
Author POV
Hari yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba, tempat yang dihiasi dengan mawar putih dan beberapa bunga yang berwarna sama, itu terlihat indah, para tema undangan dengan dress code biru muda sudah berdatangan, bahkan para wartawan banyak berdatangan untuk meliput acara pertunangan cucu perempuan terakhir dari keluarga Xu yang juga digadang-gadang akan menjadi pewaris dari perusahaan milik Grup Xu. Sementara itu di tempat lain, Azia yang telah selesai dengan dress putih bak pengantin terlihat tidak bersemangat untuk masuk sebagai tokoh utama pada acara hari ini.
“Azia!” Panggil seorang perempuan dengan rambut kecoklatan, dengan dress sedikit terbuka, ia berlari masuk ke dalam ruang rias dan memeluk Azia tanpa menunggu respon dari pemilik nama yang ia panggil itu. “Kenapa aku harus tau dari orang lain? Apa kamu benar-benar melupakanku?” Tanya Perempuan itu dengan bola mata sudah memerah dan air mata terus menetes.
“Jangan menangis sekarang, kamu akan merusak make up mu” ucap perempuan lain yang baru saja masuk bersama seorang pria yang digandengnya.
“Aku tidak akan menangis” Ucap Azia mencoba untuk menahan dirinya.
“Azia, kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku? Apa kamu benar-benar memutuskan hubungan kita?” Tanya Perempuan yang sedang memeluk Azia.
“Fara, aku tidak mungkin ingin melakukan itu dengan sengaja, tapi kalian kan tau bagaimana kondisiku sekarang” Jelasnya dengan mencoba sedikit merenggangkan pelukan Fara, lalu keduanya pun benar-benar saling melepaskan, tangan kiri Azia menggenggam tangan kiri Fara, lalu tangannya yang lain mengambil tisu dan mengelap air mata Fara yang tidak henti-henti mengalir.
Selama mereka berteman, ini kali kedua Azia melihat seorang Fara menangis seumur hidupnya, karena image yang Fara bangun di publik adalah sebagai gadis dingin, tidak berperasaan, gadis bedas, yang suka bicara blak-blakan sesuka hatinya.
“Mia, aku dengar bulan lalu kamu menikah dengan Dirga, maaf aku tidak bisa menghadirinya” Ucap Azia pada Mia yang berdiri di depannya bersama dengan Dirga yang masih senantiasa menggandeng tangan Mia.
“Tidak masalah, kita berempat tau kondisi satu sama lain. Sebenarnya kamu tunangan atau menikah sih, kenapa seheboh ini dan kenapa harus menggunakan dress seperti orang yang menikah sih?” Tanya Mia heran.
“Ini salah satu koleksi gaun terbaik milik calon mertuaku, aku tidak mungkin menolak pemberiannya, lalu acara ini juga mertuaku yang mengaturnya, mungkin karena Bastian itu anak tunggal jadi Bibi Aurel ingin melakukan semuanya dengan sempurna” Jawab Azia yang sebenarnya hanya menebak saja.
“Heum, aku paham.” Jawab Dirga yang tiba-tiba bersuara.
“Aku dengar kamu akan ke Inggris setelah ini, apa itu benar?” Tanya Dirga.
“Heum, begitulah. Kakek mungkin akan memaksaku menikah jika aku tidak melanjutkan S2 ku kesana, semakin dekat aku dengan Bastian, maka aku akan semakin ditekan untuk segera menikah dengannya.”
“Kalau kamu tidak menyukainya kenapa kamu tidak membatalkan pertunangan ini?” Tanya Fara.
“Andai aku bisa melakukan itu, mungkin kita tidak akan bertemu di tempat itu. Lupakan itu, aku ingin tau bagaimana kabar kak Alex”
“Azia, kamu akan segera tunangan dengan pria lain, lupakan Alex. Dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang.” Jawab tegas Fara.
Mia sedikit menaikkan alisnya, matanya melirik penuh tanya maksud Fara, dengan Fara juga memberikan tatapan yang tidak bisa dimengerti orang lain selain mereka berdua. Lalu sebuah anggukan kecil dari Mia mengakhiri perang tatapan keduanya, Dirga yang sepertinya memahami kedua perempuan itu pun hanya bisa membuang napas berat.
“Azia, Alex itu hanya masa lalu, fokuslah pada masa depanmu yang sekarang.” Ujar Dirga.
Mata Azia menjadi sendu, matanya menatap lantai, tangannya menggenggam kuat tisu bekas mengelap air mata Fara yang masih di tangannya sedari tadi.
