Obsession Of Love

Obsession Of Love
*Penyelesaian



Tiba-tiba Bu Dewi memelukku, "Andai kamu anakku, semua akan jadi lebih mudah. Kenapa kamu harus lahir dari perempuan itu, harusnya Alex saja yang jadi anaknya jadi ibu bisa terus melindungimu. Jika saja kamu anak ku, aku bisa dengan mudah mengatakan untuk tinggalkan saja si Alex itu, dan mencarikanmu pria taman dan baik, tapi sayangnya kamu bukan putriku, jika aku memintamu mencari pria lain, kamu tidak bisa menjadi putriku" Bu Dewi pun menangis lebih kencang dan sedih dari aku.


"Bu, meski aku tidak bersama kak Alex lagi, aku berjanji akan terus menjadi anakmu, untukku ibu adalah orang tuaku sama seperti Bunda, tante Mita. Aku akan mencoba menghubungi kalian jika aku mendapatkan kesempatan, karena itu ibu jangan menangis lagi." Ucapku sambil menghapus air mata bu Dewi yang terus mengalir dengan tisu yang ada di meja.


"Apa kamu berjanji?" Tanya Bu Dewi padaku dengan tatapan penuh harapan hingga aku tidak mampu untuk mengatakan tidak.


"Tentu saja, aku berjanji, bu" Ucapku penuh percaya diri di depan bu Dewi meskipun kenyataanya aku tidak bisa memastikan apa aku bisa menepati janjiku ini karena melihat bagaimana sifat keluarga kandungku sekarang.


Setelah bu Dewi lebih tenang, akhirnya aku berpamitan untuk pulang kerumah Fara. Dalam perjalan aku mendapat beberapa pesan dari sekretaris kakekku yang mengatakan kalau kakek hanya memberiku waktu sampai hasil ujianku keluar, jika lebih dari itu kakek akan mengirim orang untuk menjemputku dengan paksa.


'Kenapa semua jadi serumit ini sih, apa aku tidak bisa hidup dengan tenang? Apa aku benar-benar tidak bisa lebih lama menikmati waktu bersama dengan kak Alex? Apa sebaiknya aku memutuskan kak Alex sekarang saja, dari pada aku harus menahannya lebih lama dan membuat aku semakin tidak rela meninggalkannya' Pikirku.


Taksi yang mengantarku pun berhenti di depan pagar rumah Fara, aku dengan berat hati turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Aku benar-benar tidak enak dengan situasi keluarga Fara, aku juga merasa bersalah dengan keluarga Fara. Saat sedang banyak berpikir tiba-tia Fara datang dengan wajah cerianya menghampiriku dan langsung memelukku.


"Zia, mereka tidak jadi menarik investasinya, perusahaan kembali stabil dan semua kembali normal. Aku senang banget!" Wajahnya terlihat sangat senang hingga membuat aku sedikit lega, setidaknya keputusanku telah menyelamatakan orang yang paling aku sayang.


"Aku senang semua sudah membaik, bagaimana kalau kita rayakan malam ini?" Usulku.


"Ide bagus, tante Yani juga lagi di sini, ayo buat pesta berempat?" Ucapnya Antusias.


"Baik, ayo buat pesta. Tapi sebelum itu, aku mau ganti baju dulu." Ucapku dengan meneruskan langkahku dan meninggalkan Fara yang sedang bahagai itu.


'Sepertinya aku tidak bisa berubah pikiran lagi, kali ini aku harus memilih keselamatan mereka. Kak Alex, kali ini maafkan aku'  Pikirku.


***


Malam itu kami berempat mengadakan pesta kecil-kecilan dirumah Fara yang kebetulan sedang sepi karena orang tua Fara sedang keluar negeri untuk urusan bisnis.


"Malam ini kita karaoke sepuasnya karena Mama dan Papa aku lagi nggak ada jadi kita bisa berisik sepuas hati, karena besok mulai libur, mari kita bergadang malam ini" Ucap Fara sedang bersorak gembira.


"Yee!!" Seru kami serentak.


Tepat pukul 2 malam, saat semua orang sudah tepar karena kelelahan, aku dan Mia masih terbangun karena Mia masih mengobrol dengan tunangannya sedang aku sedang memikirkan bagaimana mengucapkan salam perpisahan dengan semua orang tanpa harus melihat mereka sedih.


"Zia, belum tidur?" Tanya Mia yang baru selesai teleponan.


"Eum, aku belum ngantuk, kamu gimana?" Tanyaku balik.


"Aku juga belum ngantuk sih. Mmmm... Azia, aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Mia ragu-ragu.


"Apa kamu beneran mau mempertahankan hubunganmu dengan Alex?"


"Itu... Aku tidak tau" Jawabku ragu-ragu.


Mia menepuk peundakku pelan, "Baiknya kamu putus aja. LDR emang kadang baik untuk menguji hubungan tapi, kalau kamu tidak bisa memastikan apa kamu benar-benar bisa kembali untuk dia, bukankah itu sangat keterlaluan dan jahat?"


Aku menarik bantal dan tidur disofa, "Aku tau, karena itu aku ini menyelesaikan semua ini. Mungkin mengakhiri hubungan ini akan jadi pilihan paling tepat tapi, apa akan mudah untuk putus dengan kak Alex?"


"Kayaknya bakalan sulit sih, tapi ya mau gimana. Kalau kamu pertahanin juga nggak guna. Yang ada kalian berdua akan terluka... Aku saranin sih putus baik-baik tapi, kalau nggak bisa juga ya... pakai cara lain aja"


"Cara apa?" Tanyaku penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menarik bantal yang lain dan tidur di lantai bersama dengan Fara.


"Mia, kamu belum jawab pertanyaanku"


"Nanti kita bahas kalau emang nggak bisa pakai cara yang pertama, besok ngomong lagi, sekarang aku ngantuk banget nih."


Pada akhirnya aku dibuat penasaran oleh ucapan Mia yang setenga-setengah, tapi aku tidak bisa mendesaknya karena sekarang memang sudah cukup larut untuk kami meneruskan obrolan kami.


Next.....