
Saat sedang berdansa dengan Andi tiba-tiba kami bertukar pasangan dengan Mia saat gerakan memutar. Andi sih pasti suka banget tu karena bisa berdansa dengan Mia, untungnya Dirga bukan pencemburu sama seperti kebanyakan cowok lainnya.
“Azia!”
“Eum?”
“Kamu serius gak mau jadi ilmuwan lagi?” Tanya Dirga padaku.
“Eum! Ya, mau gimana lagi, takdir tidak berpihak padaku, mungkin bukan takdir ku menjadi seorang ilmuwan?”
“Sayang sekali, coba kamu pikir-pikir ulang deh, aku bisa membantumu mendapatkan beasiswa yang cocok untukmu di Amerika. Kalau soal nenekmu, percayalah dia tidak akan mau menjadi penghambat mu menuju mimpimu, apa perlu aku yang ngomong”
“Makasih, tapi enggak deh, aku gak mau membuat nenek terbebani dengan hal semacam itu”
“Lalu kamu akan menyerah dengan mimpimu?”
“Mungkin”
“Ini serius Azia’kan? Bagaimana seorang Azia bisa menyerah pada sesuatu yang sudah ditargetkan?”
“Dirga, kamu sebenarnya kenal aku apa gak, sih? Menyerah itu bukan hal yang tidak mungkin untukku, aku bahkan pernah menyerah pada hidupku, ya’kan?” Ucapku dengan ringan.
“Itu kan udah dulu banget, saat itu kamu masih kelewat labil, aku rasa sekarang kamu sudah cukup dewasa untuk berpikir dengan jernih sebelum bertindak, ya’kan?” Dirga masih saja berusaha membuat aku berubah pikiran.
“Tepat sekali! Dan aku sudah memutuskan untuk mengelola bisnis teh nenek saja”
“Yang benar? Kamu kan gak suka teh?!”
“Ya, memang tapi, aku akan coba buat suka kok, pokoknya aku sudah mengambil keputusan dan gak akan berubah.”
Lalu lagu berhenti, setelah itu aku melihat Andi keluar dari pesta dengan wajah yang terlihat penuh dengan kekecewaan.
“Makasih untuk hari ini Dirga, aku pergi dulu!” Aku menghampiri Mia untuk menanyakan kenapa Andi pergi dengan wajah yang sangat menyedihkan.
“Mia, kenapa tu sama di Andi?”
“Kayak kamu gak tau aja? Ya biasa lah, anak gak tau tempat dan waktu selalu mengatakan lah yang gak guna”
“Dia nembak kamu lagi?”
“Eum, padahal dari dulu juga aku udah bilang kalau dia bukan tipeku tapi, dia masih aja gak nyerah-nyerah sampai detik ini. Dia juga bilang tadi kalau ini yang terakhir kalinya, entahlah, aku sedikit meragukan ucapannya”
“Terakhir? Aku harus menemuinya! Aku pergi dulu ya!” Lalu aku bergegas menyusul Andi.
Setelah mencari ke parkiran, aku masih melihat motor kesayangannya terparkir rapi. Aku pergi mengelilingi taman dekat gerbang masuk ke kediaman Mia. Lalu di kursi yang tidak jauh dari air mancur berbentuk ikan terlihat seorang pria yang sedang menangis tanpa suara.
“WOY!” Aku mengagetkan Andi dengan sengaja.
“Apaan sih Azia” Andi terlihat amat kaget dan dengan segera memalingkan wajahnya dariku.
“Gak usah di sembunyikan kali Andi, aku udah terlanjur lihat! Cowok sok keren, sok hebat dan sok sempurna akhirnya nangis karena di tolak sama gadis di hari pertunangan gadis itu, udah nih hapus tu air mata!” Aku memberikan tisu yang selalu aku bawa di dalam saku ku.
“Makasih!” Dia mengambil tisu di tanganku lalu menghapus air matanya.
“Jadi sekarang benar-benar berakhir?” Tanyaku sambil duduk disampingnya.
“Terus kamu berharap apa? Apa kamu pikir aku gak ada harga diri? Aku mau move on total dari Mia!”
“Baru sekarang kamu tanya harga diri? Dari dulu kemana kesadaran kamu itu, Andi? Mia udah nolak kamu dari sejak kita masih kelas 2 SMP tau!”
“Iya, iya aku memang terlalu dibutakan cinta waktu itu tapi, sekarang semuanya gak ada gunanya, toh dia sekarang sudah benar-benar terikat dengan anak itu!” Ucapnya dengan raut kecewa bercampur sedih.
