Obsession Of Love

Obsession Of Love
i'm yours part 4



“Apa ada yang salah?” Tanya nya dengan nada lembut tapi terdengar jelas kalau dia khawatir.


“Tidak ada, aku mau pulang!” ucapku kesal.


“Pulang? Baiklah, ayo pulang”


Aku benar-benar berada di puncak emosi, rasanya aku ingin menghancurkan rumah sakit itu, aku terlalu muak mengingat bagaimana dokter perempuan itu menyentuh bahu kak Alex dengan lembut dan suaranya terdengar khawatir dan nada manja yang membuatku semakin geram mendengarnya.


Begitu sampai di rumah, aku langsung menuju kamar, meninggalkan kak Alex yang masih berada di lantai bawa. Semua terasa cukup kacau dalam pikiranku, hingga beberapa pikiran jahat mulai melintas.


‘tidak Azia, kamu tidak bisa diam dan membiarkan perempuan lain menggoda suamimu’ suara pikiranku mulai mencoba mengendalikan diriku.


‘kamu harus lakukan sesuatu… dia milikku jangan biarkan orang lain menyentuhnya’


“Sayang, ada apa?” Tanya Alex yang berdiri di sebelahku.


“Tidak ada” Aku berjalan ke arah kasur lalu berpikir.


Alex menyusul langkahku, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku. “Jika ada masalah katakan padaku, kita bisa mencari solusi bersama”


‘tapi ini tentang kamu’ batinku.


“Iya” Jawabku singkat.


Lalu terlintas di pikiranku tentang dua hal yang bisa aku lakukan saat ini untuk mengendalikan orang-orang yang mencoba mengusik milikku.


“Kak, aku mau mandi. Makan malam apa kita pesan saja?” Tanyaku.


“Tidak usah, aku akan memasak untukmu” Jawabnya sambil membaringkan diri di atas kasur.


“Eum, oke” Aku segera masuk ke kamar mandi.


Begitu berada di kamar mandi aku mengeluarkan handphone milikku, membuka aplikasi yang sengaja aku letakkan di tempat yang tidak akan dicurigai oleh kak Alex jika dia memeriksa handphone ku, meski sebenarnya dia tidak pernah benar-benar memeriksa handphone ku. Aplikasi bernama ‘DoS’ dengan tampilan berbentuk buku dengan isi tulisan dalam bahasa yang tidak jelas apa tapi ada taburan bunga bunga mawar dan darah diantara gambar buku yang sobek. Memang terlihat menyeramkan jika di perhatikan tapi itu unik untukku. Bahan untuk mengakses masuk aku harus menggunakan kode keanggotaan yang khusus dan selalu berganti tiap kali ingin memperpanjang masa keanggotaan.


Dengan cepat aku memasukkan kode keanggotaan lalu aplikasi itu pun langsung menuntun ku pada menu dimana aku bisa memberikan perintah apapun padanya termasuk membunuh orang. Untungnya aku belum sampai sekejam itu karenanya aku hanya mengirim perintah untuk mengawasi setiap orang yang mencoba mendekati suamiku dan menjauhkannya sejauh-jauhnya. Untungnya aku sudah menjadi anggota VIP bulan lalu, karena itu perintahku langsung diproses dengan cepat dan tidak perlu menunggu hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan agar mereka melaksanakan perintahku.


Mungkin ini terdengar seperti omong kosong tapi, seorang teman memberitahukan ku tentang aplikasi aneh ini beberapa tahun lalu dan itu sangat luar biasa. Berkat aplikasi ini aku berhasil menyingkirkan beberapa orang pengganggu yang membuatku dalam masalah saat baru menjadi mahasiswa. Namun karena saat itu aku hanya anggota regular, perintahku baru dilaksanakan sekitar 2 bulan dari hari aku mengirim perintah, tapi hal yang paling menyenangkan aku bisa menyingkirkan orang itu dengan meninggalkan beberapa kenangan buruk yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.


“Perintah Dilaksanakan” Tulis pesan dari aplikasi itu.


Setengah jam kemudian ada yang mengirim paket dan di kotak itu terlihat seperti aku baru saja berbelanja online.


“Sayang, apa kamu memesan sesuatu?”


Belum sempat aku menjawab ucapan kak Alex tiba-tiba ada pesan dari aplikasi.


“Semua barang yang kami kirim memiliki alat pelacak di dalamnya, anda bisa menggunakan itu untuk mengetahui dimana lokasi target anda. Kami akan mengirim informasi sesuai dengan perintah anda.” Pesan itu membuat aku tersenyum lega.


“Hanya beberapa barang biasa” Jawabku lalu pergi membawa kotak itu.


“Sayang, ayo makan dulu” Ajak  Alex padaku.


“Iya, aku akan meletakkan ini di kamar kita dulu.” Aku berlari cepat menaiki tangga.


“Sayang, pelan-pelan” Ucap Alex khawatir.


