Obsession Of Love

Obsession Of Love
Buket bunga



Pagi hari aku bangun seperti biasa, agak telat karena aku bergadang untuk mengerjakan beberapa tugas dari klien ku. Lalu penjaga rumah memberikan aku buket bunga yang tidak jelas siapa pengirimnya.


“Ni kalau Mia tahu dah lah dia bersin-bersin, aku buang aja lah pas keluar dari pada nanti Mia kenapa-kenapa” Saat keluar aku membuang bunga itu ke tong sampah dan segera pergi dengan taksi online yang aku pesan.


Sesampai di depan gerbang sekolah aku bertemu dengan pak Erdian, si guru baru yang aku tidak suka, yang baru memarkirkan mobilnya. Aku merasa tidak nyaman dengan keberadaan dia itu karena itu aku langsung berjalan cepat agar tidak berpapasan dengan pak Erdian.


“Azia tunggu!” Dia mengajar langkahku.


“Kamu kenapa lari?” Dia akhirnya berhasil menyamai langkahku dan kami berjalan bersama.


“Kamu menghindari saya?” Dia terus saja berbicara sepanjang jalan tapi, aku tidak mau menanggapinya.


“Saya ini guru loh di sini, mana sopan santun mu?” Ucapnya dengan nada tegas dengan menggunakan jabatannya sebagai guru dia mencoba mengintimidasi aku.


Lalu aku menghentikan langkahku. Aku memberanikan diri dan menatapnya dan bicara apa yang ada dalam pikiranku.


“Kalau bapak merasa menjadi guru tolong bersikaplah layaknya guru, meski anda hanya sementara di sini tetap saja anda akan meninggalkan apa yang anda ajarkan pada kami, tolong ajari kami dengan serius dan tolong dengarkan apa yang kami sampaikan. Dan satu lagi pak, tolong jangan menatap saya dengan cara yang aneh seperti itu karena saya merasa tidak nyaman, permisi” Lalu aku pergi buru-buru meninggalkan dia.


Saat akan naik ke lantai atas aku melihat Andi yang dengan wajah lesu menaiki satu persatu tangga dengan kecepatan secepat kura-kura. Aku menghampirinya sebelum pak Erdian kembali mengajakku bicara.


“Andi!” Aku langsung menggandeng Andi menaiki tangga.


“Azia, ada apa?” Andi terlihat sangat lemah dan suhu tubuhnya juga sepertinya lebih hangat dari biasanya.


“Andi kamu sakit?” Tanyaku khawatir sambil memeriksa suhu tubuhnya.


“Tidak” Ucapnya dengan nada sangat kecil dan wajahnya juga terlihat pucat.


“Ayo turun, aku akan minta izin untukmu”


Aku membawa Andi ke ruang guru dan meminta izin pada guru untuk membawa Andi pulang, karena Andi mengalami demam tinggi yang hampir membuat dia hilang kesadaran di ruang guru, akhirnya kami mendapatkan izin dengan cepat. Motor Andi aku titipkan pada Ririn yang pulangnya searah dengan rumah Andi, aku memesan taksi online dan juga menghubungi dokter pribadi keluarga Andi untuk segera ke rumah Andi. Bunda Andi saat itu sedang berada keluar kota karena dia pergi ke pesta pernikahan salah satu anak dari sepupunya.


Karena tidak ada orang di rumah untuk merawat Andi, aku jadi terpaksa bolos sekolah, aku juga memanggil Mia dan Fara untuk membantuku merawat Andi di rumahnya.


“Sejak kapan dia sakit?” Ucap Mia yang sebenarnya tidak peduli.


“Apa dia sudah minum obat? Nanti dia makan apa? Apa aku pesan makanan saja?” Fara yang biasanya sering bertengkar dengan Andi, di hari itu dia terlihat sangat panik dan khawatir pada keadaan Andi.


“Ide bagus tu Fara, Azia kamu lapar gak? Kita pesan apa enaknya, ya?”


“Mia! Please deh, Andi lagi sakit jadi kenapa kalian malah mikirn makanan sih?”


“Ya terus? Ini udah waktunya makan siang kali! Pokoknya aku mau pesan makanan kalian tunggu di sini dulu, ya?!”


Lalu Mia keluar untuk menghubungi selingkuhannya yang kebetulan bekerja di sebuah restaurant.


“Masa Andi kita biarkan tidur di sofa?” Tanya Fara padaku.


