
Malam…
Di kamar yang berdominan warna coklat muda, terdapat sudut baca yang dipenuhi buku-buku dengan warna-warna dark.
“Dia sudah tidur, kamu mau pulang?” Tanya perempuan yang duduk di tepi tempat tidur pada laki-laki yang berbaring di kasur dengan anak kecil yang sudah lelap di sampingnya.
“Ah, aku hampir ikut tertidur juga. Ini sudah terlalu larut, boleh aku menginap saja?” Tanya Bastian yang berusaha bangun dengan mata sedikit demi sedikit terbuka dengan lebar.
Kedua pasang mata itu saling bertatap tapi hanya beberapa detik karena Azia langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur. Diambilnya satu buku di rak kayu berwarna coklat pekat itu, lalu dia berjalan menuju kursi santai yang ada di kamar itu. “Mengingaplah, pakai saja kamar sebelah, kamar itu sudah selesai direnovasi sesuai keinginanmu” Ujarnya sambil membuka buku yang ada di tangannya.
Tangan Bastian meraih rambutnya yang sedikit acak-acakan, lalu dirapikannya, dia bangun dan berjalan menuju ke kursi kosong di sebelah Azia. “Kamu tidak tidur?” Tanyanya pada Azia yang sedang fokus membaca.
Azia tidak melirik laki-laki tampan yang terus menatapnya, matanya masih fokus pada buku yang ada di tangannya, “Istirahatlah, kamu pasti lelah bermain dengan Zuzu sampai malam, kan?” Ucapnya dengan nada datar dan mata benar-benar tidak teralihkan dari halaman-halaman buku yang ada di tangannya.
“Aku lelah, tapi aku juga senang”
“Aku tau” Jawab Azia yang terdengar dingin.
“Apa besok kamu akan ke kantor? Aku boleh ikut?” Tanyanya dengan ekspresi memelas tapi tidak di lirik oleh Azia.
“Buat apa? Daripada kamu menggangguku lebih baik kamu ke perusahaan keluargamu saja.” Saran Azia, namun lebih terdengar seperti perintah.
Sayangnya Bastian adalah anak yang cukup keras kepala, dia tidak akan benar-benar mendengarkan perintah atau nasehat orang lain. “Besok mau aku bawa makanan apa?” Tanya Bastian mengalihkan topik.
Tak!
Buku Azia ditutup kasar, lalu matanya fokus menatap Bastian yang duduk di kursi yang berada di sampingnya. “Bastian, kamu mengertikan apa yang aku bicarakan?” Tanyanya dengan nada dingin.
Bukan takut ataupun sakit hari, Bastian malah membalas ucapan dingin Azia dengan sebuah senyum yang membentuk lesung pipi miliknya, “Aku paham, jadi makanan apa yang harus aku bawa untuk makan siangmu?” Tanyanya dengan senyum tak lepas di ujung kalimatnya yang terdengar cukup lembut.
Azia menatap tajam Bastian dalam waktu cukup lama hingga matanya terasa perih dan egonya mulai terluka, “Terserah” Ucapnya sambil bangun dan meletakkan kembali buku yang sedari tadi masih di tangannya ke rak buku.
“Bisa aku tinggal di sini sementara waktu?” Tanya Bastian yang di balas tatapan penuh tanya dari Azia, “Setidaknya hanya sampai Zuzu pulang?”
‘Heum… ada bagusnya juga dia di sini, meski dia suka berkelahi dengan Zuzu, tapi dia adalah satu-satunya orang yang bisa dekat dan memahami Zuzu dibanding orang lain, bahkan mereka terlihat lebih akrab daripada denganku.’ pikirnya yang terus menimbang-nimbang permintaan Bastian.
“Akan aku perimbangkan, sekarang kembali ke kamarmu, aku akan istirahat” Ujarnya sambil berjalan menuju ranjang.
“Boleh ku tidur di sini juga?”
“Jangan menguji kesabaranku Bastian, selama ini aku telah banyak memberi toleransi” Tegas Azia dengan menatap tajam ke arah Bastian yang hendak bangun dari tempat duduknya.
Ekspresi Bastian terlihat kecewa, ia bangun dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar, wajahnya jelas memperlihatkan rasa kesal dan kecewa, namun tidak ada kata yang berani diucapkan pada Azia yang terlihat sudah berada diambang batas kesabaran dan bersiap untuk meledak. “Selamat malam” Ucapnya sebelum menutup pintu dan dibalas dehem oleh Azia yang sudah siap untuk menarik selimut.
