
“Azia! Kamu udah gila ya? Cepat turun nanti jatuh!”
“Tunggu dulu! Aku ambil mangga yang ini dulu”
Aku mencoba meraih buah mangga yang paling menarik perhatianku, buah yang paling besar dan beraroma paling menyengat, jaraknya sedikit lebih jauh dari dahan tempat aku berpijak. Aku tahu Andi pasti sangat kesal karena aku tidak mendengar ocehannya.
“Sedikit lagi! Sedikit lagi! Hampir sampai… Ah, dapat” Ya memang aku mendapatkan mangga yang aku targetkan tapi sayangnya aku yang terlalu fokus pada buang mangga akhirnya terpeleset dan jatuh.
Andi berlari menghampiriku, tanganku masih memeluk buah mangga. Waktu jatuh ke tanah sebanarnya tidak terasa sakit karena mungkin aku terlalu bersemangat dan bahagia mendapatkan apa yang aku incar.
“Sayang ada suara ribut apa?” Ibu Andi datang.
“Nih Azia bandel banget, bun! Dia naik ke pohon mangga itu lalu jatuh, nih sekarang dia masih aja pegang mangga yang dia petik sendiri”
“Loh, kenapa kamu naik ke atas pohon mangga itu? Padahal bisa pakai galah”
“Ada galaknya tante?”
“Andi gak bilang tadi?!”
“Loh kok jadi salah aku? Bunda, Azia ini tadi aku suruh tunggu dulu karena aku mau ganti baju, tiba-tiba dia main lari ke sini dan sekarang lihat akibatnya?!”
“Maafkan aku tapi, gak sakit kok. Pohonnya juga gak tinggi”
“Kalau gitu coba berdiri!”
“Baik”
Saat mencoba berdiri rasa sakit dari tulang ku yang mungkin patah terasa sangat luar biasa hingga aku ingin menangis rasanya tapi, aku malu pada Andi setelah mengatakan kalau aku tidak sakit.
“Tu bisa kan aku berdiri”
“Bisa sih bisa tapi, tu air mata udah mau keluar! Udah gak usah di paksa, biar aku gendong ke dalam terus kita panggil dokter buat periksa, sekarang diam!”
Aku hanya mengangguk saja dan membiarkan Andi menggendongku ke dalam rumah, kamu bertiga duduk di ruang tamu sambil menunggu dokter datang.
“Udah, mangga nya sini ini dulu!” Andi menarik mangga yang belum aku lepas dari tadi.
“Jangan di makan, ya!”
“Iya, dasar kamu ini, sudah sakit masih mikirin makanan”
“Biarin!”
“Dasar anak bandel!”
Tak lama setelah itu dokter datang dan segera memeriksa kakiku, katanya tidak terlalu parah tapi aku tidak di bolehkan berjalan selama seminggu. Aku mengambil cuti dan duduk di rumah Fara. Setelah kejadian itu aku hanya tidur makan dan tidur lagi di kamar karena aku tidak bisa berjalan. Kak Alex kadang berkunjung tapi hanya sebentar karena dia merasa tidak enak pada orang tua Fara. Sejujurnya aku ingin keluar dari rumah dan pergi ke sekolah seperti biasa tapi, Fara dan keluarganya melarang ku, katanya aku harus sembuh total baru boleh sekolah seperti biasanya, sebagai gantinya dia memberikanku semua buku yang aku suka dan memberikanku beberapa buku yang sudah lama ingin aku beli. Aku bertanya-tanya apa yang sedang mereka pelajari tanpa aku di kelas, atau apa Andi menggoda cewek lagi atau yang dilakukan teman-teman tanpaku di sana. Aku selalu merasa resah tiap kali tidak bisa melakukan apapun, aku merasa ada bagian yang kosong tiap kali melihat teman-teman berangkat sekolah tapi aku hanya berdiam diri di kamar.
“Ini sungguh membosankan, aku ingin menghubungi kak Alex tapi, di jam segini biasanya dia sibuk, kalau kirim pesan dia biasanya gak bales, jadi bosan banget hari ini”
“Uh hmmm… Aku harus apa?” Aku berguling-guling di kasur sambil berpikir apa yang bisa aku lakukan siang itu.
‘tok tok tok’
“Tante masuk, ya sayang!”
“Iya, Tan. Ada apa tante?”