“Ya mau gimana lagi, lagian aku gak bisa angkat dia ke kamarnya”


“Memangnya di sini gak ada pembantu apa?”


“Ada tapi, bisanya pembantunya itu sekarang mengurus kebun setelah membersihkan rumah”


“Iya”


“Yang benar saja, bukannya orang tua dia itu kaya, ya?”


“Iya tapi, Bundanya tu biasanya suka mengurus sendiri pekerjaan rumah tapi, sekarang Bunda Andi pergi ke luar kota karena ada acara keluarga”


“Kalau gitu kita saja yang bawa Andi ke kamarnya”


“Boleh kalau kamu sanggup”


Lalu aku dan Fara mencoba mengangkat Andi bersama-sama dan membawanya ke kamar Andi yang berada di lantai atas. Awalnya kami mengangkat Andi berdua tapi, sayangnya Andi cukup berat hingga kami terpaksa meletakkannya di lantai.


“Gimana nih?”


“Kita papah saja, jangan diangkat, soalnya dia berat”


Lalu kami membangunkan Andi agar dia bisa ikut membantu kami dalam membawanya ke kamar, ya setidaknya dia masih bisa menggerakkan kakinya meski perlahan-lahan. Saat sampai di depan pintu kamar Andi kamu merasa cukup kelelahan, Fara membuka pintu dan saat pintu terbuka sebuah rahasi terungkap di depan mata Fara. Dalam keadaan kaget kami teruskan langkah kami membawa Andi ke dalam kamar dan meletakkan dirinya ke kasur. Setelah Andi sampai di kasur dan tidur dalam posisi yang benar barulah aku dan Fara keluar.


Aku tidak tahu kalau Fara benar-benar menyukai Andi hingga dia tak kuasa menahan tangisnya saat melihat ada foto wanita lain di kamar Andi. Fara duduk di tangga sambil menangis tersedu-sedu, aku tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkannya. Aku hanya bisa memeluknya dan mendengarkan apa yang dia pikirkan.


“Aku tidak menyangka dia sangat mencintai Mia sampai seperti itu, bagaimana bisa pria seperti Andi benar-benar menyukai seseorang dan kenapa harus Mia?” Fara kembali menangis.


“Aku juga tidak tahu, aku pikir dia sudah move on dan aku tidak pernah berpikir Andi sampai segitunya mencintai Mia” Aku berusaha menenangkan Fara dengan caraku sendiri.


“Fa, jangan biarkan perasaanmu membuatmu menderita, lupakan Andi dan hiduplah bahagia dengan orang yang mencintaimu”


“Tapi Azia, aku hanya mencintai Andi! Harus aku apakan perasaan ini Azia? Melupakan seseorang bukan perkara yang mudah”


“Aku tahu, aku sangat tahu dan itu juga dialami Andi, dia sedang berusaha melupakan Mia jadi tolong kamu jangan ungkit-ungkit masalah ini padanya, beri Andi waktu untuk move on”


Lalu Fara menghapus air matanya, dia memengang tanganku dan menatapku dengan serius.


“Maksud kamu dia sedang berusaha untuk melupakan Mia? Ini beneran, ya’kan?”


“Iya, kamu pikir aku bercanda”


“Berarti aku punya kesempatan?” Ucap Fara dengan tetapan penuh harapan kearah ku.


Aku tidak mau membuat dia berharap tapi aku tidak bisa mengatakan kebenarannya dan membuat dia kembali menangis. Aku bingung harus memberikan jawaban seperti apa agar Fara dan Andi tidak terlibat suatu kesalah pahaman dan membuat luka keduanya semakin mendalam.


“Azia, jawab dong!” Dia menatapku dengan penuh harapan hingga aku tidak tega melihatnya.


“Tentu saja punya harapan jadi, jangan nangis lagi, ya?!”


Aku tidak berbohong soal harapan karena setiap orang punya satu harapan meskipun kecit tetap saja di sebut sebuah rapan, selain itu setiap hati itu masih bisa di luluhkan dengan waktu dan ketulusan dari seseorang karena itu aku pikir jika Fara sedikit berusaha lebih keras lagi mungkin Andi akan menerima dia dan benar-benar melupakan cinta sepihaknya dengan Mia.


Bersambung…


Jangan lupa like dan vote nya ya kawan-kawanku sekalian, dan agar tidak ketinggalann ceritanya jangan lupa untuk klik tanda hati agar novel ini masuk dalam daftar favorit anda.