Pagi tiba, langit hari itu terlihat sangat cerah, bahkan tidak ada awan di pagi itu, langit terlihat sangat bersih, udah pagi memang sangat dingin tapi, entah kenapa sebelum mentari terbit Azia sudah berada di dapur, ia menyiapkan sarapan seadanya untuk mereka pagi itu. Azia memang bukan ahli untuk urusan masak tapi, setidaknya dia masih bisa memanggang roti dan menggoreng telur dadar untuk gadis kecilnya dan untuk bayi besarnya.
“Sudah bangun sayang, ayo Mimi bantu mandu dulu, lalu kita sarapan” Ucap Azia sambil meletakkan piring berisi tiga telur mata sapi setengah matang, sedang anak yang diajak bicara sambil mengecek pelan matanya, ia mengangguk patuh lalu berbalik kembali masuk ke dalam kamar dan disusul Azia dari belakang.
Beberapa menit kemudian Azia keluar dari kamar bersama Zuzu dalam gendongannya dengan wajah cerah ceria dan rambutnya yang dikepang dua.
“Pagi Zuzu! Pagi My queen!” Sapa Bastian dengan berjalan mendekat dan mencium kening Zuzu yang berada dalam gendongan Azia. “Mau sarapan apa?” Tanya Bastian.
“Aku sudah menyiapkan telur mata sapi dan roti panggang, ART ku sedang cuti untuk dua hari kedepan jadi, kita akan makan di luar untuk malamnya, untuk pagi, kurasa cukup dengan roti saja, bukan?” Tanya Azia pada Bastian sambil mendudukkan Zuzu di kursinya.
“Lalu siangnya bagaimana?” Tanya Bastian.
“Aku akan makan siang di kantor, Zuzu dia akan bersama kakek jadi…”
“Jangan repotkan kakek, biar aku saja yang menjaga Zuzu saat kamu pergi kerja” Tawar Bastian.
“Aku sih terserah kamu, yang penting kamu tidak menggangguku saja itu sudah lebih dari cukup.” Ujar Azia acuh.
“Ini untukmu sayang” Azia memberikan roti yang di telur mata sapi setengah matang dan sedikit asin, kesukaan Zuzu sedari dulu.
“Terima kasih Mimi” Ucapnya dengan senyum bahagia menerima roti itu.
“Memangnya kapan aku mengganggumu? Aku akan tidak pernah melakukan itu” Ucap Bastian penuh keyakinan.
‘Ya semua hal yang kamu lakukan itu sebenarnya menggangguku tapi, kamu tidak akan menyadari itu karena untukmu itu bukan sebuah gangguan, dasar menyebalkan’ gerutunya dalam hati.
“Hem” Dehem nya tidak peduli.
Melihat respon Azia yang acuh membuat Bastian sedikit kesal, tapi dia tidak ingin mengatakan apapun untuk membuat tunangannya itu kembali berbicara panjang lebar padanya.
Pada akhirnya proses makan pagi itu benar-benar tenang hingga selesai.
“Aku berangkat, tolong jaga putriku” Pinta Azia pada Bastian.
“Dia juga putriku, Queen” Ujar Bastian.
“Iya, aku juga tau itu. Tapi tolong jangan sering berantem dengannya, jangan terlalu kekanak-kanakan, dia itu anak kecil dan kamu dewasa jadi mengalahlah sesekali” Nasehat Azia pada Bastian saat berada diambang pintu keluar.
“Iya, my queen” Ujar Bastian sambil menutup pintu pelan dan akhirnya Azia pergi dari tempat itu.
“Oke sekarang tinggal kita berdua, ayo kita shopping” Ucap Bastian penuh semangat.
“Tapi Papa bilang kalau mau pelgi kelual Zuzu halus izin Mimi” Ucap dengan bibir sedikit dimajukan dan mata menatap polos pada orang yang ada di hadapannya.
“Tenang, Pipi yang akan izin pada Mimi mu nanti”
“Benelan?” Tanya Zuzu si gadis yang masih sulit mengatakan huruf ‘r’ itu.
“Iya sayang, ayo kita borong mainan untukmu lalu… mari kita makan siang di kantor baru Mimi” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Zuzu.
“Pipi, lambut Zuzu kan jadi jelek” Ketus si kecil dengan ekspresi kesal namun menggemaskan.
“Iya maaf” Ucap Bastian dengan tangan membetulkan kembali rambut Zuzu, lalu mereka pun pergi menuju pusat perbelanjaan di kota itu.
Bersambung....
@Bagian curhat
Kalian pernah nggak merasa kalau orang yang kalian sayang lagi dekat sama orang baru sebenarnya kalian tidak terlalu mempermasalahkannya tapi ketika dia mulai membela dan menjadikan orang baru itu pilihan pertama rasanya hati mulai tidak rela dia dekat dengan orang itu, ada rasa kesal dan muak pada orang itu hingga kita berharap orang itu segera menghilang agar arus takdir terus berjalan seperti seharusnya tanpa adanya hambatan dari orang itu.