
“Azia, lihat ini, sepertinya aku membuat kesalahan dalam soal ini tapi, aku tidak yakin”
“Oh benar, sepertinya kamu salah menghitungnya, coba kamu ulang sekali lagi, gunakan rumus ini, untuk mempermudah”
“Azia, kalau ini bagaimana?” Tanya Mia padaku.
“Sudah benar, coba soal berikutnya”
Aku merasa tidak nyaman karena kak Alex terus saja menahan gerakan ku tiap kali aku ingin melihat soal yang di kerjakan teman-teman. Kami terlalu dekat hingga aku bisa mendengar suara dekat jantungnya, dia memelukku seakan tidak mau memberikanku pada mereka yang sedang kesal pada kami berdua.
“Sayang, jangan begitu, aku jadi sulit buat melihat soal Mia kalau kamu menahan ku”
Fara terus melirik jawaban milik Mia yang terhalang karena aku duduk di antara mereka.
“Kalian ini, bisa gak sih duduknya pisah aja?” Fara kesal karena aku duduk di pangkuan kakak Alex.
Beberapa jam sebelumnya, aku bersama dengan Mia, Fara, dan Andi berencana untuk belajar bersama di rumah Fara di hari minggu sebelum mereka ulangan.
“Azia, si Alex di depan tu!”
“Beneran? Kenapa dia di sini? Bukannya kami gak ada janji hari ini, ya?”
Aku kaget dan bingung karena kak Alex datang tanpa memberitahu terlebih dahulu dan kami tidak memiliki janji sebelumnya.
“Mana aku tahu! Sana temuin dia, kami mau makan kuenya dulu!”
Mereka mendapatkan kue dari kak Alex sebagai pajak untuk bisa menemuiku
“Eh, sisain ya!” Pintaku pada Fara.
“Oke”
Lalu aku ke depan menemui kak Alex, dia terlihat rapi dan tampan seperti biasa, aku selalu kagum dengan aura yang dia pancarkan, sebuah aura dari seorang pria dewasa yang punya karisma yang sangat luar biasa.
“Kak, ada apa?”
“Apa aku gak di suruh masuk, nih?”
“Mending gak usah deh, kakak ada perlu apa?”
“Gak, aku cuma kangen aja, kamu juga bilang gak bisa keluar hari ini dan aku pikir…”
“Hai! Aku ke dalam dulu, ya!” Andi tiba-tiba lewat dari samping kami yang sedang berbincang.
“Kenapa anak itu ada di sini?” Wajah kak Alex langsung cemberut tanpa alasan saat Andi lewati di samping kami berdua.
“Itu karena kami akan belajar bersama”
“Dia kenapa boleh masuk dan aku tidak?” Ucapnya dengan nada sedikit kesal.
“Karena dia mau belajar kak, kakak sebenarnya tadi mau bilang apa?”
“Aku mau masuk juga, kalau dia ada di dalam aku juga harus ada!”
“Kakak kenapa, sih? Kakak gak mungkin sedang… Pengen belajar bareng kami’kan?”
“Apa aja deh, pokoknya aku mau ikut bergabung dengan kalian”
“Kalau gitu, boleh deh, ayo masuk!”
Pada akhirnya dia benar-benar bergabung dengan kami, Mia dan Fara terlihat kesal karena kak Alex ikut bergabung dengan kami berempat.
“Kenapa dia ada di sini?” Tanya Fara yang terlihat tidak menyambut kehadiran kak Alex di tempat itu.
“Kak Alex mau gabung sama kita dan tenang aja, kak Alex gak akan mengganggu, aku jamin deh!”
“Terserah! Udah mulai aja sekarang!”
Awal-awal semua berjalan lancar hingga tiba-tiba Andi merasa kesulitan dengan tugasnya.
“Azia, ini kok gak ada pilihan jawabannya sih?”
“Coba aku lihat! Eum… ini… Lah kamu salah rumus, dasar anak ini! Waktu di soal itu masih dalam jam jadi, kamu harus rubah dulu jadi detik, lalu baru gunakan rumus geraknya.”
“Azia, aku tahu kamu itu rakus tapi rambutmu itu gak usah di makan juga kali” Andi berencana untuk membenarkan rambutku dengan tangannya.
“Sayang, coba sini duduk di depanku, biar aku ikat rambutmu” Kak Alex mengangkat ku dengan mudah dan memindahkan posisi duduk ku dalam sekejap sebelum Andi sempat membenarkan rambutku.
Kak Alex dengan lembut menyisir rambutku, dan entah dari mana sisir yang ada di tangannya, lalu dia mengikat rambutku dengan hati-hati. Setelah itu dia malah menahan ku di pangkuannya.
“Hai! Kalian ini niat belajar atau mau pacaran, sih?” Fara terlihat kesal.
“Maaf, maaf! Kalian bisa lanjut aja, kalau ada masalah langsung bilang aja, biar aku bantu kalau ada yang tidak mengerti”
“Iya”
Aku merasa kalau kak Alex semakin aneh hari itu, dia terus saja menahan ku hingga aku tidak bisa mengajari Andi apapun, dia hanya membiarkan aku sedikit berpindah untuk melihat soal yang ada pada Fara atau Mia saja.
“Ini sudah sangat menyebalkan! Kalian ajak aku belajar bersama, tapi kenapa aku di perlakukan berbeda?!” Andi mulai merajuk
“Sabar-sabar! Ini ujian!” Ucap Mia dengan nada meledek.
“Kak!”
