
{jangan lupa tinggalkan like dan vote nya sayang ku biar semangat nulisnya ❤️}
Tangan Alex tiba-tiba menahan ku saat aku akan mengangkat piring kotor itu dari meja, aku menoleh seolah aku bertanya lewat tatapanku ‘ada apa?’ padanya.
“Biar aku yang bereskan. Mana ada ratu yang mengerjakan pekerjaan kasar ini” Ucapnya sambil mencoba menepis tanganku dari piring kotor yang rendah aku angkat itu. “Sayang tunggu di sini saja, biar aku yang bereskan semua” Dia mengecup pipi ku lalu bergegas membereskan semua piring kotor dan membawanya ke dapur.
“Memang yang terbaik menikahi pria seperti kak Alex” Pikirku sambil tersenyum menatap punggung Alex yang sedang berjalan ke arah dapur.
Tak lama sebuah pesan masuk dari temanku yang sedang di Australia.
Aulia: Hai, sayang! Apa kabarmu sekarang? Apa sedang sibuk?”
Aku: Aku baik. Bagaimana kabarmu?”
Aulia: Apa kamu sibuk?
Aku: Tidak. Aku sedang bersantai sekarang.
Lalu Aulia menghubungiku.
“Hallo, peri kecil ku” Sapa nya dengan nada gemas dan heboh seperti biasa.
“Aulia, kamu harus berhenti memanggilku seperti itu” Ucapku sedikit kesal.
Aulia adalah salah satu temanku dari universitas yang sama, dia orang Indonesia yang mendapat beasiswa di Amerika waktu itu. Tapi karena sesuatu terjadi pada akhirnya dia kuliah di universitas lain dan mengambil jurusan desainer, kini aku dengar dia sudah memiliki brand sendiri dan itu cukup terkenal.
“Ayolah, sayang ku jangan marah begitu. Eum… Apa kamu mau datang ke acara fashion show ku?”
“Heum.. Aku tidak yakin. Tapi bagaimana kalau aku tidak datang, apa kamu marah?” Tanyaku ragu.
“Siapa sayang?” Alex datang dan duduk di sampingku lalu menyandarkan kepalanya di pundak ku.
“Aulia, temanku” Ucapku dengan setengah berbisik.
“Ayo ke ruang keluarga saja, di sini tidak enak untuk ngobrol” Bisik Alex pada telingaku yang sedikit sensitif.
Aku langsung bangun dan pergi ke ruang keluarga meninggalkan Alex.
“Apa kamu tega padaku? Kamu sudah pernah melewatkannya sebelumnya. Masa kamu akan melihatnya lagi? Aku akan sangat kecewa dan marah padaku kalau kamu melakukannya lagi” Ucapnya dengan nada ngambek seperti anak kecil.
Begitu aku mulai duduk di sofa Alex yang berada di belakangku malah menarik ku untuk di pangkuannya. Padahal sofa itu besar tapi dia tidak memberiku kesempatan untuk bisa duduk di sisi lain.
“Kak” Keluhku dengan nada manja.
“Ada apa?” Jawab Aulia yang mendengar rengekan ku.
“Tidak ada. Tadi kamu mengatakan apa?”
“Aku mau kamu hadir acara ku kali ini!”
“Oke. Aku akan usahakan”
“Kamu wajib datang!” Ucap Aulia lagi dengan nada sedikit membentak tapi terdengar lucu di telingaku.
Saat aku sedang bicara Alex malah membuat aku geli dengan sesekali meniup telingaku, lalu dia mulai mencium leher belakangku yang membuat ku dalam sensasi yang tidak bisa aku deskripsikan.
‘Eumm..’ tanpa sadar aku mengeluarkan suara yang aneh seolah aku menikmati setiap gerakan Alex mencium leherku.
“Kamu kenapa?” Tanya Aulia khawatir.
“Tidak ada.”
“Jadi kamu akan datangkan?” Tanya Aulia lagi padaku.
Saat aku akan menjawab pertanyaan itu, tangan Alex malah mulai meraba ke tubuhku membuat aku sedikit geli dan tidak bisa berkata-kata, tangan lincahnya membuat aku kehilangan isi kelapa ku.
“Azia, kenapa kamu diam?” Aulia terus bicara tapi aku terlalu hanyut dalam sentuhan lembut Alex.
“Hah?! Itu. Iya aku akan datang. Nanti kita bicara lagi”
Aku berbalik dan menatap ke arah Alex yang tersenyum nakal dengan tatapan seolah-olah dia ingin melahap ku.
“Apa boleh?” Tanya Alex dengan tangan sudah mulai kembali berkeliaran menyentuh tubuhku dengan lembut.
