
Azia POV
Satu minggu setelah aku mulai tinggal dengan Kakek, seorang anak laki-laki di kenalkan padaku sebagai calon tunanganku di masa depan. Dia bernama Bastian Andraw, jika di lihat sekilas dia terlihat seperti anak lainnya, tampan, baik, sopan, dan dia punya senyum yang cukup manis, tapi itu jika di lihat sekilas.
"Azia, kenalkan ini Bastian Andraw, cucu dari teman bisnis kakek"
Aku terdiam dan mengamati, lalu kami pun saling berjabat tangan.
"Ini kedua orang tuanya, Aurel dan Li Yiming. Azia, ajak Bastian berkeliling dulu."
"Baik" Jawabku singkat lalu langsung pergi sambil menarik Bastian bersama ku.
"Apa kamu tidak bisa lebih lembut?" Tanya anak yang sedang aku tarik.
Aku melirik kearahnya lalu segera melepas genggaman tanganku darinya, aku berjalan mendahuluinya dan meninggalkan dia yang masih sibuk dengan pergelangan tangan yang mungkin sakit karena aku terlalu kuat saat menggenggam pergelangan tangannya.
"Kita mau kemana?" Tanya Bastian padaku sambil mencoba menyamai langkahku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya tapi aku terus berjalan hingga kami sampai ketaman belakang rumah, aku duduk di sebuah kursi taman dan bersadar dengan tenang, lalu dia pun mengikuti apa yang aku lakukan.
"Apa kamu tuli?" Tanya Bastian dengan nada polos dan tidak terdengar seperti sedang mengataiku.
"Apa kamu memang sangat cerewet?" Aku berbalik bertanya.
"Jadi kamu tidak tuli, jadi kenapa saat aku bicara kamu seperti tidak mendengarnya? Apa kamu sengaja mengabaikanku?" Tanyanya dengan nada kesal.
'ya aku mengabaikanmu karena aku sedang kesal' jawabku dalam hati yang mana kata itu tidak akan mungkin aku keluarkan apa lagi permasalahan yang sebenarnya bukan ada pada bastian tapi pada kakek.
Sebenarnya setengah jam sebelum kedatangan keluarga Bastian, Kakek memberitahu padaku kalau aku akan bertemu dengan calon tunanganku. Saat itu aku tanpa sadar langsung mengekspresikan ketidak setujuanku dengan rencana perjodohan itu, aku berdebat dengan Kakek hingga tiba-tiba Kakek menghubungi seseorang dan dalam 5 menit beberapa foto terkirim padaku. Aku sangat kaget saat itu, foto yang aku terima itu merupakan foto kak Alex yang wajahnya sudah babak belur dan juga ada satu vidoe dimana memperlihatkan bagaimana kak Alex mendapatkan luka di wajah dan tubuhnya. Saat itu aku sangat syok dan tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan kak Alex selain berlutut memohon agar kak Alex di lepaskan, dan syarat agar nyawa kak Alex aman hanyalah dengan setuju untuk dijodohkan dengan pilihan Kakek.
"Azia, nanti kita akan satu sekolah, apa kamu tidak akan mengatakan sesuatu padaku? Misalnya 'tolong jaga aku' atau 'apa kita akan sekelas' begitu" Ucap Bastian dengan penuh percaya diri.
Aku benar-benar tidak punya mood untuk menanggapinya hari itu, karenanya aku hanya diam dan pikiranku pun saat itu hanya sedang memikirkan keadaan kak Alex. Rasanya melihat situasi sekarang, aku ragu dengan rencanaku untuk bisa kembali dalam 5 tahun setelah mengumpulkan kekuatan dan menguatkan posisiku di perusahaan atau setidaknya aku harus memiliki banyak koneksi untuk bisa memulai bisnis dengan lancar dan bisa mengalahkan kakek ku.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin bicara denganku? Apa kamu tidak menyukai kebedaanku?" Tiba-tiba ekspresi Bastian menjadi sendu, seolah dia akan menangis dan hal itu membuat aku merasa bersalah padanya.
Pada akhirnya aku hanya bisa mencoba bersikap sedikit lebih ramah pada anak itu hanya agar dia tidak menimbulkan masalah baru untukku. "Aku bukan tidak menyukaimu, aku sedang sakit kepala saja"
"Kamu sakit kepala?" Tanya nya sambil menarik kepalaku untuk tidur dipangkuannya. "Aku sanggat pandai memijak kepala, mama selalu bilang kalau pijatanku membuat kepalanya terasa lebih baik. Biar aku perlihatkan keahlianku padamu" Lanjutnya dengan penuh percaya diri.
