
Minggu pagi, jadwal kak Alex sengaja di kosongkan hanya untuk bisa berduaan denganku. Dia menjemput ku di pagi hari ketika Mia dan Fara masih belum siap menerima matahari muncul, aku benar-benar sangat suka saat kami berjalan berdua di taman sambil bergandeng tangan dan berbicara santai.
“Kamu sudah siap?” Tanyanya padaku yang baru selesai memasang sabuk pengaman.
“Siap!”
Kami berjalan dengan santai, menikmati setiap detik kebersamaan yang kami miliki. Kak Alex tiba-tiba memegang tanganku dan membuat aku sedikit kaget dengan sentuhan hangat tangannya.
“Sayangku, coba deh sesekali jangan panggil aku ‘kak Alex’”
“Ya terus mau panggil apa? Lagian panggilan itu udah aku anggap kayak panggilan sayangku buat pacarku tercinta ini.”
“Sekali saja, coba panggil aku sayang saja”
“Baiklah sayangku”
Dia tersenyum puas saat aku menuruti ucapannya, padahal itu bukan hal yang baru tapi terasa menyenangkan karena dia sangat mengingatkannya. Kami memarkirkan mobil di taman lalu berjalan kaki menelusuri jalan setapak di taman itu. Tangannya begitu hangat hingga aku merasa tidak ingin melepasnya lagi, entah sejak kapan aku benar-benar mengingat aroma tubuh kakak Alex. Dari genggaman tangannya aku bisa merasakan aliran darahnya, seakan aku tahu dia juga merasakan debaran yang sama denganku. Kadang aku selalu berpikir apa yang akan terjadi saat kami tua nanti, apa kami bisa bergandeng tangan seperti ini tanpa rasa ragu.
“Cuacanya cerah sekali, aku pikir hari ini sangat cocok untuk berdiam diri di taman dan menikmati angin yang menyejukkan dengan pemandangan hijau yang menenangkan bersama dengan kakak” Rasanya aku tidak ingin melepas pelukanku darinya.
“Azia!”
“Iya”
“Aku mencintaimu”
Ucapan yang terlalu mendadak tanpa aba-aba membuat jantungku tidak terkendali, wajahku memerah padahal itu bukan ungkapan cinta pertama dari kak Alex padaku. Aku melepas pelukannya dan menutupi mukaku yang sudah sangat panas itu.
“Kenapa di tutup mukanya? Coba aku lihat”
“Ih! Gak mau!”
Kak Alex terus saja berusaha menarik tangan yang menutupi wajahku.
“Azia!” Suara lembut yang sangat menyebalkan di telingaku karena dia membuat aku tidak bisa berkutik.
Andi datang dan menghampiri kami. Teman yang tidak peka itu malah duduk di dekatku dan menari tanganku yang sedang menutupi mukaku.
“Oi! Ada apa dengan wajahmu?”
“Apaan sih Andi?!” Aku melepas tangannya yang menarik tanganku dan menatapnya dengan tatapan kesal.
“Eh, aku pikir salah orang hahaha… Untung kamu beneran Azia, tadi cuma tebak aja, benar-benar beruntung.”
“Ya, sekarang apa?” Ucapku dingin
Andi benar-benar tidak peka dengan keadan kami berdua, dia seakan mengabaikan keberadaan kak Alex dan bicara seperti biasa.
“Tadi aku ke sini bareng teman-teman tapi, mereka pada ngilang semua, aku gabung sama kalian gak papa’kan?”
“Gak papa pantatmu?!” Pikirku tapi tidak mampu aku ucapkan karena aku takut kak Alex tidak menyukai gadis kasar.
“Terserah” Ucapku cuek.
“Hai! Aku temannya Azia, Andi!” Dia memperkenalkan diri pada kak Alex yang terus memandangi Andi.
“Ya, aku Alex pacar Azia”
“Aku udah tahu kali! Eh, gimana kalau kalian belikan aku makanan? Anggap aja aku anak kalian, gimana?”
“Jijik banget aku punya anak kayak kamu, pergi beli sendiri sana!”
“Boleh, uangnya mana?” Dia mengulurkan tangannya dan meminta uang pada kami berdua.
“Dasar kambing beranak! Udah pikir jadi anak kami beneran, ya? Nih uang! Sana pergi jauh-jauh!” Aku mengeluarkan uang dan memberikannya pada Andi.
“Makasih Mama dan Papa sayangku!” Lalu dia menghilang secepat kilat.
“Dasar anak itu!” Aku benar-benar kesal pada Andi yang mengacaukan kencanku.
“Teman kamu unik juga ya? Eum, pakek panggil kita Papa, Mama segala, hahaha.. Apa semua teman kamu kayak gitu?”
“Gak lah! Cuma dia aja yang agak gila dikit” Ucapku kesal.
“Udah jangan marah, anaknya kan udah pergi sekarang kita bisa lanjutkan berduaannya’kan?!”
