Obsession Of Love

Obsession Of Love
Kepergok lagi



Pagi itu Mia dan pacarnya barunya yang bernama Yanto pergi ke taman, mereka menghabiskan pagi dengan jalan-jalan sambil bergandengan tangan, mereka menyusuri jalan setapak sambil berbagi cerita keseharian mereka ketika tidak bisa bertemu.


“Sayang, aku haus, beliin minum dong!” Pinta Mia dengan nada manja pada Yanto.


“Kamu tunggu di sini, aku cari minum dulu, ya sayang?” Yanto mengelus rambut Mia lalu dia pergi mencari minuman untuk menghilangkan dahaga pacar tercintanya.


Tak lama setelah itu Yanto kembali dengan membawa dua air putih kemasan untuk Mia.


“Loh kok air putih, sih?”


“Sayang, air putih itu baik untuk kesehatan, aku ingin kamu selalu sehat makanya aku selalu menyarankan kamu untuk minum banyak air putih dan kurangi makan makanan yang manis dan berlemak.”


“Tapi…”


“Sayang, aku katakan ini untuk kebaikanmu, agar kamu sehat selalu dan kita bisa bersama sampai tua nanti” Ucap Yanto dengan lembut sambil membukakan botol minuman itu untuk Mia.


“Terima kasih”


“Sayang, setelah ini kamu mau kemana?”


“Kemana aja asal sama kamu!” Ucap Mia sambil tersenyum malu-malu.


“Kamu nih selalu bisa gombal, ya?!” Tanya Yanto sambil tersenyum lebar.


“Apa kamu tidak suka?” Mia jadi cemberut.


“Tentu saja suka sayang, kalau aku gak suka mana mungkin kita sampai pacaran seperti ini, ya’kan?” Yanto benar-benar orang yang lembut karena itu Mia selalu luluh dengan ucapannya yang manis dan penuh perhatian.


“Gak terasa sudah hampir jam makan siang, mending kita cari tempat makan yang sehat dan dijamin kebersihannya, ya?!” Saran Yanto yang selalu mengutamakan kesehatan sebagai mahasiswa kedokteran.


“Oke!” Ucap Mia sambil menggandeng Yanto dengan penuh perasaan.


Setelah berkeliling akhirnya mereka berhenti di sebuah restaurant termahal dan terkenal di kota itu.


“Kamu yakin mau ke sini?” Tanya Mia dengan ragu-ragu.


“Loh ada apa, sayang? Apa kamu khawatir aku gak bisa bayar, ya?”


“Bukan itu, bego! Ini itu restoran milik keluarga aku, bisa mati kalau tiba-tiba ada kakakku di sini?” Pikir Mia sembari memaksakan senyumnya.


“Gak kok, kalau gitu ayo kita masuk” Dalam hati dia ingin sekali kabur tapi dia tidak mau Yanto tahu siapa keluarganya Mia dan membuat kekacauan dalam hubungan yang baru seukuran biji bayam itu.


Begitu masuk Mia mencari tempat paling sudut dan paling tertutup dari jalan masuk agar kakaknya tidak memperhatikan keberadaan dirinya kalau-kalau mereka datang berkunjung.


Mia terus saja memerhatikan sekeliling dan berhati-hati hingga membuat Yanto sedikit terganggu dengan tingkahnya yang aneh itu.


“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Yanto dengan nada khawatir.


“G-gak, gak ada kok!” Mia menjawabnya dengan sedikit kaku.


“Ayo pesan makanannya, pelayannya udah nunggu loh dari tadi!”


“Iya, akan aku memesan sekarang!” Mia memesan asal-asalan karena dia takut kalau tiba-tiba kakaknya lewat dan menghampirinya.


“Sayang, aku mau ke toilet dulu, kamu tunggu disini dulu ya, dan ini handphone aku, tolong kamu pegang dulu , ya sayang?!”


“Eum” Mia mengganggu dan mengambil handphone yang ada di tangan Yanto.


Berselang beberapa menit setelah Yanto pergi ke toilet, kakak tertua Mia datang dan tidak sengaja melihat adik kecilnya di salah satu meja pojok restaurant itu.


“Kayaknya itu Mia deh! Aku samperin kali, ya? Loh itu…”


Saat Roni akan menghampiri Mia tiba-tiba saja Yanto kembali dari toilet dan duduk di samping Mia. Mereka berdua terlihat mesra di tambah dengan Yanto yang seakan tidak mau melepas pandangan dan genggaman tangannya dari Mia.


Roni memotret kejadian langka itu lalu kemudian barulah dia menghampiri Mia.


“Ayo, ketahuan kamu ya selingkuh di belakang Dirga?!” Roni mengagetkan kedua orang yang sedang bermesraan itu.


“Kamu siapa?” Tanya Yanto yang tidak senang dengan kehadiran Roni di tempat itu.


“Saya kakak tertuanya, kamu siapa? Jangan bilang pacarnya karena dia baru saja bertunangan beberapa minggu lalu”


“Apa? Tunangan? Mia, tolong jelaskan apa maksudnya ini?!”


“Cukup! Hari ini kita putus! Aku kecewa pada kamu…” Yanto melihat kearah Mia dengan tatapan penuh kekecewaan bercampur dengan amarah, lalu dia mengambil handphonenya dan pergi meninggalkan Mia.


