
“Kalian harus ikut denganku” Ucap Mia pada kami yang sedang sibuk sendiri di malam itu.
“Mau kemana?” Tanyaku yang sedang mengerjakan tugas.
Fara memilih menonton drakor yang baru dia dapat, lalu Mia mendekati Fara dan memeluknya.
“Please kalian bantu aku, ya?”
“Mia, jangan menyender kayak gitu, iya aku ikut!”
“Yee… Azia, kamu juga ya?”
“Gak janji deh, aku masih punya kegiatan setelah pulang sekolah tapi, sebenarnya kamu mau ngajak kami kemana?”
“Orang tuaku meminta aku dan Dirga kencan besok siang dan aku males banget berduaan dengan dia!”
“Yaudah, gak usah pergi aja gampang, kan?”
“Bicara memang gampang tapi kan kalian gak tahu kalau orang tua kami sudah mengatur tempat kencan dan ada hadiahnya kalau aku jadi kencan.”
“Hadiah?!!” Fara langsung menutup laptopnya begitu mendengar kata hadiah.
“Kamu gak lagi bercanda, ya'kan Mia?” Tanyaku yang tidak yakin dengan ucapan nya.
“Serius, masa yang kayak begini bawa bercanda sih? Papa bilang kalau aku mau kencan sama Dirga aku di beliin mobil, kalau udah dapat mobil kitakan bisa jalan-jalan ya, gak?”
“Heum… Bisa di pertimbangkan, oke deh aku ikut juga! Pulang sekolah langsung jemput, oke!”
“Sip!”
“Kalau gitu aku tidur duluan!”
“Kalian gak ngerjain tugas?” Tanyaku yang baru siap mengerjakan tugas.
“Males, besok nyontek aja sama teman” Ucap Mia dengan santainya berbaring di kasur seakan menyontek adalah kegiatan yang sudah wajar.
“Jangan begitu, ayo bangun! Aku bantu kerjakan tapi, kamu jangan nyontek, oke!” Aku mencoba menarik Mia dari tempat tidur.
Tubuh Mia seakan sangat menempel pada kasur, dia tidak bisa di bangunkan, aku kewalahan membuat dia bangun, dia benar-benar tidak mau mengerjakan tugasnya. Lalu aku melepas tangan Mia dan berhenti menariknya dari tempat tidur dan duduk kembali ke kursi ku.
“Kalau gak ngerjain tugas, besok aku gak jadi ikut aja” Ancam ku yang kesal karena tidak bisa memaksa mereka membuat tugas.
“Lah, jangan gitu dong, iya deh aku kerjain” Lalu dia langsung bangun dan mengerjakan tugas.
“Gak jadi di bantuin nih?” Tanya Mia padaku.
“Iya aku bantu! Fara, cepat ikut!”
“Lah kenapa aku juga?”
“Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu juga punya tugas? Meski tahun ini kalian tidak sekelas tapi, kamu tidak bisa membohongiku, ayo cepat bawa tugasmu biar kita kerjakan sama-sama”
“Dasar guru sadis, iya aku kerjakan!” Dengan terpaksa Fara mengambil buku tugas yang disembunyikan di kolom lemari agar aku tidak tahu dia punya tugas yang belum dia kerjakan.
“Besok aja, ya?” Pinta Fara yang pura-pura mengantuk.
“Jangan mengada-ngada kamu, cepat kerjakan! Jangan sok-sok-an ngantuk deh! Kalau nonton drama korea aja matamu melek tapi, pas ngerjain tugas malah sok ngantuk, udah cepat kerjakan!”
“Ish! Azia, gak asik banget! Aku beneran ngantuk, kok!” Fara mengucek-ucek matanya pura-pura dia beneran ngantuk.
“Kamu mau menipu aku? Gak ada ngantuk-ngantuk sebelum tugas kalian berdua selesai, paham!”
“Dasar kejam!” Mia terlihat cemberut saat mengerjakan tugas sekolahnya.
“Aku kejam untuk kebaikan kalian juga, jangan buang waktu cepat kerjakan”
“Iya, ni di kerjakan kok!”
Mereka selalu bertingkah tiap kali disuruh mengerjakan tugas rumahnya, apa lagi di suruh buat mengulang materi, mata mereka langsung ngantuk, bagi mereka buku adalah obat tidur yang paling mujarab. Setelah menyelesaikan tugas, bukannya tidur Fara malah melanjutkan nonton drakor sedangkan Mia, ya kelihatannya sih dia tidur tapi di balik selimut itu sebenarnya dia lagi chatting-an sama pacar barunya. Padahal dia baru saja putus sehari, tapi dia selalu menemukan pengganti dalam hitungan jam, aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran anak itu.
***
Siang itu, aku sudah meminta kak Alex untuk tidak menjemput ku tapi entah kenapa dia sangat tidak patuh, dia malah datang menjemput ku di depan sekolah.
“Kenapa dia kesini, sih? Udah di bilangan juga gak usah jemput, keras kepala banget sih!!” Aku sangat kesal melihat mobil kak Alex terparkir di depan gerbang sekolah.
“Sayang, ayo aku anterin pulang!?” Ajaknya dengan nada lembut dan senyum hangat yang hampir menghipnotis ku.
“Gak, aku kan udah bilang kalau hari ini gak usah jemput” Aku mencoba mempertahankan kesadaran dan bersikap tegas padanya.
“Tapi kamu gak bilang apa alasannya, ya’kan? Ayo pulang bareng aku aja?” Dia terus menebarkan pesonanya yang membuat aku benar-benar hampir meleleh.
