Obsession Of Love

Obsession Of Love
Ngambek



Wajah kak Alex saat itu terlihat seperti sedang banyak pikiran, dia terus menatap ke depan dengan tatapan kosong dan itu membuat aku sedikit merasa khawatir padanya.


“Kak, apa kakak baik-baik saja?”


“Kenapa kamu gak mau di jemput di sekolah?”


“Kakak marah cuma gara-gara itu?”


“Apa kamu malu pacaran sama aku? Apa Andi lebih baik dari aku? Kalian terlihat sangat serasi, si cewek pintar dan si cowok populer”


“Kakak ngomong apa sih?”


“Gak ada, ayo kita langsung pulang saja”


Dia benar-benar terlihat aneh, dia tidak bicara sepanjang jalan dan sikapnya benar-benar berbeda dari biasanya.


“Kak, aku mau es krim” Pintaku dengan manja mencoba mencairkan suasana.


“Baiklah, kita berhenti di depan, nanti kita beli es krim” Dia tersenyum tapi senyumnya berbeda dari biasanya dan aura yang dia keluarkan itu jauh dari biasanya.


“Sayang, aku mau yang itu!” Tunjuk ku pada es krim yang aku suka.


“Boleh” Seperti biasa dia selalu menuruti apa yang aku minta tanpa pikir panjang.


“Kalau yang itu”


“Boleh”


Aku sengaja meminta banyak hal hari itu, aku ingin dia marah dan mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya tapi, sayangnya semuanya gagal, aku malah mendapat banyak stok makan yang lebih dari yang aku pikirkan.


“Sayang! Sayang!”


“Ada apa?” Dia tidak menanggapi ku seperti biasa dan itu membuat aku sedikit sebal padanya.


“Kenapa kakak tidak memanggilku sayang juga, kenapa kakak tidak menatapku, kakak tidak memelukku saat aku memeluk kakak tadi, ini sangat menyebalkan”


“Baiklah, aku minta maaf, sayangku! Aku benar-benar sedang banyak pikiran saja, aku minta maaf karena mengabaikan kamu”


“Akan aku maafkan kalau kakak mencium keningku” Aku berpura-pura manyun siapa dia mau menciumiku.


Biasanya dia tidak akan mencium keningku saat aku minta dan mencium malah mencium bibirku. Tapi kali itu dia benar-benar penurut dan membuat aku semakin curiga pada keadaanya. Dia benar-benar mencium kening ku dan kali itu aku benar-benar kesal karena dia terlalu menuruti permintaanku.


“Aku benci kakak, aku mau turun saja!”


Aku keluar dari mobil dan membawa tasku.


“Loh kenapa? Dek, tunggu!” Dengan wajah kaget sekaligus bingung dia mengejar ku.


Aku kembali karena aku lupa membawa cemilan yang aku beli, lalu aku pergi dengan taksi yang kebetulan lewat di tempat itu. Sampai di rumah aku benar-benar menangis sambil ngemil dan makan es krim yang aku beli bersama dengan kak Alex.


“Azia, kamu kenapa?” Teriakan terakhir yang aku dengar sebelum mobil melaju dengan cepat.


“Hai! Aku pulang kawan-kawanku yang tercinta… Eh, kamu lagi nangis?” Tanya Mia yang baru masuk ke kamar.


“Eh, enak tu es krim, minta satu dong” Fara langsung membuka semua barang belanjaan ku.


“GAK BOLEH! Heu… heu..”


Padahal aku sudah bertekad menangis tanpa suara tapi saat ada yang meminta makananku aku jadi semakin kesal.


“Udah sayang, sebenarnya kamu kenapa?” Fara memelukku.


Lalu aku menceritakan apa yang terjadi di perjalanan pulang, mereka terlihat sangat serius mendengar ku tapi saat di akhir cerita mereka malah seakan menganggap aku sedang mendongeng.


“Lah, aku pikir keadaannya seru, itu kan masalah biasa aja dan bisa di bilang gak penting-penting amat buat ditangisi, By the way, es krim ini enak banget, lain kali kita stok di rumah, ya”


“Aku setuju”


“Hai! Apa kalian mendengar ceritaku atau enggak sih?”


“Dengar kok, beb! Lagian masalahnya cuma karena dia gak mencium mu di bibir aja, ya’kan?”


“Tapi… Tapi biasanya dia tidak begitu!” Ucapku kesal mengingat hal itu.


“Sayangku, kamu terlalu banyak berpikir, lagian kan kamu sendiri yang suruh mengecup kening mu, salah dia dimana?”


“Salah lah! Pokoknya dia salah! Kalian belain aku dong!”


“Iya di belain kok”


‘ tok tok tok’


“Nona! Tuan Revan di depan meminta Izin masuk”


“Oke, suruh tunggu di pintu, kamu akan keluar”


“Oi! Mana nih pajak masuknya?!”