“Apaan sih kakak ini! Bisa gak sih kalian biarkan aku senang sekali.” Mia mulai cemberut karena di tinggal Yanto.


“Oh, mau senang-senang, boleh-boleh tapi… Aku tanya dulu sama Hendrik, ya?!” Membuka handphonenya.


“Jangan!!!” Mia memegang tangan Roni yang akan menghubungi Hendrik.


“Takutkan, makanya jangan nakal kalau jadi adik!”


“Kalian kok tega sih sama adik sendiri, aku dan Yanto itu baru juga pacaran seminggu, dan gara-gara kak Roni, reputasiku di coreng karena untuk pertama kalinya seorang Mia diputusin oleh pacarnya!”


“Jadi mau kamu apa? Mau kakak adukan sama Hendrik!”


“Jangan dong! Kuping aku masih ngilu nih kalau ingat-ingat soal kak Hendrik tahu! Kakak ngapain kesini?” Mia memegang kedua kupingnya karena tiap kali mengingat kakak keduanya dia pasti akan merasa ngilu di kupingnya.


“Mau lihat-lihat aja dan sekalian mau makan siang sama Hendrik, bentar lagi orangnya juga datang”


“Kak, aku mohon jangan beritahu kak Hendrik dan Dirga masalah ini, ya?!”


“Baik tapi dengan syarat…”


“Syarat apa lagi, sih?!”


“Pulang ke rumah dan jangan keluyuran lagi, paham?! Dan ini cukup untuk terakhir kalinya atau kamu akan dikirim ke Amerika dan tinggal dengan orang tua Dirga, ngerti Mia?!” Roni duduk dan menatap tajam kearah adik kecilnya yang sangat dia sayangi.


“Kakak kok ikut-ikutan kejam kayak kak Hendrik, sih?!”


“Ini agar kamu mengerti cara menghargai kepercayaan orang, sekarang ayo ikut kakak, kita bertiga akan makan siang bersama di ruang VIV!”


“Baik”


Akhirnya Mia hanya bisa menurut pada perintah Roni, menurut Mia, Roni adalah kakak yang asik dan jarang marah makanya dia tidak terlalu takut pada kakak tertuanya itu dan bahkan dia sering curhat ke Roni tiap ada kesempatan. Namun, sebenarnya di balik kebaikkan Roni itu, dia menahan semua emosinya hingga pada suatu titik itu akan jadi bom yang menakutkan. Keluarganya pernah merasakan amarah Roni saat dia belum dikirim ke Amerika ke tempat kakek dan neneknya berada dan semenjak Mia lahir, Roni semakin bisa mengendalikan emosinya dan menjadi pribadi yang tenang.


Tak lama kemudian Hendrik datang dengan kemeja biru mudanya. Begitu masuk ke ruangan khusus itu dia terlihat kaget karena seorang yang susah sekali ditemui bahkan di rumah malah berada di meja makan yang sama dengan kakak tertuanya.


“Mungut dari mana, tuh!?” Tanya Hendrik pada Roni.


“Ada tadi di meja pojok, lagi…”


“Kakak, apaan sih! Aku ini bukan barang, masa pakai kata ‘pungut’ sih!?” Mia langsung memotong omongan Roni dan berpura-pura ngambek.


“Maaf adik kecilku! Sekarang ayo kita makan, aku masih harus kembali ke rumah sakit” Hendrik duduk di kursi yang berada di dekat dengan Roni.


“Sok sibuk! Kalian ini jomblo gak laku atau apa sih?”


“Dek, tega banget sih ngatain kakaknya seperti itu!”


“Habisnya, kak Roni udah hampir berkepala tiga masih aja jomblo dan kak Hendrik lagi, sok sibuk banget sampai-sampai semua pacarnya minta putus setelah sebulan pacaran!”


“Kami bukan gak laku, hanya saja belum ada jodoh” Jelas Roni yang sedang fokus pada makanan yang baru saja masuk ke ruangan itu.


“Sama aja kali kak Roni! Oh iya, bagaimana dengan Azia kami? Apa kalian tertarik?”


“Anak itu? Huem…. Bukannya kalian juga tahu kalau dia pacaran dengan Alex?!” Ucap kak Hendrik yang tahu kalau kak Alex pacarku.


“Alah, bentar lagi juga putus, ayolah! Dia itu cantik, muda, berbakat, pintar, dan aku yakin punya masa depan yang cerah”


“Jangan deh, dek! Kamu gak tau aja gimana sifat asli si Alex, dia itu kalau udah marah ngeri banget… sama tu kayak yang di sampingmu” Tunjuk Hendrik lewat tatapannya ke arah Roni yang sedang makan.


“Maksud kak Hendrik itu kak Roni?” Mia melirik Roni yang terlihat tidak terlalu peduli dengan percakapan mereka.


“Kenapa kalian menatapku? Cepat selesaikan makannya dan pulang, hari ini Papa dan Mama akan pulang dari liburan mereka, jadi cepat dan jangan sampai tidak ada yang menyambut mereka” Segera mengubah topik.


“Baik kak”


Hendrik dan Mia mengiyakan ucapan kakak tertuanya dengan patuh dan mereka akhirnya melanjutkan makan dengan cepat sebelum Hendrik harus kembali ke rumah sakit.


Bersambung…