“Kak, kenapa kakak susah sekali sih dengerin ucapan ku? Aku mau pulang sama teman-temanku aja!” Aku mencoba terus bersikap tegas di depannya.
“Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?” Tanyanya dengan wajah kecewa.
“Bukan gitu, aku hanya mau pulang bareng teman-teman sesekali, apa gak boleh?”
“Kenapa jadi bahas Andi?”
“Lalu kamu pulang dengan siapa?”
“Andi itu bukan satu-satunya temanku! Udah ah, aku gak mau debat, aku pergi dulu!” Gara-gara ucapannya itu aku yang tadinya gak niat benar-benar marah jadi beneran marah karena ucapannya yang benar-benar menyinggung perasaanku.
“Azia tunggu! kita belum selesai bicara, Azia!”
“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kak, aku lagi nggak mau berdebat, tolong tinggalkan aku kali saja!” Ucapku dengan mata kami yang saling beradu.
“Tunggu!” Kak Alex menarik tanganku dengan sangat kencang dan membuat aku sedikit merasa kesakitan.
“Kak, sakit!” Aku mencoba memberontak.
“Maaf tapi, kamu kenapa jadi begini? Apa ini karena Andi?” Dia sih minta maaf, tapi tanganku tetap tidak dilepaskan dan genggamannya malah semakin di pererat.
“Kenapa bawa-bawa Andi sih, lepasin dulu tanganku!”
“WOI! Ngapain di situ! Cepat dong Azia!” Fara memanggilku dari jendela mobil baru Mia.
“Azia, cepat keburu telat nanti!” Mia keluar dari mobil dan memanggilku.
“Iya sabar!” Ucapku pada mereka.
“Kak, tolong lepasin aku! Aku juga punya kehidupan pribadi, tolong hargai privasi ku dan jangan pernah bawa-bawa Andi dalam masalah kita!” Lalu aku pergi setelah memberontak hingga tanganku lepas dari genggaman kak Alex.
“Kenapa kamu lama banget sih?” Tanya Fara.
“Tangan kamu kenapa?”
Padahal waktu itu aku berniat menyembunyikan bekas genggaman tangan kak Alex yang masih terlihat jelas di tanganku dari mereka, tapi mata jeli Mia tidak bisa ditipu.
“Gak papa, ayo jalan aja!”
“Azia, gak bisa begini! Katakan apa si sialan itu pelakunya?” Desak Fara padaku dengan tatapan penuh curiga.
“Bukan! Bukan kok, mending kita jalan aja” Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan topik pembicaraan karena aku cukup tahu mungkin mereka akan melakukan hal buruk pada kak Alex jika aku mengatakan kebenarannya.
“Kamu beneran gak apa-apa’kan?” Mia terlihat sangat khawatir padaku.
“Iya, ayolah jangan buang waktu, aku udah lapar banget nih”
Aku tahu mereka khawatir tapi, aku merasa kalau tidak semua masalahku harus mereka urus, aku tidak ingin terlalu bergantung karena suatu hari pasti akan datang waktu dimana aku harus menyelesaikan masalahku sendiri.
Kami sampai di tempat makan jepang, Dirga sudah memesan tempat untuk kami bertiga dan dia terlihat sangat bersemangat untuk kencang yang ingin Mia hancurkan.
“Hai! Akhirnya kalian sampai! Ayo duduk”
“Wah, gila! Kamu sudah pesan semua ini?” Tanya Fara yang tidak percaya dengan makanan yang tersaji di atas meja kami.
“Ya, aku pikir kalian pasti lapar setelah pulang sekolah jadi, aku langsung pesan saja, gak masalah’kan?”
“Ya enggak lah! Zia, ayo kita makan!” Ajak Fara yang sudah sangat tergoda dengan makanan itu.
“Tunggu dulu!!” Mia menghentikan kami yang akan melahap makanan yang terlihat sangat menggoda di depan meja.
“Ada apa sih, Mia?”
“Tu lihat arah jam 2, pakai pantulan kaca aja biar gak ketahuan!”
“Memangnya ada apa?” Saat aku akan melihat ke arah yang ditunjuk Mia dengan matanya, Fara langsung menahan kepalaku dengan kedua tangannya.
“Jangan bandel deh, lihat pakai pantulan cermin ini aja, cepat!”
“Iya, iya!” Lalu aku melihat seorang pria yang duduk sendirian dan terus melihat ke arah kami.
“Eh, bukannya itu kak Alex?” Ucapku spontan.
“Ngapain tu anak ngikutin kita sampai ke sini? Benar-benar nggak bisa dibiarkan, kita perlu kasih dia pelajaran” Sebelum Fara bangun untuk menghajar kak Alex, Mia berhasil menahannya.
“Tunggu dulu! Aku punya ide cemerlang, ayo kita sedikit bermain!” Ucap Mia dengan senyum jahil.
“Main? Maksud kamu apa?”
“Sini aku bisikin!”
“Aku ikutan dong!” Dirga menyela percakapan kami.
“Gak, kamu diam aja! Gak jadi aku bisikin, lihat chat grup kita aja”
“Oke”
Bersambung….
Jangan lupa buat Like Dan Favoritkan biar gak ketinggalan ceritanya. Dukungan dari kalian adalah sebuah semangat yang luar bisa untuk kami para penulis. Jangan lupa juga memberikan vote dan tips untuk novel ini biar bisa update tiap hari.