Tidak sabar rasanya membuka isi kotak coklat itu, begitu masuk ke dalam kamar aku mengunci pintu rapat-rapat agar Alex tidak memergoki ku saat membuka kota itu. Perlahan aku membuka kotak itu dengan bantuan gunting yang ada di meja rias ku. Begitu kotak itu terbuka terdapat beberapa kotak kecil di dalamnya, salah satunya berwarna hitam pekat dengan logo dari brand jam ternama, aku pun membuka nya dan ternyata satu jam rantai laki-laki yang terlihat cukup mewah. Lalu ada dua kotak biru kecil, salah satunya cukup menarik karena ada stiker logo dari aplikasi DoS yaitu pedang dengan pedang dengan lilitan tanaman berduri dan di ujungnya seolah-olah menusuk sebuah bunga mawar merah pekat dan  di pegangannya terukir seperti singa tapi aku menduga itu iblis sesuai dengan namanya ‘Devil of Secret’, aku pun membuka kota itu dan terdapat benda berbentuk persegi kecil dan juga satu gantungan kecil berbentuk .


‘ting’


Pesan lainnya masuk dari aplikasi DoS.


“Kotak biru kecil adalah anda bisa melakukannya di mobil ‘target’ untuk mengetahui lokasi dan siapa yang berada di dalamnya.”


“Kok mereka kayak tahu apa yang ada dalam otakku, ya?” Pikir ku sedikit curiga.


“Anda tidak perlu banyak berpikir, agen kami akan mulai mengawasi ‘target’ mulai hari ini” Pesan lain yang masuk dari aplikasi.


“Tu kan, dia seperti tahu apa yang aku pikirkan! Ini sangat gila” Aku segera keluar dari aplikasi dan mulai mencoba membuka kota terakhir.


Aku cukup kaget melihat ada gantungan kunci berbentuk bulan sabit dan juga satu pulpen dengan ukiran nama ‘Alex Hardiata’ terukir cantik menggunakan tinta emas yang tidak hanya terlihat indah tapi juga mewah.


“Sayang, kenapa pintunya dikunci?” Suara Alex dari balik pintu.


Aku langsung berlari cepat untuk membuka pintu.


“Ada apa? Kenapa pintu di kunci?”


“Tidak ada, aku tadi tidak sengaja menguncinya.”


“Kamu menyembunyikan sesuatu?”


“Tidak ada”


Alex melirik ke arah kota coklat yang ada di atas tempat tidur, dia berjalan cepat dan melihat isi kota itu.


“Kamu membeli barang ini untuk apa?” Tanyanya heran.


“Tentu saja untuk kak Alex, aku hanya ingin memberikan sesuatu sebagai kejutan di hari jadian kita besok”


Untungnya ingatan tentang tanggal jadian kami dulu terlintas di pikiranku, aku menggunakan itu untuk menjadi pengalih perhatian dan kecurigaan.


“Tapi kita sudah menikah sayang, untuk apa merayakan hari jadian kita?” Ucapnya dengan menghela nafas kasar lalu mulai membereskan kota itu.


“Eum… Tapi aku ingin merayakannya” Ucapku manja sambil memeluknya dari belakang.


Dia terdiam sejenak, lalu melepaskan pelukanku dan berbalik ke arahku.


“Baiklah, aku akan melakukan apapun permintaan istri mungilku ini” Lalu dia mengecup keningku.


Aku sangat senang karena bisa menghapus kecurigaannya dan juga bisa membuat semua rencana ku lancar.


‘Rrr… rrr’


Perutku berbunyi sangat keras hingga Alex yang mendengarnya hampir tidak mampu menahan tawa, aku cukup malu karena hal itu.


‘Bisa-bisanya dia berbunyi di saat adegan romantis ini’ keluhku yang menyalakan perutku yang tidak bisa diajak kerja sama.


“Sepertinya istriku sangat lapar, ayo kita makan” Alex tiba-tiba menggendongku.


“Kak, aku bisa jalan sendiri” Ucapku mencoba memberontak.


“Tapi perut kecil istriku sedang berdemo, aku harus segera mengurusnya atau dia akan memberontak lagi nanti” Ucapnya sambil tersenyum jahil lalu membawaku turun.


Tidak buruk dengan digendong oleh pria tinggi, besar itu karena aku tidak perlu membuang waktu untuk berlari kecil agar bisa menyamai langkahnya yang dua kali lebih besar dari langkahku.


*


*


*


“Kak, bisa tidak berhenti menatapku? Aku jadi tidak bisa fokus makan?” Ucapku malu pada Alex yang terus memandangiku dari pertama kami duduk di meja makan.


“Benarkah? Tapi makananmu sudah hampir habis” Ucapnya dengan sebuah senyum kecil yang dia coba tahan.


“Itu karena aku lapar, lagian kenapa kakak engga makan aja sih? Ngapain liatin aku!” Aku mulai meletakkan sendok ku dan menarik gelas di sampingku. “Airnya habis” Keluh ku dengan sedikit mengekspresikannya.


Alex langsung bangun dan mengambil air lagi untuk ku dari dapur, “Ini minum ratu cantik ku.” ia mengganti gelas ku dengan gelas lainnya yang berisi air.


“Makasih suami” Ucapnya dengan nada manja lalu ku teguk air itu.


Ku pikir dia akan kembali duduk di kursinya tapi dia malah menarik kursi lain dan mendekatkannya pada kursi ku.


“Apa kamu lelah?” Tanyanya sambil menatapku yang masih meneguk minuman ku hingga tetes terakhir.


“Sedikit” Jawabku sambil meletakkan kembali gelas di tanganku.


“Hem…” Dia mengangguk dan memutar bola matanya seolah sedang mencoba mencari sesuatu dalam ingatannya.


“Anak ini kenapa?” Pikirku yang mulai bergerak untuk membersihkan piring kotor di atas meja.