“Katanya kamu gak makan siang ini kenapa sayang? Tante buatin ayam goreng kesukaanmu loh!”
“Azia lagi gak pengen makan aja, Tan”
“Tumben banget kamu nolak makanan, apa lagi ini ayam kesukaan kamu, serius gak mau nih?”
“Beneran? Sayang sekali, padahal ayamnya enak banget, renyah banget dan rasanya tu eum… Enak banget, banget banget banget deh!” Tante Mita malah menyantap ayam yang dia bawa di depanku dengan ekspersi yang membuat aku tergoda untuk mencobanya juga.
“Apa seenak gitu tan?”
“Eum, iya ini enaknya kebangetan deh! Coba aja dulu!”
Pada akhirnya aku kalah dengan tante Mita dan aku menghabiskan makanan yang di bawa tante Mita untukku.
“Tante”
“Iya sayang”
“Makasih udah mau merawat Azia, membiarkan Azia tinggal, dan memperlakukan Azia seperti keluarga”
“Iya sayang, karena kamu bagian dari keluarga ini juga” Tante Mita mengelus rambutku dengan lembut dan tersenyum seperti seorang ibu padaku.
“Loh kenapa kamu nangis?”
“Azia tidak punya ibu tapi, Azia tidak pernah merasa kehilangan karena tante udah Azia anggap seperti Ibu Azia sendiri”
Tente Mita memelukku, dia adalah seorang ibu yang begitu hangat dan seorang yang paling baik setelah nenek bagiku.
“Udah jangan nangis sayang, tante jadi ikutan sedih nih! Udah, sekarang anggap aja kami keluarga kamu dan kalau kamu punya masalah apapun tante siap kok dengerin dan bantu, apa lagi kalau cerita tentang pacar barumu itu, oh iya, nama anak itu siapa?”
“Namanya Alex tan, dia itu anak yang pernah nyelametin Azia waktu di rundung saat SMP dulu, tante ingatkan waktu itu Azia cerita”
“Oh, dia anaknya?! Tapi kayaknya dia takut sama om kamu deh, tiap kali mampir dia selalu di kerjain sama Om mu makanya dia selalu pulang setelah mengantar makanan untukmu, dia itu lucu sekali saat gugup”
“Benarkah? Azia belum pernah lihat kak Alex gugup karena biasanya dia terlihat seperti seorang laki-laki yang penuh semangat dan percaya diri, dia tampan’kan tante?”
“Iya, tempan tapi sepertinya dia terlalu dewasa, ya’kan?”
“Eum soal itu… Iya dia agak lebih tua dari aku sih, tan”
“Emang berapa sih usianya?”
“25 tahun”
“APA? Kamu pasti di jampe jampe sama dia, nanti tante cariin orang pintar biar kamu bisa di sembuhin”
“ish, tante ini ada-ada aja, masa tente percaya sama yang kayak gituan sih?”
“Azia sayang, kamu pasti di guna-guna sama dia, gak mungkin kamu suka sama anak itu, ya’kan? Mantan kamu saja dulu lebih baik, dia terlalu tua untukmu sayang, bagaimana dengan masa depanmu kalau bersama dia?” Tente Mita tiba-tiba terlihat panik.
“Tante, tenang dulu! Azia, beneran kok cinta sama kak Alex bukan karena di guna-guna”
“Gak, pasti kamu diancamkan sama dia? Katakan apa yang dia lakukan hingga kamu setuju pacaran sama dia?! Sayang, jangan takut, tante ada di pihakmu dan tante akan melindungi kamu, katakan apa dia mengancam kamu?”
“Tidak, Tante! Azia serius dia itu anaknya baik banget, gak mungkin lah dia mengancem Azia, lagian Azia kenal dengan orang tuanya, mereka baik banget sama Azia, Tente!”
“Kamu gak bohong’kan?”
“Iya, tante lihat mata Azia, Azia gak bohong, Azia benar-benar mencintai dia dengan tulus”
“Baiklah, tante percaya tapi, kalau putus nanti tante cari orang lain buat kamu, ya sayang?”
“Iya, tenang aja Azia gak akan putus dengan kak Alex kok, tan!”
Bersambung…
Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan, kalau ada kesalahan bisa tulis di komentar agar bisa di perbaiki. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dari kalian😁😁😁