
“Hore!!!” Fara menari-nari kegirangan, sesekali dia meloncat sambil melihat handphone.
“Ada apa dengan dia?” Mia dan aku saling menatap dan bicara lewat mata kami.
“Gak tau, kerasukan setan kali?!”
“Sepertinya begitu, kamu tanya dong Azia!”
“Nope, kamu aja sendiri yang nanya aku mau selesaikan catatan ku”
Lalu kami kembali pada kegiatan kami, aku kembali meringkas materi dari buku yang baru saja aku dapat dari perpustakaan.
Fara masih terlihat kegirangan sendiri, dia terus saja tertawa, meloncat dan menatap layar handphone miliknya dengan tatapan penuh kegembiraan.
“Makasih sayangku” Fara memelukku dengan tiba-tiba hingga aku menjadi kaget dan membuat catatan milikku tercoret.
“Fara, kamu ini kenapa, sih? Ada hal baik apa sampai kamu sesenang ini?” Aku agak kesal karena catatan ku yang rapi jadi tercoret dengan Fara yang bertingkah terlalu heboh.
“Andi! Andi, Azia!” Dia kembali duduk di tempat tidur dengan mata berbinar-binar dan aura kegembiraan yang bertebaran di seluruh ruangan.
“Ada apa dengan Andi, Fara?” Tanyaku yang sebenarnya tidak penasaran.
“Andi mengajak aku jalan akhir pekan ini, aku senang banget!!!”
“Oh… ku pikir kenapa, kalau itu sih aku udah tahu kan aku yang minta dia ajak kamu jalan”
“Maka dari itu aku berterima kasih banget sama kamu, sayangku” Fara kembali bangun dan menghampiri yang sedang mencoba menyerap materi dari buku yang sedang aku baca, kemudian dia mencubit pipiku.
Rasanya sangat sakit ya meski aku tahu dia tidak bermaksud menyakiti aku. Aku mengelus kedua pipiku dan kembali melanjutkan membaca dan meringkas buku itu.
“Iya, iya sebagai bentuk terima kasih untuk aku, gimana kalau kamu mempersembahkan nilaimu yang meningkat agar aku juga bisa merasa kebahagiaan yang sama?”
“Lah kok itu? Kenapa sih kamu dikit-dikit di sangkut pautkan dengan pelajaran dan nilai sekolah?”
“Karena sebagai guru les kalian, hal yang paling membuat aku bahagia itu saat kalian bisa mendapatkan nilai yang bagus dengan cara jujur”
“Iya, iya nanti aku usahakan”
Lalu Fara mulai membongkar lemari dan mencari baju yang paling cantik untuk digunakan di kencan pertamanya dengan Andi.
“Lihat ini! Apa ini tidak terlalu heboh?”
“Udah tahu nanya?” Mia sekilas melirik kearah baju yang di perlihatkan Fara, lalu dia kembali fokus pada game yang sedang dimainkan.
“Kamu ini, gak asih banget sih Mia!”
“Cari yang lebih santai dan nyaman, jangan terlalu heboh, Fara!” Saranku yang tidak melihat kearah baju yang Fara tunjukkan.
“Oke”
Setelah membongkar semua akhirnya dia menemukan satu baju yang dia rasa bisa menarik perhatian Andi tapi, tidak norak atau pun terlalu heboh untuk di gunakan di kencan pertamanya.
***
Hari kencan pun tiba, Mia tidak di rumah karena dia juga kencan dengan pacar barunya setelah Dirga pulang ke Amerika beberapa minggu yang lalu.
“Semangat!!” Aku memberikan semangat pada Fara yang akan pergi kencan hari itu.
“Doa kan aku agar bisa meluluhkan hati Andi, ya!”
“Sip”
Lalu Fara keluar dengan terburu-buru, aku hanya melihat dia pergi dari pintu bersama dengan tante Mita.
“Kamu gak pergi kencan juga, Azia?”
“Kencan? Dengan siapa tante?”
“Bukannya kamu punya pacar? Seingat tante pacar kamu itu kan dokter, ya’kan?”
“Entahlah tante, Azia tidak mengerti dengan dia, kadang dia sangat perhatian tapi ada saatnya dia benar-benar mengabaikan Azia hingga membuat Azia berpikir kalau dia sudah meninggalkan Azia”
“Jangan begitu dong sayang, mungkin aja dia sibuk, kan dokter itu biasanya sibuk”
“Kalau gitu, tante mau keluar juga hari ini sama om mu, nanti kalau ada apa-apa hubungi tenta saja, ya?”
“Iya, tante! Eum.. Kayaknya Azia juga mau ke rumah bu Dewi saja, udah lama Azia gak kesana, Azia kangen sama bu Dewi.”