“Lagian kamu kayak gak nemu cewek lain aja! Udah jangan sedih, nanti aku bantu cari gadis yang baik untukmu” Aku menepuk-nepuk pelan Andi yang masih kelihatannya sedih banget.
“Boleh tapi jangan kayak kamu, ya?!”
“Loh kenapa kalau yang kayak aku?”
“Azia, kamu terlalu keras banget dalam belajar, terlalu sibuk, terlalu memaksa dan terlalu menekan saat aku gak mau belajar, itu buat aku frustasi!”
“Dasar teman gak ada akhlak! Aku kayak gitu tu demi kamu, supaya kamu itu belajar dengan benar, supaya kamu itu pintar dan gak buang-buang waktu!”
“Tapi, itu benar-benar gak asik!”
“Oh jadi gak asik nih ceritanya?! Lusa di pertemuan berikutnya kamu buat tugas yang ada di halaman 101 dan 120.”
“Azia, itukan kebanyakan! Jangan tega gitu dong!”
“Kalau gitu aku tambahkan yang ada di halaman 198 sampai halaman 200”
“Karena aku sudah mengerjakan semuanya, makannya aku ingat”
“Dasar gila belajar!”
“Sekarang udah gak sedih?” Tanyaku pada Andi yang seakan lupa pada kesedihannya tadi.
“Iya, emang gak sedih, tapi stress karena tugas dari kamu!” Ucapnya kesal.
“Udah nikmati aja! Kalau gitu anterin aku pulang ke rumah nenek dong!”
“Boleh deh, lagian aku juga udah capek, aku mau pulang dan istirahat.”
Lalu kami pergi dan benar-benar meninggalkan tempat itu. Setelah mengantarku Andi langsung pulang karena katanya sangat lelah. Aku menunggu Raihan datang di depan pagar untuk membuka pintu rumah.
“Kak Azia!”
“Kamu ini, baru datang, aku udah pegal banget ini!” Aku mengeluh sambil mencoba merenggangkan tubuh ku yang terasa pegal-pegal.
“Iya, maaf tadi banyak pelanggan di toko makannya gak langsung tutup.”
“Bagus deh kalau toko ramai, kalau gitu cepat buka pintu!”
“Iya, kak”
Setelah Raihan membuka pintu aku langsung menuju sofa dan merebahkan diri.
“Renovasinya udah siap?” Tanyaku pada Raihan yang menuju ke dapur.
“Iya udah kak, kamar aku bagus banget kak, aku sangat menyukainya, makasih, ya kak Azia!”
“Iya, sama-sama. Lalu tahun depan aku berencana mengirim kamu ke sekolah formal seperti anak lainnya, bersiaplah!”
“Kakak sudah sangat membantuku, aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada kakak”
“Belajar dengan benar dan itu sudah cukup untukku, paham?!”
“Iya, sekarang kakak mau makan apa? Aku sudah banyak belajar memasak, apa kakak mau coba makan sesuatu?”
“Masak apa? Kamu tahukan di sini gak ada bahan buat dimasak”
“Aku udah isi kulkas dengan bahan-bahan untuk masak harian, aku juga sering ke sini buat masak”
“Yaudah, kamu masak apa ajalah! Aku mau tidur bentar”
“Baik, kak”
“Eh, kayaknya aku lupa sesuatu deh tapi, apa?” Aku mencoba mengingat apa yang aku lupakan dari pesta hari itu.
“Au ah, gak ingat! Mau tidur dulu!”
Aku tidur di sofa hingga sore datang menyapa hariku, lalu terdengar suara alarm dari handphone ku. Aku bangun dan mematikannya, lalu di layar aku melihat banyak pesan dari kak Alex dan juga panggilan tidak terjawab.
“Dia pasti marah” Aku segera menghubungi kak Alex.
“Halo! Kak, maaf ya tadi aku pulang duluan”
“Sama siapa?”
“Andi”
Lalu kak Alex memutuskan panggilan begitu saja.
“Loh kok putus? Aku coba hubungi lagi aja”
Beberapa kali mencoba tapi dia tidak mengangkatnya dan yang terakhir dia sengaja menolak panggilan dariku.
“Ada apa dengan kak Alex ini? Apa dia marah? Besok aku akan minta maaf, sekarang aku harus pulang ke rumah Fara atau dia akan marah karena aku pulang telat.” Lalu aku pergi untuk mencuci mukaku dan memperbaiki sedikit riasan yang rusak karena aku tertidur.
“Kak Azia mau pulang?” Raihan datang dari arah dapur.
“Iya ni, aku takut kemalaman pulangnya.”
“Gak makan dulu?”
“Boleh deh” Lalu aku pergi makan sembilan menunggu ojek yang aku pesan datang.
Bersambung….