
Setelah Andi sembuh dari sakitnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk menikmati sehari bersama-sama tanpa memikirkan apapun selain bersenang-senang.
“Azia, kamu udah minta izin sama si Alex sialan itu?”
“Fara berhenti menyebut kak Alex dengan kata sialan”
“Iya, iya nanti di coba, terus sekarang apa?” ucapnya dengan wajah cemberut dan tidak rela mengubah panggilan itu untuk kak Alex.
“Aku udah minta izin sama kak Alex lewat chat, tapi belum di baca karena dia sibuk tapi, seenggaknya aku udah kasih tahu dia kalau aku pergi sama kalian”
“Bagus, kalau gitu kumpulkan handphone kalian semua” Fara meminta semua handphone kami untuk di letakkan dalam keatas miliknya.
“Buat apa?”
“Masukin aja dulu nanti baru aku jelaskan”
Lalu kami semua meletakkan handphone kami ke dalam tas Fara, lalu kemudian tas itu di serahkan ke bodyguard yang di bawa Fara bersamanya.
“Loh kenapa di kasih ke dia?” Tanya Mia.
“Khusus hari ini kita harus fokus pada waktu kita berempat, jangan ada yang asik main handphone sendiri dan kita harus menikmati masa kebersamaan ini dengan hikmat”
“Ah lebay banget sih kamu Fara” Andi menentang ide Fara karena dia berpikir kalau itu terlalu berlebihan, apalagi Andi itu adalah orang yang tidak bisa di pisahkan dengan handphonenya.
“Udah kamu diam aja!” Bentak Fara pada Andi.
“Bagaimana kalau kak Alex menghubungiku? Lalu kalau dia mau gabung ke sini gimana?”
“Nah ini alasan kenapa aku minta kalian buat kumpulin handphone kalian, ini semua agar si sialan itu gak bisa melacak keberadaan kita dan gak akan sibuk menanyai kita”
“Kenapa begitu?”
“Kalau itu alasannya aku sih… oke!” Tiba-tiba Andi kelihatan senang dengan alasan Fara.
“Andi kenapa kamu jadi memihak Fara?”
“Ya soalnya pacar kamu itu emang nyebelin banget, ingat gak minggu lalu? Waktu itu dia bikin acara kumpul-kumpul kacau, kalian asik pacaran dan kami jadi obat nyamuknya, ingat gak!!”
Wajar sih Andi marah karena semua kegiatan hari itu dia membuat dia sangat capek, soalnya yang tugas membersikan itu aku dan Andi tapi karena kak Alex gak mau melepaskan aku hari itu, ya terpaksa deh Andi yang membereskan semua sisa makanan dan sampah yang kami buat.
“Gak gitu, kamu salah paham, kak Alex itu tidak bermaksud begitu”
“Beb, kamu itu terlalu polos atau apa sih? Jelas-jelas dia itu selalu mengganggu kebersamaan kita, udah dia menggambil waktu kamu terlalu banyak untuk memikirkan dia, jalan bersama dia terus pas ada waktu kita bisa berkumpul kayak gini dia malah bikin kacau, gak adil dong buat kita!”
“Betul itu” Andi dan Fara kompak membenarkan ucapan Mia.
“Oke! Yaudah kali ini aku akan nurut jadi kita mau apa hari ini?”
“Nah gitu dong! Sekarang karena masih pagi sesuai rencana awal pertama-tama kita akan lari pagi keliling taman dulu setelah itu nanti kita makan siang di pantai sambil bakar-bakar ikan, gimana?”
Lalu di mulailah rencana menghabiskan akhir pekan bersama setelah setiap akhir pekan ku selalu dicuri oleh kak Alex. Hari itu cuacanya sangat indah dan kami benar-benar menikmati perjalanan kami. Saat itu aku jadi ingat saat setelah aku diadopsi oleh nenek, Andi sering kali ke rumah dan bermain denganku karena aku belum bisa benar-benar beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan anak-anak di daerah itu. Andi dan aku sering sekali bermain di taman belakang rumah nenek, kadang kami menanam bunga, bermain lari-larian, lalu terkadang bermain boneka. Aku tahu Andi tidak suka bermain boneka tapi, Andi tidak pernah menolak apapun yang aku minta padanya meskipun itu sesuatu yang tidak dia suka. Sekarang ada yang berbeda dari hari-hariku karena kini ada Mia dan Fara yang mengisi hariku dengan senyuman dan cinta tulus mereka untukku. Aku selalu berharap mereka bertiga bahagia apapun yang terjadi, aku akan selalu bersama mereka karena merekalah bagian terpenting dalam hidupku yang hampa ini.
“Andi, tunggu aku!” Aku berlari sangat pelan hingga Mia dan Fara sudah jauh meninggalkan aku dan Andi yang berlari perlahan.
