
“Azia, kamu lagi ngapain di dapur pagi-pagi gini?” Mia dan Fara datang ke dapur menghampiriku.
“Aku masak buat makan siang kak Alex?”
“Eh, masak? Kamu yakin?” Fara terlihat sayang syok dan tidak percaya dengan keahlian masak ku.
“Tenang, aku udah lihat resepnya kok”
“Suka-suka kamu lah Azia, kami mandi dulu” Lalu mereka pergi.
“Eh, kamu yakin Azia buat makanan? Dia gak buat racun buat si Alex, ya’kan?”
“Udahlah Mia, kalau Alex mati nanti kita cari cowok baru aja buat Azia, gampang’kan?”
“Ide bagus tu”
Tak lama setelah beberapa kegagalan aku membungkus bekal itu dengan rapi di sebuah kotak makan berbentuk hati.
“Mia, Fara! Lihat masakan aku udah siap! Ayo di coba?!”
“Eh, gak bisa aku udah makan, Mia aja dia tadi belum makan”
“Apa? Tega kamu Fara!”
“Kalian gak mau cicipi masakan ku, ya?”
“Gak, bukan gitu, iya kami cicipi deh!”
Pada akhirnya Mia dan Fara mencicipi masakan ku, saat pertama memasukkan makanan itu ke mulut mereka wajah mereka berubah menjadi sedikit aneh.
“Enak banget! Si Alex sialan itu pasti suka, aku jamin tapi, pas kamu bawa makannya suruh dia makan di depan kamu, ya?!”
“Eum, emangnya kenapa Fara?”
“Biar dia bisa bilang secara langsung ke kamu kalau makanannya enak”
“Ide bagus, kalau gitu aku bersiap-siap dulu, kalian berangkat aja duluan” Aku segera pergi ke kamar dan bersiap berangkat ke sekolah.
“Iya”
“Eh, kamu serius bilang itu enak?” Tanya Mia.
“Udah kamu diam aja, biar si Alex juga merasakan apa yang kita rasakan, biar dia gak dapat yang enak aja, dia perlu di beri sedikit rasa pahit hahahah..”
“Eh, mending kita minum obat diare sebelum perut kita mulai berpesta”
“Oke!”
Setelah siap aku segera membawa bekal itu ke rumah sakit tempat kak Alex bekerja dan kebetulannya saat sampai di rumah sakit, kak Alex baru saja turun dari mobil di parkiran.
“Kak!!” Aku berlari menghampirinya sebelum dia masuk ke rumah sakit.
“Azia, kenapa kamu disini? Kamu tidak sekolah?”
“Iya ini aku mau ke sekolah, nih buat kakak.”
“Apa ini?”
“Bekal makan siang, coba di cicipi sekarang dong kak?”
“Kenapa emangnya?”
“Kata Mia sama Fara tadi, kakak harus cicipi dulu di depanku biar bisa beri pujian secara langsung gitu”
“Eum, coba aku cicipi” Dia membuka kotak bekal itu lalu mencicipi makan, dia seperti tidak menalan makannya.
“Kak, apa enak?” Ucapku dengan wajah berharap di puji.
“Iya enak sekali sayang tapi, lain kali kamu rasa dulu, ya. Tadi pas masak ucap kamu cicipi sendiri dulu?”
“Gak sih, soalnya aku buru-buru, lain kali akan aku rasa dulu tapi, emangnya kenapa?”
“Gak ada, cuma sebaiknya makanan yang di buat di cicipi dulu sebelum di sajikan, kalau gitu cepat berangkat sebelum kamu terlambat” Seperti biasa dia selalu saja mengelus rambutku dengan lembut sebelum aku pergi.
Setelah aku pergi dengan taksi, Alex segera menghubungi Mia dan Fara.
“Hai kalian gila, ya?”
“Udah sampai racun penuh cintanya? Udah rasain masakannya ya? hahahah… Emang enak, makan tu masakan penuh cinta” Mia dan Fara tertawa menengar Alex kesal.
“Ya biar kamu juga merasakan apa yang kami rasa hahahah… Udah, nikmati aja bekal penuh cinta, masakan pertama Azia, kami mau masuk sekolah dulu, bye” Mia langsung mematikan telponnya.
