Obsession Of Love

Obsession Of Love
Junior



Aku keluar sambil membawa dompetku keluar, aku masih sedikit syok dengan situasi itu hingga tidak terlalu memperhatikan siapa yang ada di hadapanku saat itu.


“Kak Azia? Kak Azia kok di sini?” Tanya Pria itu.


Aku pun mengangkat pandanganku dan mulai memperhatikan wajah pria yang jauh lebih tinggi dari tubuhku, “Bisa gak sih jangan terlalu tinggi” Keluhku dalam hati sambil tersenyum ke arahnya karena aku benar-benar tidak ingat siapa dia.


“Kak Azia ingat aku kan? Aku Vandi, kak! Aku senior di organisasi perikatan mahasiswa asia… Kak Azia ingat kan?” Ucapnya yang seolah sangat senang bertemu denganku.


“Ah itu… Eum,,, ini kartu namaku, kamu bisa menghubunginya untuk meminta tagihan perbaikan mobil.” Ucapku sambil mengeluarkan kartu nama untukku.


“Tidak perlu kak! Aku baik-baik saja, aku bisa menggunakan garansi untuk memperbaikinya.”


“Tidak bisa, aku yang salah, tolong kirim tagihan perbaikan mobil mu segera atau aku benar-benar akan merasa sangat bersalah padaku” Ucapku.


“Bagaimana kalau ganti ruginya diganti dengan makan malam saja? Aku sudah lama tidak berbicara dengan kak Azia, jadi… Apa boleh?” Tanyanya.


Aku sangat merasa bersalah karena membuat mobil mewah miliknya rusak karena kecerobohan ku tapi, aku sedang tidak ingin makan malam dengan siapapun, aku hanya ingin istirahat dan fokus pada persiapan pernikahanku.


“Kak, bagaimana?” Tanya nya lagi.


“Aku… sepertinya tidak bisa, malam ini aku ada janji” Ucapku dengan seutuhnya berbohong.


“Kalau begitu ayo makan sekarang, aku sedang tidak buru-buru. Lagian aku juga tidak makan siang ini karena terlalu sibuk… Kalau sekarang bisa kan kak?” Tanya nya dengan penuh harapan.


“Baiklah. Bagaimana dengan mobilmu?” Tanyaku untuk mencoba mengundur acara makan itu.


“Temanku akan mengurusnya, ayo kita makan kak”


Tanpa menunggu ku mempersilahkannya untuk masuk ke mobil, dia sudah masuk duluan dan duduk manis di kursi sebelah pengemudi. Aku benar-benar tidak bisa menolaknya lagi kali ini, karena itu aku terpaksa untuk mau pergi dengannya.


Kami berhenti di sebuah restoran prancis, ini sangat membosankan karena tidak ada yang bisa aku makan di jam itu, aku benar-benar tidak bisa makan di luar jam makan ku karena aku harus benar-benar menjaga berat badanku untuk bisa menggunakan gaun pengantin yang sudah aku beli kemarin bersama dengan kak Alex.


Vandi pun mulai memesan beberapa menu sedangkan aku hanya memesan segelas jus untuk diriku sendiri.


“Apa kak Azia tidak ingin memesan lagi?” Tanya nya ragu melihatku hanya memesan segelas jus.


“Aku tidak bisa makan di luar jam makanku, kamu pesan saja sepuasnya aku akan mentraktirmu.” ucapku.


“Beneran? Tapi tidak lah kak, aku cukup dengan makanan ini saja” Ucapnya sambil melahap perlahan makanannya.


Wajah vandi yang terlihat cukup seumuran denganku membuat aku merasa sedikit terganggu dengan panggilan ‘kakak’ yang Vandi sematkan padaku.


“Jadi kamu sekarang usianya berapa?” Tanyaku basa-basi.


“Sekarang baru masuk 24 kak tiga bulan lalu, kalau kakak bagaimana?”


“Loh kok bisa? Aku aja baru 24 tahun itu agustus ini tanggal 12” ucapku sambil tersenyum kesal karena setidaknya aku punya alasan yang jelas untuk membuat dia berhenti menggunakan panggilan ‘kak’ padaku.


“Wah, kok bisa? Kalau gitu aku lebih tua 5 bulan dari kak Azia… Eh, maksudku Azia. Aku panggil Azia aja atau harus tetap memanggil dengan ‘kak Azia’ ?” Tanya Vandi padaku.


“Azia aja, lagian kita seumuran. Aku hanya kebetulan lebih cepat kuliah dari kamu, meski begitu kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu.”