“Kalau pergi, jangan pulang malam, ya sayang?”
“Baik tante!”
Lalu aku pergi bersiap-siap untuk ke rumah bu Dewi. Di sana aku tidak bertemu dengan kak Alex hingga sore hari, setelah itu kami bertemu saat aku akan pulang, kak Alex tidak lagi menghindari aku tapi rasanya masih ada yang salah dengan sikapnya meski aku tidak tahu apa yang salahnya. Aku tahu kak Alex kelihatan lelah tapi, bu Dewi sangat memaksa agar kak Alex yang langsung mengantarkan aku pulang, katanya biar ada waktu bicara berdua di jalan. Tidak banyak pembicaraan di dalam mobil karena kelihatannya kak Alex benar-benar kelelahan, wajahnya terlihat lesu dan di bawah matanya terlihat ada kantung mata yang muncul meski tidak terlalu jelas.
Begitu sampai aku langsung menuju ke kamar dan di saat itu aku di kagetkan dengan Fara yang sedang menangis di kasur sambil menutup mukanya dengan bantal.
“Fara kamu kenapa?” Aku mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
“Andi, dia membuat kacau kencan pertama kami.”
“Memangnya dia buat apa?”
Fara bangun dan bersandar padaku sambil bercerita tentang kencannya yang gagal itu.
Beberapa jam yang lalu, Fara masih bersama Andi di sebuah restaurant untuk makan siang.
“Andi, coba lihat menunya, kamu mau pesan yang mana?”
Andi membuka menu lalu melihatnya sekilas dan kembali meletakkannya di meja.
“Gak tahu, kamu aja yang pilih”
“Kalau gitu aku mau pesan…”
“Andi!” Seorang cewek datang bersama dengan teman-temannya menghampiri Andi.
“Sania, kamu dari mana?”
“Tadi habis belanja sama teman-teman terus mampir ke sini, kamu mau makan siang juga? Kita bareng aja, ya?”
“Oke, ayo duduk”
Lalu cewek-cewek itu duduk bersama Andi dan mereka bercerita ria tanpa peduli dengan kehadiran Fara, sampai akhir pun Fara hanya jadi pajangan di sana.
“Mereka yang tadi itu siapa?” Tanya Fara yang kesal.
“Kamu pasti gak mau tau, mending kita langsung nonton terus pulang”
“Terserah!” Fara terlihat cemberut sejak masuk ke bioskop di tambah Andi yang tidak pernah benar-benar memperhatikan dia.
Saat keluar dari bioskop Fara kembali mempertanyakan hal yang sama, dia masih terganggu dengan kejadian di tempat makan dan dia juga masih sangat super penasaran dengan siapa cewek yang terus menggandeng Andi di restaurant saat itu.
“Andi tolong jujur, sebenarnya siapa cewek yang tadi?”
“Yang mana? Yang barusan? Aku juga gak tahu pas keluar dia minta nomorku, aku juga lupa nanya siapa nama dia” Andi yang gak peka malah menjelaskan kejadian lain yang terjadi di belakang Fara.
“ANDI!!!” Fara semakin geram dengan kelakuan Andi, makan siang mereka sudah cukup kacau ditambah dengan sikap Andi yang tidak menghargai kehadiran Fara di sisinya.
“Ada apa?” Tanya Andi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Sudahlah! Aku mau pulang sekarang!” Fara benar-benar ngambek.
“Oh, oke!” Andi kelihatan tidak bersalah sama sekali dan dia terkesan tidak peduli dengan perubahan mood Fara sore itu.
Lalu Andi mengantar Fara pulang dan tanpa berpamitan dia langsung pergi dengan terburu-buru.
Lain orang lain pula kisahnya, lain juga kesialannya, kalau aku di cuekin oleh kak Alex dan Fara di buat kesal sama kelakuan Andi, beda lagi sama cerita si Mia yang sehari setelah Dirga pulang dia dapat pacar baru dan hari yang sama dengan Fara kencan, Mia juga punya janji kencan dengan pacar barunya.
Pagi itu Mia dan pacarnya barunya yang bernama Yanto pergi ke taman, mereka menghabiskan pagi dengan jalan-jalan sambil bergandengan tangan, mereka menyusuri jalan setapak sambil berbagi cerita keseharian mereka ketika tidak bisa bertemu.
Bersambung….
Jangan lupa like, vote, dan yang jelas jangan pernah lupa kasih reting 5 untuk novel ini. Kalian boleh kok komen apa aja dan termasuk memberikan saran agar novel ini berkembang lebih baik lagi.