“Hari ini adalah hari bahagiamu, jadilah orang yang paling bahagia hari ini, tersenyumlah Azia. Sambutlah masa depanmu dengan penuh senyum, kami di sini akan selalu mendukungmu.” Ucap Fara mencoba memberikan sedikit dorongan agar Azia sedikit melupakan kesedihannya dan fokus pada acara pertunangannya.
“Iya, aku akan mencobanya. Ayo keluar” Azia membuang tisu di tangannya lalu bangkit dan berjalan mendahului teman-temannya.
Saat Azia sudah menjauh, Mia menahan tangan Fara.
“Apa maksudmu mengatakan itu?” Tanya Mia pada Fara.
“Jangan pura-pura tolol deh, jawab!” bentak Mia kesal.
“Sayang, jangan bicara kasar seperti itu” Terus Dirga dengan meraih tangan Mia.
“Iya, maaf” Ucapnya pelan. Mata Mia kembali fokus pada Fara yang ada di depannya, “Jawab, Fara!”
“Sudah saatnya Azia melupakan Alex, dia sudah punya tunangan” Jawab Fara santai.
“Jangan katakan kalau kamu berbohong pada Azia, apa kamu mengatakan kalau Alex punya orang lain?” Tanya Mia yang di balas anggukan kecil oleh Fara, “Sebenarnya seberapa benci kamu pada Alex sampai kamu sangat ingin memisahkannya dari Azia? Atau jangan-jangan kamu malah menyukainya”
“Jangan gila! Sampai matipun hal itu tidak akan mungkin” Tegas Fara.
“Kalau begitu kenapa kamu melakukan hal itu? Apa untungnya bagi kamu, hah?”
“Mia, kamu tidak akan paham. Aku melakukan ini demi kebaikan mereka, mereka harus benar-benar saling melepaskan agar bisa memulai hidup baru mereka tanpa beban masa lalu” Alasannya dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
“Cih! Kamu sendiri tidak bisa melupakan Andi, lalu kenapa kamu memaksa Azia melupakan Alex yang mana mereka saling mencintai satu sama lainnya? Apapun alasanmu berbohong pada Azia, aku benar-benar tidak setuju dan tidak menyukainya” Ucap Mia sebelum akhirnya menarik Dirga meninggalkan Fara sendiri.
Acara pun dimulai, semua orang terlihat bahagia apalagi saat Azia menyematkan cincin tunangan pada jari manis milik Bastian. Karena ini hanya sebuah acara tunangan Bastian terpaksa menahan diri untuk tidak mencium Azia di muka umum, atau lebih tepatnya tidak ingin memancing amarah Azia di hari baik mereka.
“Azia… Selamat atas pertunanganmu” Ucap wanita yang umurnya mungkin sekitar 40 tahun.
Saat Azia menatap wanita itu, air mata yang sudah dari awal dia tahan saat bertemu para sahabatnya itu akhirnya tumpah saat wanita yang tidak asing di ingatan dan perasaan memberinya sebuah kado kecil dan memberinya kata selamat untuk hubungannya dengan Bastian.
“Ibu” Ucap Azia dengan tangis pecah, lalu memeluk erat perempuan yang sudah dianggapnya ibu, dia adalah Dewi, ibu dari Alex. “Ibu, maafkan aku. Maafkan aku” Ucapnya di sela-sela tangisnya.
“Jangan menangis sayang, make up mu jadi luntur, tersenyumlah, ini hari terbaikmu” Ucapnya lembut dengan tangan membelai rambut Azia.
Di sisi lain Aurel terus memperhatikan interaksi Azia dan Dewi, “Siapa perempuan itu?” Tanyanya pada sekretarisnya yang kebetulan datang untuk memberikan beberapa laporan yang mendesak padanya. Dengan cepat laki-laki berusia 30 tahun itu mencari data dari wanita yang sedang berbincang akrab dengan Azia.
“Wanita itu bernama Dewi Sekar, ibu dari mantan kekasih nona Azia, beliau istri dari…”
“Aku tidak peduli, intinya dia mantan mertua Azia bukan?”
“Benar, nyonya”
“Menyebalkan! Azia tidak pernah bicara seakrab itu denganku, dia gadis yang tertutup, tidak banyak bicara tapi, kenapa dengan wanita itu dia bicara panjang lebar, bahkan memeluknya dengan mesra, itu sangat menjengkelkan” Ucapnya kesal, lalu dia berjalan menghampiri Azia yang masih berbincang mesra dengan Dewi.
“Azia sayang, apa kamu lapar?” Tanya Aurel sambil menarik Azia ke dekatnya dan membuat jarak antar Dewi dengan Azia.
*
Bersambung....
sampai jumpai di episode berikutnya jangan lupa likenya sayangku