
Aku tidak bicara lagi saat Andi menanyakan keadaan aku saat itu, Andi seakan tahu kalau aku akan menangis lalu dia langsung memeluk aku. Aku menangis dalam pelukan Andi cukup lama, saat itu perasaanku campur aduk karena kak Alex sudah sering kali membuat aku sakit hati dan ini adalah hal yang paling parah dari sebelumnya.
“Azia!” Andi memanggilku dengan lembut.
“Iya, apa?”
“Aku tahu kamu sedih, tapi ini udah terlalu lama, banyak orang lewat, aku malu tahu! Dan yang paling penting jaket aku kena air matamu dan ingus mu, udah jangan nangis lagi!”
“Huu… Yaudah, kita pindah tempat aja dulu, aku masih mau nangis!”
“Sebelum itu sebaiknya kamu lepasin aku dulu dan aku mau lepas jaket ku, udah terlalu menjijikkan!”
“Kamu bilang aku menjijikkan?!”
Aku melepaskan Andi dan menatapnya kesal, sedangkan Andi tidak memperdulikan tatapanku karena dia fokus membuka jaketnya sambil lalu dia melihat sekeliling orang-orang yang terus menatap kami dan berbisik.
“Bukan dong Azia ku, bukan kamu! Yang aku maksud itu jaket aku, bukan kamu dan ini lap dulu ingus dan air matamu” Andi memberikan aku tisu yang entah dia dapat dari mana.
“Kayaknya aku kenal warna tisu ini!?”
“Oh itu, aku ambil dari tas kamu saat kamu nangis tadi, udah cepat lap semua air matamu dan ayo naik, kita harus pergi dari tempat ini sebelum aku makan malu karena dikira buat kamu”
“Iya, maaf”
Lalu aku dan Andi pergi ke taman kota, kami duduk di dekat danau buatan yang di penuhi dengan ikan-ikan hias yang terlihat jelas di tepian danau.
“Azia, sebenarnya kamu kenapa? Alex ngapain kamu sih?”
“Kak Alex lagi pelukan sama perempuan lain tadi di koridor rumah sakit, aku sedih dan kesal banget”
“Terus kamu bukannya ngelabrak malah lari dan nangis kayak gini? Azia si ratu rakus ku, please deh jangan bikin orang malu dong cuma karena itu!”
“Maksud kamu apa?”
“Sebagai temanmu aku kesal sama si Alex yang terlalu tebar pesona pada semua wanita dan gak memberikan batas yang jelas dan sering buat kamu nangis kayak gini tapi…”
“Tapi apa Andi?” Aku terus mencoba menghapus air mata yang tidak berhenti keluar dari mataku.
“Tapi sebagai sesama anggota cogan alias golongan cowok ganteng, aku pikir mungkin sebaiknya kamu tidak selalu menyalahkan si Alex itu deh, kalau di ingat-ingat aku juga pernah tu di dekatin sama cewek gila yang gak mau lepas, kamu ingatkan kejadian bulan lalu itu?” ucapnya dengan sok keren.
“Ah iya, aku ingat! Lalu aku harus apa?”
“Kamu suka gak sih sama si Alex itu?”
“Aku bukan hanya suka sama dia tapi juga sama mencintainya” Tegasku pada Andi.
“Kalau kamu cinta ya jangan cuma nangis kayak gini dong! Semangat! Mulai hari ini kita akan mulai melakukan serangan balasan pada cewek-cewek ganjen yang gak punya urat malu!” Ucap Andi penuh semangat.
“Bagaimana caranya?”
“Ikut saja caraku tapi ini butuh dana jadi kamu…”
“Oke, berapa aja gak masalah yang penting semuanya beres”
“Nah, sekarang mari kita pulang dulu besok sore aku jemput dan kita akan ajak orang berpengalaman dalam bidang ini, oke!”
“Oke” Ucapku yang lemas karena sudah lelah menangis.
Setelah aku benar-benar tenang barulah kami pulang ke rumah.
***
Sore yang aku nantikan akhirnya datang, aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan Andi hari itu. Aku sangat pesanaran siapa yang akan kami temui hari itu, aku mulai menerka-nerka siapa yang mungkin akan Andi ajak untuk menelesaikan masalahku.
“Awal banget siap-siapnya?” Andi melihatku dengan terheran-heran.
“Iyalah karena masalah ini kan bukan hal yang biasa”
“Iya, iya, sekarang naik!” Pinta Andi padaku.
Lalu Andi membawaku ke sebuah café yang dekat dengan toko buku yang sering kami kunjungi. Andi menuntunku ke meja yang sudah dia pesan, lalu di sana sudah ada seorang wanita paru baya yang masih terlihat awat muda.
“Ibu!”
“Kenapa Ibu ada di sini? Jangan bilang kalau orang yang berpengalaman yang Andi maksud kemaren itu ibu?”
“Tentu saya sayang, ayo duduk!” Bu Dewi memintaku duduk di kursi dekatnya.
“Andi sudah cerita detailnya sama ibu kemaren jadi, ibu akan membantu kalian berdua mengatasi masalahnya”
Aku menatap kearah Andi dan kami berkomunikasi lewat mata, “Andi! Kenapa harus ibu mertuaku?”