Jujur saja pijatannya saat itu cukup bagus hingga aku tertidur di pangkuannya untuk beberapa menit hingga dia membangunkan aku karena Kakek meminta kami untuk kembali masuk. Begitu kami masuk rupanya Kakek sudah mempersiapkan cincin pertunangan untuk kami berdua. Aku pikir hanya aku yang kaget, rupanya Bastian pun tidak tau akan masalah perjodahan itu.
"Kenapa tiba-tiba? Mama cuma bilang kalau ingin bertemu cucu teman kakek yang akan pindah ke sekolahku, dan memintaku menjadi temannya, lalu kenapa malah jadi begitu" Protes Bastian pada Mamanya.
"Bastian sayang, ini permintaan Kakek, jadi kamu tidak boleh menolak, ya" ucap Bibi Aurel pada anaknya dengan sangat lembut.
Sedangkan paman Li hanya menatap tajak kearah anaknya yang mencoba menolak perjodohan itu.
"Tapi Ma..."
"Bastian sayang Mama'kan? Kalau sayang Mama, Bastian harus mau tunangan sama Azia. Azia itu anak baik, dia pasti bisa menjadi pasangan yang baik untukmu." Bibi Aurel terus mencoba membujuk Bastian dengan caranya, sedang Suaminya mulai kelihatan akan murka di sampingnya.
Beberapa kali aku melihat Bastian menatap mata Ayahnya dengan ekspresi takut, lalu pada akhirnya Bastian mengiyakan perjodohan itu.
Acara tunangan itu diadakan sangat sederhana dan hanya dikasikan oleh Kakek, keluarga Bastian, dan beberapa pelayan yang ada di sana. Setelah kami selesai bertukar cincin, semua orang dalam ruangan itu bertepuk tangan, semua tersenyum bahagia kecuali kami berdua, dua orang yang hanya bisa tersenyum terpaksa karena keadaan.
"Bagus, akhirnya kalian berdua bertunangan, lalu untuk acara resminya akan diadakan saat kalian lulus nanti. Lalu saat kalian sudah mendapatkan gelar serjana maka kami akan melangsungkan pernikahan. Apa kalian setuju?" Tanya Kakek pada kami, yang mana pertanyaan itu sebenarnya tidak membutuhkan jawaban dari kami berdua.
"Iya" Jawab kami secara bersamaan.
"Jawabnya aja bisa samaan, udah pasti jodoh" ucap Bibi Aurel dengan wajah senang.
Beberapa bulan setelahnya aku resmi pindah ke sekolah Bastian, sejujurnya aku tidak berharap banyak mengenai hubungan kami tapi, aku cukup kaget melihat perbedaan sifat Bastian yang aku temui di sekolah dengan yang aku temui di rumah saat itu. Bastian yang sekarang adalah seorang anak laki-laki yang bandel, playboy, suka berkelahi, jahil, dan banyak sifat buruk yang melekat padanya. Tapi beruntungnya aku mendapatkan kelas yang jauh dari Bastian dan aku mendapatkan teman sekelas yang entah kenapa isi orang malaysia dan orang indonesia. Karena semua orang di kelas hampir seluruhnya bisa berbahasa Indonesia, karena itu terkadang kami bicara dengan bahasa Indonesia di kelas.
"Hi Baby? Gumana kabarnya? Udah lama aku tidak melihatmu, padahal kita satu sekolah tapi rasanya sangat sulit menemuimu" ucap Bastian yang datang dan langsung duduk di mejaku.
"Azia, apa kamu tidak akan melaporkan ini kepihak sekolah? Dia sudah keterlaluan?" Tanya Tania yang merupakan teman sebangku ku.
"Aku tidak ingin memperbesar masalah, biarkan saja dia sampai dia merasa lelah"
"Tapi dia sudah seperti ini hampir satu semester"
"Apa kita beri saja dia pelajaran?" Tanya Lin Lin padaku.
Dibanding aku, teman-teman sekelasku lebih kelihatan geram pada Bastian yang sudah sangat keterlaluan hingga saat ini, tapi aku masih ingin membuarkannya, setidaknya hingga ujian kali ini selesai.
