Obsession Of Love

Obsession Of Love
Percaya



“Silahkan makan, sepuas kalian!” Andi menghidangkan banyak jenis makanan yang menggugah selera.


“Serius? Makasih, Andi!” Ucap Mia dengan wajah sangat senang.


“Ngomong-ngomong, mana orang tuamu kok gak kelihatan dari tadi?”


“Oh itu, sebenarnya mereka ke luar kota untuk berlibur”


“Duh kasian gak di ajak” Ucap Fara dengan nada mengejek.


“Biasa aja kali! Lagian … ya memang agak menyedihkan tapi, itu udah biasa karena mereka sering ingin menghabiskan waktu berdua dari dulu, ini menyebalkan tapi, asal mereka bahagia, aku rasa mungkin aku ikhlas di tinggal sendiri di rumah ini”


“Eh, bukannya ada pembantu, di rumahmu?”


“Sialnya dia sedang cuti karena keluarganya sakit, aku benar-benar sendiri, kecuali di siang hari karena akan ada pengurus rumah sementara yang bekerja setengah hari.”


“Udah, sabar aja, takdir kamu tuh!” Ucap Fara dengan nada mengejek.


“Tutup mulutmu! Mia, kamu mau aku buat jus?”


“Boleh deh, Azia juga mau?”


“Aku juga” Jawab Fara.


“Aku gak nanya ke kamu!”


“Tega banget sih!” Fara kesal karena Andi selalu terkesan memperlakukan dia dengan kejam.


“Udah, Andi kamu buat aja untuk semua orang, jangan diskriminasi gitu!”


“Oke, deh!”


Sesaat ketika Andi pergi ke dapur, Mia dan Fara mulai menarik kursi dan duduk dengan menghimpit ku.


“Sekarang coba cerita sebenarnya kamu pergi nolongin si Andi tadi tanpa izin dari Alex, kan?”


“A-ada kok aku izin!” Ucapku dengan terbata-bata..


“Bohong! Mata kamu aja bilang lain, kamu sekarang harus menemui dia sebelum masalahnya lebih besar”


“Masalah apa?”


“Azia, pokoknya kamu cepat temui Alex sekarang!”


“Iya, iya, aku pergi tapi, makanannya gimana?”


“Itu, biar kami aja yang habisin, kamu jangan khawatir!”


“Itu sih mau mu! Eh, bawa pulang tu kue ya, aku mau cicipi kue buatan Andi.”


“Sip, udah sana pergi!”


Saat aku pergi Andi pun datang dengan membawa jus yang telah siap,


“Azia, kamu mau ke mana?” Tanya Andi padaku yang pergi terburu-buru.


“Ada urusan mendadak, kalian makan saja tanpa aku”


Aku berlari dengan cepat dan memesan taksi, begitu taksi sampai jam hampir menunjukkan waktu untuk makan malam sesuai rencana kami.


“Sial, bisa-bisa aku terlambat nanti!”


“Pak, bisa lebih cepat?”


“Bisa, mbak tapi lebihi, ya uang nya?” Ucap supir itu sambil cengengesan.


“Gampang, pokoknya saya ingin sampai dengan cepat di alamat tujuan”


Aku menyesal telah meminta supir itu untuk mengebut karena perutku jadi tidak enak dengan guncangan mobil yang membuatku hampir muntah. Sampai di depan rumah kak Alex, aku langsung turun dan mencoba mengeluarkan apapun yang ada di lambungku, aku benar-benar tidak bisa menahan muntah ku setelah mengalami guncangan yang mengerikan dari supir yang ugal-ugalan itu.


“Pak, ini uangnya! Tolong hati-hati lagi, tadi kita hampir menabrak motor dan mobil berapa kali, saya hampir jantungan karena melihat itu.”


“Makasih uangnya, mbak! Jangan khawatir soal itu, lagian yang penting mbak sampai dengan selamat”


“Saya sih selamat tapi, makanan yang dalam perut saya keluar semua.”


“Hahah… saya minta maaf soal itu, sekarang saya pergi dulu!”


Supir itu benar-benar tidak bisa di nasehati, baru saja menyuruhnya untuk hati-hati tapi, dia malah ngebut.


“Dasar gila! Perutku jadi sakit, apa aku bisa makan lagi setelah ini?”


Begitu masuk ke dalam pagar aku melihat moli kak Alex, yang baru terparkir.


“Dari mana dia? Kenapa baru pulang?” Tanyaku.


Saat aku akan mendekati mobil kak Alex, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang keluar dari mobil kak Alex.


“Eh, bukannya itu wanita yang … Azia, positif thinking aja dulu, lagian aku juga salah karena tiba-tiba bilang gak bisa makan malam” Aku tetap menghampiri kak Alex dan wanita itu.


“Azia?!” Dia terlihat sangat terkejut. “Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya tadi kamu ada urusan lain?”


“Masalahnya sudah di atasi sekarang jadi, aku pikir karena masih ada waktu ya aku mampir aja ke sini, gak masalah’kan?”


“Ya enggak, lagian ibu memang merindukan kamu”


“Hallo! Kita belum kenalan?!” Ucap wanita itu dengan sopan menyela percakapan aku dan Alex.


“Kakak ini siapa?” Tanyaku.


“Temanku, dia dari Surabaya, ayo kita masuk!”


