tempat kami duduk barulah kami pergi dari tempat itu. Sejujurnya aku masih merasa mengantuk dan berharap bisa tidur lagi setelah sampai di rumah sayangnya begitu sampai di depan pagar rumah, aku di kejutkan dengan kak Alex yang seakan sudah menanti kedatangan kami berdua.
“Dari mana kalian?”
Aku sangat mengantuk saat itu, aku langsung melangkah menuju ke pintu gerbang tanpa peduli dengan ucapan kak Alex. Saat kak Alex akan mencegahku, Andi dengan cepat menghadangnya hingga dia tidak bisa mendekatiku sedikitpun. Aku meneruskan langkahku hingga ke dalam rumah dan segera mencari tempat untuk merebahakan diri. Sementara di luar kak Alex masih di hadang oleh Andi.
“Apa-apaan kamu!”
“Gini deh, dari pada kamu makin memperkeruh masalah kalian, mending kamu pikir aja apa salah kamu dan segera minta maaf!” Andi kembali ke motornya.
“Apa maksudmu?”
“Aku sebenarnya males urus hidupmu, tapi karena kamu adalah orang yang Azia suka jadi, aku hanya akan membantu sedikit saja karena aku tidak terlalu berharap kalian akan benar-benar bertahan untuk selamanya.”
“Jangan cari masalah!” kak Alex mengahampiri Andi dan menarik kerah baju Andi.
“Dari pada kamu marah gak jelas dan membuang waktu, mending kamu cari tahu siapa yang menangkat telpon saat Azia menghubungimu kemarin atau Azia akan benar-benar tidak bisa memaafkan kamu kali ini!”
“Maksud kamu apa?” Kak Alex melepas tangannya dari Andi lalu mulai sedikit tenang.
“Entahlah, pikir saja sendiri, bye!” Andi langsung tancap gas tanpa memberikan penjelasan pada kak Alex hingga membuat beberapa kerutuan di kening kak Alex mulai muncul.
Karena kak Alex di larang masuk ke rumah oleh Fara makanya dia hanya bisa menungguku sebentar di luar dan kembali ke rumah sakit karena mendapatkan panggilan kerja.
***
Beberapa hari berlalu dan kami belum berbaikan, aku masih belum mau bertemu kak Alex dan teman-teman juga membantuku untuk bisa menghindari kak Alex. Tapi kegigihan kak Alex tidak bisa di kalahkan, kak Alex terus saja berdiri di depan pagar hingga tante Mita tidak tega melihat wajah pucatnya itu dan akhirnya mengizinkan dia masuk hingga halaman depan saja. Kak Alex berdiri di bawah balkon kamar ku sambil membewa sebuah buket bunya mawar putih dan beberapa bunga mawar lainnya di tata berbentuk hati di sekitar kak Alex berdiri.
“Azia! Azia!” Dia terus memanggil aku berulang kali.
“Azia, udah keluar aja, dia berisik banget!”
“Beb, gimana kalau kita siram aja biar dia cepat pulang?!”
“Jangan dong! Kasihan kak Alex kedinginan nanti!”
“Biar aja kali Azia, biar sekalian dia mandi sore hahaha” Fara tertawa puas membayangkan rencananya benar-benar terjadi.
“Gak boleh!”
“Kalau gitu kamu keluar ajalah beb, pusing ni kepala aku dengar teriakan dia!”
“Iya, aku keluar!”
Lalu aku meninggalkan tugas yang sedang aku kerjakan lalu keluar melihat kak Alex dari balkon kamar. Meski jauh aku bisa melihat wajah kak Alex pucat, aku khawatir dengan keadaanya tapi, aku masih sangat kesal pada dia.
“Ngapain kakak kesini? Pulang saja kakak ke pacar baru kakak itu!”
Lalu Mia dan Fara langsung keluar saat mendengar apa yang aku ucapkan.
“Pacar apa? Apa di sialan itu selingkuhin kamu?” Tanya Fara yang mulai emosi.
“Katakan Beb, apa dia punya cewek lain?” Tanya Mia.