“Apa sayang?” Kak Alex menjawabku dengan nada lembut tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Lepaskan aku dulu, aku juga harus mengajari Andi”
“Dari sini aja kan juga bisa, sayang”
“Kalau aku duduk di pangkuan kakak terus, gimana caranya aku lihat apa yang Andi kerjakan, soalnya diakan di sana!” Aku melirik kearah Andi yang duduk cukup jauh dariku.
“Iya, iya!” Akhirnya aku di lepaskan dan bisa mengajari mereka seperti seharusnya.
“Eh, sedikit sih”
“Kalau gitu aku ambil minum, gimana?”
“Kalau mau ambil minum jangan nanggung-nanggung, bawa aja untuk semua!” Ucap Fara.
“Kak Alex minta tolong aja sama bibi di dapur untuk mengantarkan minum untuk kami”
“Oke”
Tak lama setelah kak Alex pergi mereka langsung mengerumuniku.
“Eh eh eh, ngerasa gak sih, si sialan itu kayak aneh benget hari ini?”
“Betul, kayaknya dia mau pamer deh!”
“Pamer apa sih, Mia? Kalian kenapa mau ngegosip pacar aku?”
“Alah sesekali gak papa lah! Udah, gimana menurut kalian kalau dia langsung kita urusir aja?” Usul Fara.
“Jangan gitu dong, aku suka kok kalau dia di sini”
“Kamu sih suka, lah kami gimana? Kalian asik mesra-mesraan saat kami lagi mau serius belajar, ini kan gak adil!!”
“Betul banget! Lagian dia kayaknya gak suka benget deh sama aku” Ucap Andi yang masih sedikit kesal.
“Udah, usir aja!”
“Setuju!” Tiba-tiba mereka kompak dalam hal itu.
“Kalian kok tega banget sih sama pacar aku?”
“Kamu lebih tega lagi sama kami, udah tahu kami mau belajar, kamu malah pacaran di depan kami, apa lagi aku lagi jomblo gini!” Fara terlihat benar-benar kesal.
“Lah, Fara kamu putus lagi?” Tanya Mia yang kepo.
“Ya, mau gimana, dia gak cocok sama aku”
“Kepribadian si Fara itu mana mungkin cocok sama semua cowok hahaha…” Ejek Andi.
“Andi sialan!” Fara memukuli Andi dengan buku di tangannya.
“Woi sakit!”
“Makanya mulutmu tu di jaga dasar sialan! Dasar monyet!”
“Nenek sihir!”
“Apa kamu bilang?!” Fara benar-benar murka dan hampir memukul Andi kembali.
“Udah, jangan ribut!” Aku mencoba melerai mereka.
“Tapi dia duluan!” Fara terus menatap tajam kearah Andi.
“Kalian ini udah kayak kucing dan tikus aja, kalau ketemu gak pernah akur. Sekarang berhenti bertingkah dengarkan Azia bicara” Mia mencoba membantuku melerai dua orang itu.
“Jadwal ulangan kalian itu tinggal dua hari, kalau kalian mendapat nilai buruk di ulangan, nilai ujian kalian gak akan ada artinya tahu!”
“Iya, maaf! Sekarang gimana?”
“Ya, sekarang berhenti berdebat dan kita harus serius belajarnya”
“Kami akan serius belajar kalau si Alex itu pulang!” Fara terlihat serius dengan ucapannya kali itu.
“Itu kan gak adil banget untukku, kakak Alex itu energi ku, kalau gak ada dia, aku jadi gak semangat nanti”
“Suruh aja dia pulang dulu, nanti kita lihat apa kamu benar-benar gak ada energi untuk ngajar atau malah sebaliknya” Ujar Mia.
“Sayang, nih aku bawain minum” Kak Alex datang dengan minuman di tangannya.
“Lama benget sih, orang udah haus, sini!” Fara meminta minuman di tangan kak Alex untuknya.
“Gak, ini khusus untuk pacar Imut ku, nih sayang minum” Kak Alex memberikan aku satu gelas jus dan yang lainnya di letakkan di meja.
“Aleh! Sama aja kali! Mia, ambilin satu dong!”
“Aku juga” Pinta Andi.
Setelah itu aku akhirnya dengan terpaksa meminta kak Alex untuk pulang karena yang lainnya menjadi tidak bisa belajar kalau ada kak Alex di situ. Dia terlihat tidak senang tapi, pada akhirnya dia menurut dan pulang, kami mulai belajar seperti rencana awal tapi, kak Alex malah mengganggu dengan mengirim banyak pesan.
“Anak sialan itu udah pulang aja masih jadi hama! Azia, siniin handphone kamu” Pinta Fara.
“Buat apa?”
“Siniin aja dulu” Dia semakin memaksa dan mengambil handphone dari tanganku.
Saat aku memberikan handphone ku pada Fara, lalu dia menghubungi kak Alex.
“WOI SIALAN, UDAH GAK USAH GANGGU AZIA LAGI, KAMI MAU BELAJAR DASAR SIALAN!” Teriak Fara dengan penuh emosi lalu mematikan handphone ku dan melemparnya ke tempat tidur.
“Sekarang fokus, oke! Aku gak mau uang jajanku di potong lagi karena nilai ulangan aku sedikit” Ucap Fara yang masih mencoba mengendalikan emosinya.
“Iya, ayo mulai belajar lagi”
Pada akhirnya semua kembali sesuai seharusnya, kami belajar dengan tenang dan tidak adalah lagi gangguan dari kak Alex karena handphone ku mati.
Bersambung….
Kalau suka jangan lupa Like dan kalau ada kesalahan dalam pengetikan jangan lupa buat komen aja biar cepat di edit. Makasih udah Like dan berkunjung di sini, sampai jumpa di episode berikutnya.