“Ini, nasi goreng special ekstra ayam dan ini Ayam geprek nya, udah sekarang boleh masuk?”


“Nope! Kami periksa dulu dong barangnya, cacat gak, kalau oke baru boleh masuk”


“Beb, lihat enak banget, wih… Pengen langsung makan, udah biarin aja dia masuk”


“Oke, sekarang boleh masuk!” Ucap Fara dengan nada dingin pada Alex seperti biasanya.


“Azia ada di kamar, lagi nangis merana gitu! Dia kesal karena kamu mencium keningnya, udah sana baik kan!” Jelas Mia pada kak Alex yang akan menaiki tangga.


Lalu kak Alex langsung ke lantai atas untuk menemui ku setelah memberikan pajak masuk pada dua orang yang suka malak itu.


‘tok tok tok’


“Dek, apa aku boleh masuk?”


“Gak boleh!”


“Kalau gitu aku pulang dulu”


‘klek’ aku membuka pintu dan menariknya masuk.


“Kenapa kakak mau pulang? Kenapa tidak membujukku untuk membuka pintu?!”


“Tapi kamu tetap membukanya,kan?”


Dia masuk ke kamar dan aku berjalan di depannya.


“Cih! Kakak sangat licik, selalu tahu kelemahan ku” Ucapku sedikit kesal.


“Makanya jangan ngambek gitu, sini aku peluk”


Dia memelukku dengan erat, aku sangat senang karena dia ada di sana saat itu, meski aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan kami yang hampir menginjak satu tahun itu, aku merasa kalau banyak masalah yang belum selesai tapi, aku tidak pernah tahu masalah apa yang sebanarnya ada diantara kami berdua.


“Sayang, kamu sudah gak marah lagi?”


Aku menggelengkan kepala dan kembali memeluknya, tubuhnya yang lebih besar dariku membuat aku merasa sangat nyaman tiap kali memeluknya, dia begitu hangat hingga aku tidak ingin melepasnya.


“Sayang, kalau kamu udahan ngambeknya, aku mau kembali ke rumah sakit dulu, ya?!”


“Kenapa? Apa tidak bisa di sini lebih lama lagi?”


“Tidak bisa sayang, aku ada jadwal malam, aku benar-benar harus pergi”


“Gak mau, aku mau kakak di sini!”


“Yaudah, aku akan di sini sedikit lebih lama, setelah itu aku akan kembali ke rumah sakit, ya?!”


“Eum”


Aku terus memeluknya hingga tanpa sadar aku tertidur di sofa saat sedang bersamanya. Ketika bangun aku sudah berada di tempat tidur dan Fara berkata kalau aku terlalu lelah menangis lalu tertidur saat sedang duduk bersama kak Alex di kamar itu. Kak Alex langsung pergi setelah memindahkan aku ke tempat tidur, dia menitip salam dan juga sebuah coklat untukku.


“Sekarang kalian sudah baik kan, ya’kan?” Tanya Mia padaku


“Iya”


“Enak banget ya jadi kalian berdua, berantem terus baikan dalam sehari, putus pun cuma sehari dulu, ya’kan? Terus ngambek nya juga sebentar aja, kalau kayak gini sih kalian bakalan nikah nanti”


“Betul benget tuh Mia! Si Azia ini terlalu bucin sama si Alex sialan itu, makanya dia selalu bisa memaafkan apapun yang di lakukan si sialan itu”


“Fara, berapa kali aku katakan kalau dia bukan ‘si sialan’ dia punya nama dan namanya itu ALEX!”


“Iya tahu! Gak ngerti deh sama jalan pikir mu, Zia! Kamu kok suka sama cowok kayak dia itu, ya ganteng sih tapi kan terlalu tua banget sayang!”


“Gimana kalau aku kenalin sama teman aku yang keren dan tampan banget, anaknya baik dan pengertian, gak cemburuan, intinya dia cocok sama kamu”


“Kak Alex itu tampan dan pengertian, dia juga bukan tipe cemburuan, lagian aku cuma bisa cinta sama satu cowok aja seumur hidup”


“Gak cemburuan? Hahahah… Lelucon macam apa itu? Si sialan itu cemburuan tingkat akhir deh, kalau gak percaya tunggu aja, aku yakin benter lagi kelihatan efek kecemburuannya.”


Mia dan Fara menertawakan ucapan ku padahal itu bukan sesuatu yang lucu bagiku.


“Kalian ngomong apa sih!? Kalian gak tahu aja kalau kak Alex itu orangnya terlalu baik jadi, dia gak mungkin melakukan hal aneh”


“Kita lihat saja nanti”


Bersambung


Kalau ada salah dalam pengetikan bisa di komen aja di kolom komentar dan jangan lupa beri like dan saran kalian buat novel ini, sampai jumpa di next episode ☺️