“Azia!” Fara mendesakku, aku tidak bisa mengatakannya sekarang disaat kak Alex masih dihadapan mereka.
“Nanti aku cerita, biar aku suruh kak Alex pulang dulu!”
Lalu Mia dan Fara kembali masuk ke dalam dan dalam hitungan menit mereka kembali dengan seember air yang mereka bawa.
“Buat apa?” Tanyaku yang kaget melihat mereka membawa air cukup banyak.
“Ya biar si sialan itu cepat pulang dan kamu bisa cepat cerita ke kita apa masalahnya”
“Azia, minggir dong! Berat nih!”
“Please jangan lakukan itu!” Aku memohon pada mereka dengan menyatukan kedua tangan.
“Oke, tapi kami cuma kasih 5 menit!”
“Makasih Fara cantikku!”
Lalu aku kembali melihat kearah kak Alex.
“Azia! Aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu dengan tulus! Aku tidak pernah punya wanita lain dan tolong percaya itu!”
“Bohong tu, bohong jangan percaya!” Ucap Mia dan Fara yang berdiri di belakang aku.
“Sst! Kalian diam dulu, aku mau ngomong!”
“Iya”
“Kak, kalau emang kakak cinta sama aku terus siapa cewek yang angkat telponku beberapa hari yang lalu!”
“Azia, handphone ku hilang, kalau kamu tidak percaya tanya pada Ibu, kamu tahukan kalau Ibu itu lebih menyayangi kami dari aku, Ibu tidak akan menutupi kalau aku salah, sayang percayalah padaku!”
Tak lama setelah itu beberapa kotak kue datang dan di letakkan melingkar sama seperti bunga mawar yang di letakkan sekeliling kak Alex.
“Wih mantap banget tu! Aku harus turun!” Fara langsung berlari.
“Tunggu aku ikut!” Teriak Mia yang menyusul Fara.
“Kak, tunggu di situ!”
Aku menyusul dua temanku yang telah di butakan oleh kue yang super lezat di sekeliling kak Alex.
“Gue dukung lo bersatu sama Azia!” Ucap Fara yang sedang memilih-milih kue mana yang akan dia makan terlebih dahulu.
“Aku juga! Kamu boleh kok masuk ke rumah dan bicara sama Azia dan biarkan kami berkencan dengan kue yang super enak dari toko Sri Pelangi yang terkenal itu”
Sungguh kedua mata sahabatku sudah di butakan dengan kue yang kak Alex pesan. Aku berlari kearah kue itu tapi kak Alex malah menagkapku dan menggendong aku. Mataku tidak bisa berhenti menatap kue yang terkenal super enak dan susah buat di pesan itu, tanganku mencoba menggapai kue itu tapi sayangnya kak Alex yang menggendongku malah membawa aku semakin menjauh dari kue super enak itu.
“Kue ku…” Teriakku dalam hati sambil melihat Tante Mita dengan sendok di tangannya dan di ikuti beberapa pelayan ikut memakan kue yang hanya bisa aku bayangkan rasa enaknya itu.
“Mia! Fara! Help me!”
Bukannya membantuku mereka malah melambai-lambaikan tangan dan tersenyum puas padaku.
“Kue…” Keriakku dengan suara kecil.
“Kamu bilang apa sayang?”
Kak Alex membuka pintu dan meletakkan aku di kursi depan dan memasangkan sabuk pengaman lalu membaku pergi, aku masih melihat mereka yang pastinya sedang happy makan kue di taman tanpa aku.
“Ah kak Alex!” Gerutuku kesal dengan sesekali melihat arah belakang.
“Ada apa sayang?”
“Akukan mau juga kue yang tadi! Pokoknya aku mau kue!!!” Teriakku kesal pada kak Alex yang sedang fokus menyetir di simpang masuk jalan raya.
“Ada tu di bekang, nanti kita makan di rumah ya sayang!”
Aku langsung menoleh kebelahkang dan ternyata ada dua kotak kue dengan logo khas dari toko kue Sri Pelangi. Aku sangat senang waktu itu hingga lupa kalau aku sedang marahan dengan kak Alex.
Bersambung….