“Iya”


Ketika masuk ternyata Bu Dewi sedang menungguku, dia berjalan dengan cepat kearah ku dan membawaku ke tempat meja makan, dia menempatkan aku di kursi paling dekat dengannya.


“Azia, sayang! Ayo kamu pasti sudah lapar, ya’kan?”


“Eh, itu sebenarnya Azia sedang sakit perut mungkin Azia cuma perlu minum air saja sekarang, bu”


“Baiklah, minum air dulu, ini airnya sayang! Azia, teman kamu yang lucu itu bagaimana kabarnya?”


“Oh, Andi, dia …”


‘tak’ galas milik kak Alex di hentakkan ke meja dan sedikit membuat aku kaget, wajahnya terlihat sangat kesal tapi aku tidak mengerti apa yang menyebabkan dia seperti itu.


“Seperti yang pernah Azia ceritain sama ibu, dia masih di ganggu oleh orang itu tapi, tadi semuanya sudah beres berkat teman-teman Azia.” Lanjut ku dengan tidak memperdulikan sikap kak Alex.


“Baguslah, Ibu juga merasa sedikit kepikiran setelah kamu menceritakan hal itu, karena kalau sudah terobsesi, biasanya orang akan melakukan banyak cara agar orang yang dia suka berada di sisinya”


“Kalian lagi bahas apa?”


“Ada deh, kepo banget sih kamu!” Ucap bu Dewi pada Alex yang menyela percakapan kami.


“Ibu kenapa sih menganaktirikan putra sendiri?!”


“Gak usah lebay deh! Udah sana makan! Ayah, urus anak mu ini!”


“Tante! Apa tidak masalah saya makan bersama kalian?” Ucap wanita itu basa-basi karena Bu Dewi hanya fokus padaku saja.


“Eh, nak Indah, maaf maaf, tante jadi asik sama Azia dan lupa ada kamu di sini, tentu saja kamu boleh makan, anggap rumah sendiri, jangan malu-malu!”


“Makasih tante”


“Azia sayang, kamu beneran gak makan?”


“Iya bu, perut Azia benar-benar masih sakit karena taksi yang Azia tumpangi tadi ngebutnya”


“Sayangnya!  Udah kalau gitu kamu istirahat dulu nanti biar Alex yang periksa keadaan kamu, ya sayang”


“Baik bu”


Lalu seorang pembantu datang dan mengantarkan aku ke kamar tamu, aku beristirahat di sana, dan pada akhirnya aku menginap di sana karena mereka tidak tega membangunkan aku yang terlihat sangat ke kelahan. Untungnya keesokan harinya tidak sekolah, aku bisa tetap di sana hingga pagi, meski banyak pesan dan telpon dari Mia dan Fara, apa lagi orang tua mereka yang menghubungiku karena khawatir. Setelah itu aku menjelaskan semuanya pada tante dan juga kedua sahabatku alasan kenapa aku tidak pulang, Bu Dewi ikut memperjelas nya agar mereka yakin kalau semalam aku di jaga dengan baik di rumah kak Alex.


“Bu, Andra tidak pulang?”


“Andra itu lebih suka tinggal di rumah tantenya di banding di sini, kalau di sana dia punya banyak teman dan dia jadi bisa latihan basket dari pada di tempat ini”


“Azia, sebenarnya sudah lama tidak melihatnya tapi tidak masalah juga, toh pada akhirnya nanti kamu akan bertemu lagi. Bu, Azia maunya sering ke sini nemenin ibu tapi, sayangnya Azia masih harus mengajar beberapa anak di hari biasa dan kalau minggu biasanya kak Alex membawa Azia jalan-jalan jadi, gak bisa ke tempat ibu”


“Kamu terlalu sibuk, bagaimana kalau ibu minta Alex supaya kalian bisa pergi ke sini tiap akhir pekan?”


“Azia, tidak masalah, yang penting kak Alex gak masalah.”


“Kamu memang anak baik, Alex pasti tidak akan mempermasalahkan ini”


“Gak, aku gak setuju! Azia, hanya akan bersamaku saja saat akhir pekan dan itu mutlak!” Ucap kak Alex dari arah bekang kami.


“Anak ini! Kamu udah gak sayang sama ibu, ya?”


“Harusnya Alex yang nanya kayak gitu, lagian tiap kali Alex bawa Azia ke rumah pasti ibu membuat kami tidak bisa berduaan, ini sangat mengesalkan!”


“Mau ibu kutuk jadi batu?”


“Jangan dong bu, kalau kak Alex jadi batu nanti Azia nikahnya sama siapa?”


“Kan masih ada anak ibu yang lain sayang”


“Ibu…” Wajah kak Alex jadi cemberut karena ucapan Bu Dewi.


Kakak Alex membawa aku kabur dari rumahnya, dia menyalakan mobil dengan cepat sebelum bu Dewi mengejar kami berdua. Dia terlihat kesal tapi, tidak mengatakan apapun di perjalanan, membuat aku merasa ada yang aneh dengan dia, aku merasa takut tapi tidak bisa berkata apapun karena aku benar-benar takut kalau dia yang tidak pernah menunjukkan amarahnya akan benar-benar marah hari itu.


Bersambung.....


Jangan lupa Like dan Favorit kan ya☺️☺️