
Sesampai di rumah Fara tidak bicara sepatah katapun padaku, aku juga tidak tahu harus mulai bicara apa dengan dia. Aku menyayangi Fara seperti keluarga tapi, permintaanya kali itu membuat aku harus berpikir ribuan kali karena bagiku kak Alex sama pentingnya seperti persahabatanku dengan Fara, Mia dan Andi.
Setelah bersih-bersih, aku berencana untuk beristirahat lebih cepat karena merasa kalau tubuhku cukup lemas dan mataku terasa sedikit panas. Ketika aku memejamkan mata rasanya aku baru saja tertidur tapi, begitu membuka mata aku melihat Fara dengan matanya yang sedikit bengkat dan merah karena baru saja menangis sambil menggenggam tanganku.
“Ada apa?” Tanyaku yang tidak mengerti dengan situasi.
“Maafkan aku, Azia! Maafkan aku! Tolong jangan sakit lagi! Jangan tinggalkan aku!” Dia terlihat sangat khawatir dan sedih tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Fara ucapkan.
“Azia!” Mia masuk dengan wajah panik ke kamar.
Aku mencoba bangun tapi, ternyata kepalaku terlalu pusing hingga tidak bisa bergerak dari tempat tidur.
“Ada apa? Kenapa kalian seperti ini?”
“Tadi tiba-tiba saja badan kamu sangat panas dan kamu sudah tidak sadarkan diri selama 4 jam lebih. Aku takut, aku takut Azia, kamu seperti kakekku! Tolong jangan sakit!” Fara terlihat sangat tulus khawatir padaku.
“Kenapa kamu tiba-tiba sakit? Apa kamu main hujan? Atau apa?”
“Ini semua salahku, harusnya aku tidak membawamu pulang saat hujan, maafkan aku yang berkata kasar dan membuat mu sakit hati!” Fara terlihat sangat menyesal, aku bisa merasakan rasa takutnya saat dia menggengam tanganku.
Fara yang sangat menyayangi kakeknya dulu masih trauma dengan kematian kakeknya karena sebuah penyakit yang sudah lama disembunyikan dari Fara. Fara merasa bersalah karena tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama kakeknya dan hanya bisa melihat kakeknya tiada dalam rasa bersalah yang mendalam. Trauma yang dimiliki Fara membuat dia terkadang sangat mudah khawatir tiap kali salah satu diantara kami sakit, apa lagi kalau sampai tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama.
“Fara, ini bukan salahmu. Semua karena aku yang lemah, aku yang tidak bisa menjaga diri.”
“Sekarang bagaimana perasaanmu?”
“Aku sudah merasa lebih baik, lagian tadi aku hanya merasa seperti tertidur saja. Apa dokter memberi obat? Biar aku minum sekarang”
“Tidak, kamu belum makan! Tunggu aku akan membawa makanan untukmu” Fara berlari keluar dengan cepat.
“Azia, aku pikir kamu kena penyakit mengerikan hingga membuat Fara sampai menangis histeris saat menghubungiku, untung saja kamu cuma demam! Lain kali jangan main hujan, paham!”
“Siap bos!”
“By the way, aku dengar kamu nungguin si Alex sampai hujan-hujanan, ya?”
“Kamu tahu dari mana?”
“Andi yang ngasih tahu. Tapi itu gak penting! Yang pentingnya si Alex lagi keluar kota sama kak Hendrik kemaren sore, besok mereka baru balik”
“Oh…” Aku kecewa tapi ya mau di buat apa, toh gak ada yang bisa aku salahkan saat itu.
“Aku punya kabar baik nih!”
“Kabar apa?”
“Aku punya pacar baru yang super imut, dia itu anaknya pintar dan juga paling penting dia patuh banget!!”
“Kabar baiknya dimana?”
“Ya itukan termasuk kabar baik, Zia! Kakaknya punya toko roti yang ada di dekat hotel milik keluarga kami”
“Nah, itu baru kabar baik! Minta dia bawain roti isi dong!”
“Gampang! Besok aku suruh dia bawain, kamu mau isi apa?”