Andi terus mencoba menyamai lari ku yang sangat lambat, aku jadi merasa bersalah padanya karena aku yang bertebuh lemah membuat dia kerepotan setiap saat.
“Andi, maaf ya karen aku selalu merepotkan kamu”
“Kamu ngomong apa sih Azia? Memangnya aku pernah bilang kalau kamu merepotkanku? Enggak, kan?”
“Tapi tetap saja aku merasa gak enak selalu membuat kamu susah dari dulu hingga sekarang”
“Azia jangan ngomong gitu dong, kitakan sahabat jadi wajar kalau selang membantu, lagian aku sudah menanggapmu seperti bagian dari keluargaku sendiri”
“Terimakasih untuk semua” Kami tersenyum sambil terus berlari pelahana.
Menyadari aku dan Andi sudah tertinggal jauh, akhirnya Mia dan Fara berbalik dan kembali menyusul kami.
“Kalian kenapa sih kayak siput? Lari kok kayak jalan, yang benar aja dong?!” Fara berdiri di depan kami dan membuat kami berhenti berlari.
“Iya nih, baru juga setengah putaran masa kalian udah capek?” Mia terus mengelap keringat dengan handuk kecil yang dia bawa.
“Maaf! Semua ini karena aku terlalu lemah, aku tidak bisa berlari sama seperti kalian, maafkan aku” Aku sangat sedih dan kecewa pada diriku yang merasa telah mengacaukan kesenangan kami.
“Bukan itu maksudku, sudahlah ini salah kami karena terlalu cepat, sekarang ayo kita jalan pelan-pelan saja…. eh, maksud aku tu lari pelan-pelan, ayo mulai lagi” Ucap Fara yang merasa bersalah padaku.
Lalu kami mulai kembali berlari tapi kali ini semuanya berlari mengikuti langkahku, kami jadi seperti sedang jalan-jalan di taman dan menikmati setiap langkah kami. Tanpa sadar kami sudah berkeliling dua putaran tapi sayangnya aku mudah lelah dan saat itu aku benar-benar tidak bisa menahan diriku. Matahari yang mulai memanas dan rasa lelah karena berlari membuat kepalaku pusing, lariku semakin melamban dan napasku mulai sesak, keringatku seakan keluar lebih banyak hari itu. Semua berhenti dan menghampiriku, mereka terlihat khawatir dengan kondiriku tapi, aku sudah bertekat tidak akan mengacaukan apapun hari itu.
“Gak papa, kita lanjut saja” Ucapku yang sebenarnya sudah tidak bisa menopang diriku lagi.
Baru satu langkah dari tempat aku berpijak, aku langsung terjatuh karena hilang kesadaran, aku tidak bisa menahannya terlalu lama. Aku pikir aku akan menghantam batu di jalan itu tapi untungnya Andi segera menangkap tubuhku, meski samar-samar aku bisa mendengar kalau mereka mulai panik karena keadaanku. Andi membawaku ke dalam mobil dan kami menuju rumah sakit. Setelah di periksa aku mengalami demam, karena tidak parah akhirnya aku di bawa pulang dan di rawat di rumah.
“Azia, kalau kamu udah enggak sanggup harusnya kami bilang dong jangan di paksa, apa kamu tidak peduli pada dirimu sendiri? Ya setidaknya pikirkan kami yang mengkhawatirkan dirimu.”
“Maafkan aku”
“Dari pada minta maaf sebaiknya kami menjaga dirimu, atur pola makan dan jadwalmu tolong jangan terlalu ketat lagi, jangan terima kerjaan yang membuatmu harus bergadang, paham?” Fara menegurku dengan sangat tegas hingga membuatku merasa bersalah karena membuat mereka khawatir.
Aku ingin sekali mengurangi jadwalku tapi aku terlanjur membuat janji pada klien tetap ku hingga rasanya hampir tidak mungkin menolak orderan meraka.“Tapi, aku sudah terlanjur menerima tawaran untuk mengerjakan tugas mereka”
“Azia, tolong dengarkan kami!” Mia menggenggam tanganku dan menatapku dengan tatapan yang membuat aku tidak mampu membantah apa yang dia minta.
“Oke! Aku akan merenggangkan jadwalku akhir bulan ini dan aku akan berhenti menerima kerjaan untuk membuat tugas dengan jadwal kumpul sangat cepat agar aku tidak bergadang langi. Terimakasih karena kalian sudah mengkhawatirkan aku” Lalu Mia memelukku dan di susul Fara, Andi hanya melihat dengan tangan yang disilingakan di dada dan tersenyum kearah ku.
Bersambung….
Jangan lupa likenya sayangku, dukungan kalian sangat berarti untuk aku, terima kasih telah berkunjung.