"Tunggu sebentar lagi" Aku punya lebih banyak jalan untuk membuat anak itu menyerah jika sudah waktunya hanya saja ini belum waktunya.
"Kalau kamu butuh bantuan kami, katakan saja, jangan sungkan"
"Iya, tenang saja."
Beberapa minggu setelahnya entah kenapa masalah perjodohan kami terdengar hampir ke seluruh sekolah, atau mungkin sudah seluruh sekolah. Beberapa orang terus berdatangan dan menanyakan kebenaran tentang kabar itu, aku yang sejak awal tidak ingin mengakui hubungan itu pun pada akhirnya hanya bisa berbohong dan mengatakan kalau itu hanya gosip yang tidak berdasar. Setelahnya aku mendengar kalau Bastian berpacaran dengan adik kelas, lalu dia juga memacari orang-orang yang beberapa hari yang lalu baru saja menyatakan cinta padaku. Rumor buruk tentang Bastian yang suka sesama jenis membuat aku terganggu karena mereka juga mengaikan dengan rumor pertunangan ku dengan Bastian. Banyak yang mengatakan kalau Bastian sedang mencari perhatianku, ada juga yang bilang Bastian bosan dengan wanita, dan yang lebih para adalah kabar yang mengatakan kalau aku tidak bisa mengurus pasanganku hingga dia menjadi belok. Amarahku benar-benar memuncak dan pada akhirnya aku memutuskan untuk bolos satu mata pelajaran hanya agar bisa memberikan sedikit pelajaran pada Bastian.
Aku pergi ke lapangan Basket yang kebetulan sedang sepi, aku duduk di bangku penonton lalu mengirimkan Bastian pesan.
Beberapa menit kemudian Bastian dengan wajah sok polosnya itu menghampiriku.
"Kamu manggil aku kesini pasti karena kangen kan?" Dia tersenyum penuh percaya diri.
Aku yang sudah kehilangan kesabaran pun akhinya meluapkan emosiku. Aku menarik kerah bajunya dan memberi dia satu tamparan yang cukup kencang.
"Apa yang kamu" Tanya Bastian yang sok setelah aku beri tamparan.
"Aku sudah cukup sabar selama beberapa bulan ini tapi, kamu sengaja memancing emosiku!" Bentakku padanya.
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan beberapa detik kemudian akhirnya dia menangis di depanku dengan tangan kirinya masih memegang pipi yang memerah karena tamparan dariku.
"Ahkk! Kenapa sok jadi yang tersakiti di sini sih?" Ucap ku kesal.
Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menangis dengan kencang hingga terpaksa aku menutup mulutnya, "Diam! Bagaimana kalau ada yang tau!" ucapku dengan sedikit berbisik.
"Ta .. ta.. tapi kan kamu duluan yang salah" Ucapnya yang masih menangis.
"Coba duduk dulu, mari kita bicara tanpa ada tangisan apapun" Ucapku sambil menariknya untuk duduk.
"Aku kayak gini karena kamu mengabaikan ku... heu... heu.... padahal kamu ramah pada orang lain, tapi padaku tidak heu... heu..."
"Berhenti menangis dan bicara dengan benar" Tegurku.
Beberapa menit kemudian akhirnya dia lebih tenang.
"Aku hanya berharap kamu memperlakukan aku sama seperti yang lain, aku benar-benar tidak bisa menerima jika hanya aku yang di perlakukan dingin dan diabaikan oleh kamu."
"Stop nyalahin orang, yang suka gonta ganti pacar itu kamu, jangan jadikan aku alasan perbuatan salahmu itu. Aku peringatkan padamu, ini terakhir kalinya aku mendengar ada gosip kamu pacaran dengan sesama jenis atau gonta ganti pacar, jika ada masalah lagi kedapannya akan aku patahkan lehermu, paham! Nggak usah nangis!" Bentakku padanya.
Dia terdiam dan merenung, tiba-tiba aku merasa sedikit bersalah karena ya memang aku jadi sumber kenapa dia bersikap aneh seperti itu.
"Karena pada akhirnya kita akan bersama sampai seterusnya, ayo bersikap sewajarnya, aku akan berusaha bersikap baik padamu, jadi tolong jangan banyak tingkah" Ucapku dengan nada sedikit lembut.
"Eum" Angguknya patuh.
"Kita bicara lain kali, aku pergi dulu" Aku pun segera meninggalkan tempat itu"
Next....