“Suka-suka aku dong, biar sekalian dia tahu sifat anaknya” balasnya dengan senyum dan menaikkan alis beberapa kali hingga aku hampir menyuarakan emosiku padanya secara langsung.
“Andi sialan! Awas kamu ya!”
“Biarin” Andi mengejekku dengan matanya.
“Kalian kenapa? Kenapa saling menatap? Kita sedang membahas rencananya jadi kalian tolong fokus!” Bu Dewi terlihat sangat serius menanggapi masalah ini.
“Baik, bu” Jawab serentak kami.
Lalu kami bertiga mulai membuat rencana untuk mengurusi para wanita yang terus mengekor pada kak Alex. Beberapa rencana terasa terlalu ekstrim tapi, demi mempertahankan hubungan aku terpaksa mengukuti semua arahan dari Ibu Dewi.
“Apa kalian mengerti?” Tanya Bu Dewa yang selesai membuat rencana serangan pertama.
“Ibu, apa ini tidak berlebihan?”
“Berlebihan? Tentu tidak sayang, ini untuk hubungan kalian dan agar para pelakor di luar sana sadar diri”
“Betul tu, Azia jangan terlalu naif lah! Lalu sekarang masalah barang couple itu biar aku urus tapi, uangnya di muka, ya?!”
“Iya, dasar mata duitan!” Ucapku kesal pada Andi yang dari tadi asik mempromisikan barang dagangan temannya, ya alasannya karena dia akan dapat persenannya tiap ada barang yang terjual dengan jasanya.
“Kalau gitu ayo pulang!” Ajak Andi yang sudah berdiri padaku yang duduk di depannya.
“Azia biar pulang sama tante saja! Kamu pulang saja duluan, tante mau bawa Azia ke rumah dulu” ucap bu Dewi pada Andi.
“Oh, kalau gitu Andi pergi dulu, Tan!” Lalu Andi segera pergi dari tempat itu dengan terburu-buru, aku tebak hari itu dia pasti ada jadwal kencan dengan gebetannya.
“Sayang, makan malam di rumah ya hari ini?”
“Tapi, Azia tadi cuma izin pergi sebentar saja tadi sama tante Mita”
“Nanti biar ibu yang minta izin sama dia, sekarang ayo kita pulang ke rumah ibu dulu, ya sayang?!”
“Iya, bu”
Sesampai di rumah, kami langsung pergi membantu persiapan makan malam dengan bibi yang bekerja di rumah itu. Tiap kali masak bersama dengan Bu Dewi aku selalu saja merasa senang seakan beliau adalah Ibuku sendiri, aku selalu bersyukur pada tuhan yang meski tidak mempertemukan aku dengan orang tua kandungku dari kecil tapi aku sama sekali tidak merasa kehilangan apapun karena banyak cinta yang selalu aku dapatkan dari orang sekitarku.
“Bu, terimakasih ya karena Ibu selalu baik pada Azia, selalu menyayangi Azia sama seperti anak sendiri, selalu peduli pada Azia, terimakasih, bu!” Ucapku sambil menatap Bu Dewi yang sedang memasak.
“Sayangku, ibu jadi terharu mendengarnya, bagi Ibu Azia itu sudah seperti anak sendiri jadi kamu jangan sungkan sama Ibu ya sayang?!”
“Iya Ibu” Lalu Aku memeluk Bu Dewi.
Setelah itu kami kembali fokus memasak dan menyajikan masakan yang kami buat untuk para pria yang akan pulang dalam keadaan lelah karena seharian bekerja di luar rumah. Saat waktu makan malam sudah tiba kak Alex dan Ayahnya pulang tepat waktu dan mereka kaget karena aku ada di sana bersama Bu Dewi, kami menyambut kedua pria tampan yang kelelahan itu dengan sangat baik. Bu Dewi langsung menyegukan air untuk suaminya dan aku menyiapkan hal yang sama untuk kak Alex. Adegan itu seakan-akan aku sudah sah jadi menantu di rumah itu, aku melakukan semua yang suruh padaku, aku menyiapkan makanan untuk kak Alex dan semuanya lengkap dan siap untuk di makan olehnya.
“Kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini?” Kak Alex menatapku dengan tatapan terheran-heran.
“Maksud kakak apa?”
“Ya biasanya kamu tidak akan manaruh nasi di piringku atau membawakan aku air dingin saat aku baru pulang, ya meski aku suka tapi ini sedikit aneh”
“Baiklah, lain kali aku tidak akan melakukannya” Ucapku serius tanpa niat buat ngambek karena aku juga merasa aneh sama seperti kak Alex rasakan.
“Bukan begitu maksudku, aku hanya…”
“Alex, cepat makan dan jangan bicara lagi!” Bu Dewi memotong percakapan kami yang terlihat aneh itu.
Bersambung….
Jangan lupa like, vote dan juga kasih retting 5 untuk novel ini. Kalau kalian punya sesuatu untuk dikatakan tentang episode kali ini jangan lupa tulis di kolom komentarnya, ya?! Terima kasih telah membaca.