“Huem… Baik lah, A.. Zia” ucapnya dengan nada sedikit canggung.


Lalu entah kenapa kami jadi sama-sama tersenyum sedikit canggung.


“Azia, kok kamu di sini?” Mia tiba-tiba datang dari arah belakangku.


“Mia, kenapa kamu di sini?” Tanyaku padanya.


“Dia hanya juniorku di kampus, karena beberapa masalah yang terjadi di jalan aku dan dia malah berada di sini. Ayo duduk dulu!” Tawar ku pada Mia yang terus menatap Vandi.


“Bagaimana persiapan pernikahanmu?” Tanya Mia tiba-tiba.


“Hah? Ah itu, semua hampir selesai dan aku harap semua berjalan dengan lancar seperti seharusnya.” Jawabku.


Entah kenapa raut wajah Vandi berubah menjadi tidak enak, dia mulai sulit menelan makanan yang sedang ia kunyah, lalu dia mulai berhenti makan setelah meneguk satu gelas air seolah dia sedang kesal dengan sesuatu.


“Ada apa Vandi?” Tanyaku padanya.


“Tidak ada kak” Jawabnya dengan sebuah senyum yang dipaksakan.


“Setelah menikah kamu akan tinggal dimana?” Tanya Mia lagi padaku yang teralihkan oleh Vandi.


“Tentu saja di rumah suamiku, lagian aku sudah mendiskusikannya dengan kak Alex sejak lama… Eh, suamimu mana?” Tanyaku yang tidak melihat siapapun di samping Mia.


“Oh, dia sedang ada di lantai atas, di sana mereka sedang mengadakan meeting yang sangat-sangat membosankan karena itu aku memilih turun dan makan di sini. Aku mau pesan makan dulu!”


Kami pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan dari Mia, “Kamu mau pesan juga?” Tanya Mia padaku.


“Tidak, aku sudah makan di rumah mama tadi.” Jawabku.


“Oh… Oke, itu saja pesanan saya” Ucap Mia pada pelayan itu.


“Pernikahan kalian itu kan tidak terlalu megah tapi aku harap kamu tetap mengundang teman-teman SMA kita dulu, kalau SMA kamu mah itu nggak penting, intinya semua teman kita harus undang, ya!” Pinta Mia padaku.


“Hah! Yang benar ajalah, kalau aku undang semuanya jadinya bukan pernikahan sederhana tapi acara besar. Aku tidak mungkin bisa mengundang semuanya.”


“Jangan gitulah, Zia! Mereka akan sangat kecewa dan marah pada kita kalau kamu tidak mengundang mereka. Bagaimanapun mereka itu teman kita semua.” Mia mencoba meyakinkan aku tentang mengundang semua teman-teman kami yang mungkin lebih dari ratusan.


“Yaudah, masalah undangan aku serahkan sama kamu dan lainnya akan di urus oleh Fara bersama dengan keluarga kak Alex.”


“Nah gitu dong, jadi aku ikut bantu juga dalam acara ini! Oke, masalah itu akan aku urus dengan baik”


“Azia, aku harus pergi dulu, soalnya temanku sudah jemput aku” Ucap Vandi yang terlihat sudah muak dengan perbincangan kami.


“Apa kamu tidak ingin aku antar?” Tawarku.


“Tidak perlu, dia sudah di depan. Terima kasih atas makanannya.” Ucapnya sambil buru-buru pergi dari tempat itu.


Aku menatap heran ke arah Vandi yang pergi dengan tergesa-gesa itu.


“Sepertinya dia menyukaimu” Ucap Mita setelah Vandi pergi cukup jauh dari tempat itu.


“Jangan bercanda!” Aku kembali fokus pada Mia.


“Aku serius, lihat saja betapa kesalnya saat aku membahas pernikahan kamu dengan Alex. Aku yakin dia menyukaimu”


“Aku tidak yakin, lagian aku hanya senior untuknya, dan aku tidak punya alasan untuk bisa menyukai orang yang baru aku temui tidak lebih dari 4 kali seumur hidupku.”


“hah! 4 kali? Yang benar saja? Kapan?”


“Itu terjadi saat aku masih menjadi seorang mahasiswa, dan kebetulan dia anak yang harus didampingi oleh seniorku tapi karena seniorku sakit, aku terpaksa menggantikannya 3 kali pertemuan dan jika dihitung maka ini adalah pertemuan kami ke 4 setelah bertahun-tahun.” Jelasku.


Bersambung