“Jangan di sini, bagaimana kalau di kamar?” Tawar ku yang mencoba menahan tangannya menyentuh dadaku.
“Kenapa tidak di sini?”
“Kak…”
“Baiklah”
Lalu dia menggendongku menaiki tangga dan menuju kamar. Perlahan dia meletakkan ku di kasur yang lembut dan empuk bak awan itu, lalu matanya menatap cukup dalam, tangannya mulai membelai rambut, pipi, lalu mulai berakhir ke bibirku. Mata kami saling bertemu tapi, dalam beberapa detik matanya tertuju pada bibiku yang tadinya sedang dipermainkan oleh jarinya.
“Kenapa semakin hari kamu semakin cantik” Ucapnya belum akhirnya dia ******* bibirku.
Ciuman itu awalnya sangat lembut lalu perlahan berada di tahap yang lebih hingga aku hampir sulit bernapas, dia mulai melepaskan ciuman panas itu saat merasa aku akan berada di titik tidak bisa bernafas lagi.
Napas ku benar-benar tidak teratur, bahkan saat dia melepas ciuman itu aku mulai menghirup udara seolah oksigen di udara akan habis.
‘dringgg!’
handphone ku berbunyi cukup keras di sampingku, aku benar-benar lupa untuk mematikan suara hingga momen ku dan Alex sedikit berantakan.
“Jangan di jawab” ucapnya yang mulai mencium leherku dengan sangat ganas.
‘dring!’
Aku mencoba meraih handphone yang terus berdering itu tapi Alex malah menahan tanganku dan menguncinya dengan satu tangannya yang besar. Ciuman penuh gairah itu mulai melebar ke arah lain, sensasi yang ditimbulkan membuat aku tidak bisa memberontak.
‘Dring’
Handphone k uterus berbunyi dan itu membuat pikiranku jadi teralihkan, aku mencoba memberontak dan mengambil handphone itu. Awalnya aku hendak mematikan handphone itu dan melanjutkan kegiatanku dengan Alex tapi, di layar tertulis nama ‘Alham (Green World)’. Aku segera menggeser badan Alex dan menjawab panggilan itu.
“Ada apa?” Tanyaku tanpa basa-basi.
“Masalah tanah yang anda incar, sepertinya ada beberapa masalah jadi saya tidak bisa..”
Beberapa hari yang lalu aku meminta Indah untuk membeli tanah di area Utara, karena aku pikir ingin membuat perkebunan teh dekat villa yang baru aku beli, tapi karena dia cuti semua masalah itu di serahkan pada Alham.
“Hah!” Aku langsung bangun dan berjalan ke arah jendela kaca yang ditutupi tirai berwarna biru tua dengan motif bunga mawar yang cukup indah..
“Bagaimana bisa, bukan waktu itu katanya hanya tinggal diskusi tentang harga saja?” Lanjut ku.
“Saya tahu, tapi pemilik tanah memiliki masalah dengan anggota keluarga lainnya, penawaran kita ditolak karena diantara mereka ingin menjualnya pada pihak lain.” Jelasnya.
“Jangan bercanda! Atur jadwal untuk bertemu dengan pemiliknya, aku ingin bicara dengan mereka.” aku mulai meninggikan suara.
Aku sangat kesal begitu tahu tanah incaran itu malah akan diberikan pada orang lain, padahal aku yang pertama mengincar tanah itu.
“Ada apa?” Tanya Alex yang berjalan ke arahku.
Aku hanya menoleh pada sumber suara itu, “Lalu atur juga ulang jadwalku untuk minggu ini, di hari jumat sampai minggu tolong kosong kan. Lalu, aku ingin kamu mempersiapkan perjalanan ku untuk ke Paris, dan ya, siapkan juga hadiah, detailnya kita bicarakan di kantor.”
“Baik. Zia, apa kita bisa bicara tentang beberapa hal sekarang?” Dia mulai bicara dengan nada informal.
“Jika itu tentang pekerjaan maka, tentu.” Jawabku tegas.
“Baiklah. Kalau begitu aku hanya ingin mengatakan, tentang laporan yang kita bahas sore tadi aku sudah mengirimnya lewat email, kamu bisa memeriksanya sekarang”
“Aku akan memeriksanya sekarang, aku akan menghubungimu lagi nanti”
Aku segera menutup telepon itu.
“Apa yang kalian bicarakan sampai, istriku terlihat sangat kesal.” Tanyanya dengan nada lembut.
“Hanya pekerjaan, kak sepertinya tidak bisa malam ini, aku harus memeriksa beberapa laporan penting”
“Apa lebih penting dari aku?” Tanya Alex dengan tangan mulai melewati pundak ku lalu dia memeluk ku lembut dan menopang dagunya di kepalaku.