“Iya” Aku kembali ceria setiap kali dia tersenyum kearah ku.
Aku pikir dia benar-benar pergi tapi ternyata Andi kembali dan duduk di dekat kami berdua.
“Please deh Andi, kamu jomblo ya?”
“Udah gak papa kalau dia mau gabung sama kita, lagian dia gak ganggu kok”
“Kakak… Dia itu mengganggu!”
“Gak boleh gitu Azia, pacar kamu aja bolehin, udah anggap aja aku anak kalian berdua dan kalian boleh kok lanjutin mesra-mesraanya” Andi duduk sambil memakan es krim memalingkan wajah dari kami berdua.
“Dasar kampret sialan! Awas aja di sekolah kamu, ya?!” Pikirku.
“Kakak lihat dia! Mengganggu pemandanganku!” Ucapku manja pada kak Alex.
“Kalau gitu lihatin aku aja, gimana?”
“Eis, kakak ini gemesin banget sih!” Aku mencubit kak Alex.
“Aduh! Sakit sayang”
“Aku kasih tahu ya, Papa! Si Mama Azia ini di juluki capit kepiting, soalnya kalau udah nyubit tu sakitnya kayak di jepit sama kepiting gitu”
“Hai! Tutup mulutmu anak sialan!” Akhirnya aku terbawa suasana dan melempar Andi dengan sandalku.
“Sayang, sabar! Udah, jangan di ladeni anak itu”
“Heu heu heu… Aku gak mau ada dia di sini! Pokoknya suruh dia pergi!” Aku menangis karena terlalu kesal pada Andi yang seakan tidak perduli pada aku yang tidak menyukai keberadaannya.
“Udah gak usah nangis, nih aku kasih es krim coklat!” Andi malah memberikanku es krim yang dia beli untuk dia makan sendiri.
“Apaan ini??! Aku kasih uangnya banyak tadi, kenapa aku dapatnya satu?! Gak mau, aku gak rela pakoknya!” Aku kembali menangis karena masih kesal pada Andi.
“Udahlah! Dasar perhitunggan! Nih buat kamu semua! Puas?!” Tanyanya kesal
“Eum” Aku mengguk senang.
“Sebanarnya kamu nangis karena Andi mengganggu kita atau kerena dia makan es krimnya sendiri?”
“Dua duanya lah! Sekarang sana pulang ke sarangmu!” Bentakku pada Andi yang duduk di hadapanku.
“Enak aja bilang sarang! Emangnya kamu pikir aku ini burung, apa?”
“Terserah!” Aku menikmati es krim itu sendiri dan tidak memperdulikan Andi yang terlihat kesal karena aku merebut es krim yang dia beli untuknya sendiri.
“WOI!!! Kalian cepat sini!” Andi memanggil teman-teman yang kebetulan ada di teman itu juga.
“Ada apa Andi?” Tanya mereka yang datang.
“Azia beli banyak es krim tu, kalian mau?!”
“Eh, boleh ambil nih? Makasih, Azia?” Mereka semua mengambil es krim yang ada di depanku dan menghabisinya.
“Udah jangan nangis nanti aku beli lagi” Bisik kak Alex yang menyadari aku akan mulai merengek lagi.
Setelah mendapatkan es krim itu mereka segera pergi, saat semua sudah menghilang aku mulai memukuli Andi yang menyebalkan.
“Kamu sengajakan?!”
“Azia, apaan sih?!”
“Kamu sengaja menggil mereka karena aku mengambil makananmu’kan? Dasar jahat!” Aku memukul Andi dengan sandalku yang tinggal sebelah.
“Kan kamu duluan yang ambil punyaku, udah ah, bye!” Andi melarikan diri dan kak Alex menahanku saat aku akan mengejar Andi.
“Udah jangan di kejar, kita kan lagi kencan, sayang”
“Iya tapi dia..”
“Udah, nanti aku ganti semua es krimnya, aku beli lebih banyak jadi jangan sedih lagi ya sanyangku”
“Iya tapi, tetap aja aku kesal sama anak itu, pokoknya aku harus bales dia besok!!!”
“Gak boleh gitu, udah dimaafin aja!”
“Karena kakak yang minta yaudah, aku maafin dia tapi, hanya untuk kali ini aja!”
“Pacarku memang gadis yang baik hati, sekarang ayo jalan-jalan sebentar sebelum makan siang”
Dia mengelus rambutku dengan lembut, lalu kamu berkeliling taman sambil bergandeng tangan. Tadinya aku masih kesal pada Andi tapi, dengan berada di dekat kak Alex dan bergendeng tangan rasanya amarahku sirnah dalam hitungan detik. Setelah itu kami menikmati kencan kami yang normal seperti biasa tanpa gangguan dari hama yang bernama Andi lagi.
Bersambung…
JANGAN LUPA LIKE NYA DAN SAMPAI JUMPA DI NEXT EPISODE