Rencana mereka benar-benar sukses dan Alex kesal dengan ulah teman-temanku yang sengaja ingin Alex merasakan masakan yang tidak layak makan itu. Sementara itu di lain sisi Mia dan Fara sedang tertawa puas membayangkan wajah Alex yang menahan rasa tidak enak dari masakan teman mereka. Dan di saat yang sama aku membawakan bekal untuk Andi.
“Andi!”
“Ada apa?”
“Nih buat kamu?”
“Eh, kenapa tiba-tiba baik banget nih, pakek acara bawain bekal segala?” Andi terlihat senang menerima bekal dariku walau dia sedikit mencurigai niatku.
“Gak, cuma kalau di ingat-ingat semanjak pindah ke sini aku sering makan bekal kamu, ya’kan?”
“Ternyata kamu sadar juga! Jadi, ini sebagai ganti rugi, gitu?”
“Ya, bisa di bilang gitu sih! Coba dulu dong dan kasih aku pujian”
Lalu Andi pun memakan bekal yang aku berikan.
“Uek uek uek” Andi memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
“Aku minta maaf soal kencan kalian waktu itu tapi, gak kayak gini juga kalau mau balas dendam, masa kamu mau racunin aku sama makanan yang rasanya aneh ini?” Ucap Andi kesal sambil terus mencoba menghilangkan rasa aneh dari masakan ku dengan meminum sebanyak mungkin air yang ada di tengannya.
“Emang makananku kenapa?”
“Kamu coba aja sendiri?”
Lalu aku mencoba masakan itu dan benar saja rasanya aneh, rasanya super aneh, gak hanya asin aja tapi kayaknya aku kebanyakan masukin micin jadi rasanya super aneh.
“Iya gak enak, lalu bagaimana nih dengan kak Alex?” Aku mulai sedikit panik karena takut kak Alex sakit karena aku.
“Kenapa?”
“Tadi aku juga memberikan makanan yang sama ke dia, oh tidak!! Sekarang pasti dia berpikir kalau aku gadis yang tidak bisa memasak dan aku tidak bisa menikah dengan dia!!!”
“Gak usah lebay deh! Lagian gak bisa masak udah biasa, ngapain juga ada pembantu kalau kamu bisa melakukan semua tugas rumah tangga? Udah lain kali gak usah masak atau akan ada yang mati kerena masakan aneh mu itu!”
“Dasar Andi jahat!! Mulutmu itu udah setajam silet!”
“Aku bilang kayak gini untuk pentingan dunia, dan agar mengurangi jumlah kematian tiap tahunnya”
“Hai, maksud kamu masakan ku adalah penyabab kematian orang gitu”
“Aku gak bilang gitu loh, kamu sendiri aja yang berpikir kayak gitu, sekarang aku masuk ke kelas dulu, daaa” Dia pergi dengan cepat setelah mengatakan apa yang ada dalam otak kecilnya yang menyebalkan itu.
Aku segera menghubungi kak Alex dan merangnya memakan masakan ku, aku takut dia sakit kerena makan masakan yang tidak layak makan itu.
“Kak, makanan yang tadi dibuang aja, ya?”
“Loh kenapa, dek?”
“Ya karena tadi aku udah coba dan rasanya… Pokoknya tidak layak makan, buang aja, kalau kakak gak buang aku akan datang dan buang sendiri makanan itu”
“Iya iya aku buang, kamu gak marahkan?”
“Aku gak marahlah, aku akan marah kalau kakak tetap memakan makanan itu dan sakit karena aku, aku gak mau kakak sakit karena aku sangat menyayangi kakak”
“Iya, aku juga sayang kamu kok adik mungilku. Udah, aku kerja dulu ya calon ibu anak-anakku”
“Ish! Apaan sih kakak ini, bikin malu aja”
“Kamu gak suka?”
“Bukannya gak suka, malahan aku sangat suka, udah sana kerja, love you pacarku”
“Love you too calon istriku”
“Ih, kakak”
“Iya gak lagi deh, aku kerja dulu”
Dan begitulah kami saling menggoda saat sedang berbicara di telpon hingga kadang sulit untuk memutuskan percakapan karena alasan itu.
Bersambung…
Jangan lupa LIKE, Komen dan Favoritkan ya kawan-kawan