“Coklat, strobery, kacang, terus…”
“Gak sekalian aja kamu bilang semua rasa”
“Ide bagus tu! Hehehe…”
Lalu Fara masuk dengan membawa makanan untuk ku.
“Kamu bisa bangun?” Tanya Fara sambil meletakkan napan berisi makanan di atas meja.
“Sini aku bantu” Mia membantuku bangun.
“Mau di suapi?” Tanya Fara dengan tatapan berharap aku mengatakan iya.
“Aku kan bukan anak kecil lagi, aku bisa makan sendiri.”
Fara memberikan makanan itu padaku dan aku sedikit kaget karena piring itu berisi dengan makanan yang cukup banyak.
“Kok ini lengkap banget sih? Udah ada sayur, ikan, ayam, telur, sampai daging ada?! Mana mungkin aku bisa memakan semua ini?”
“Kamu terlalu sering sakit, terlalu kurus dan terlalu pucat, ayo cepat makan!”
“Eum… Enak banget, kalian gak makan?”
“Kamu tahu sendiri kalau kami makan jam segini pasti berat badang kami bertambah tapi kalau kamu kan enggak”
“Hahaha… Sabar ini ujian!”
“Katanya makanannya kebanyakan tapi kok udah tinggal tulang aja tu dalam piring?”
“Hehehe… Ya, mau gimana lagi makanannya kelewat enak jadi gak sadar kalau semua sudah masuk pertu”
Fara mengambilkan air untukku, “Minum dulu, setelah itu minum obat lalu istirahat”
“Besok kamu libur ajalah Azia!”
“Jangan! Aku udah merasa mendingan kok, lagian setelah minum obat aku pasti akan merasa lebih baik dan besok pastinya aku udah sembuh total”
“Kamu yakin?” Fara terlihat ragu dengan semangatku.
“Sungguh, aku sudah merasa lebih baik! Apa perlu aku loncat-loncat buar kalian percaya kalau aku sudah merasa lebih baik?”
“Tidak perlu, sekarang minum obatmu lalu istirahat, kalau besok belum baikan kamu sebaiknya tidak masuk, jangan memaksakan diri!” Fara memberikanku obat dan kemudian aku meminumnya.
“Makasih kalian selalu perhatian dan paling peduli padaku!”
“Tentu saja kami peduli karena bagi kami mau sudah seperti keluarga, adik kecil kami yang harus di jaga. Azia, kamu jangan pernah lupa kalau semua hal yang kami lakukan itu karena kami sayang menyayangimu, kami hanya ingin kamu bahagia.”
“Iya, aku ngerti kok kalau kalian peduli sama aku tapi, soal kak Alex… Itu tidak bisa, aku tidak bisa melepaskannya, Fara!”
“Mungkin aku tidak akan mendukungmu dengan dia tapi, kali ini aku akan berusaha untuk tidak memaksamu untuk berpisah dari dia. Tapi kamu harus tetap ingat tentang kesepakatan kita, kalau suatu hari kalian putus kamu harus mau kami kenalkan dengan pria lain, paham?!”
“Iya, pokoknya sekarang aku cuma mau bilang kalau aku sayang kalian dan terimakasih karena telah menjadi teman super perhatian dan mau mengerti aku.”
“Sekarang karena masalah sudah beres dan kamu sudah minum obat, saatnya ratu rakus tidur!”
“Kalian juga, ya?!”
“Iya, kamu tidur saja dulu”
Setelah meminum obat itu mataku terasa sedikit mengantu terlebih memang waktu sudah menunjukkan jam 11 malam yang artinya aku sudah harusnya tidur. Fara membereskan piring makananku dan Mia ya seperti biasa dia mulai membuka handphone dan main game karena tidak ada yang bisa dia hubungi saat itu, pacarnya yang sekarang tidak bisa di ganggu di jam tidur karena dia merupakan orang yang peduli dengan waktu.
Bersambung….
Jangan lupa meninggalkan jejaknya dengan meninggalkan like, vote dan juga jangan lupa memberikan reting 5 untuk novel ini.