
Sementara itu di waktu yang berbeda ada Alex yang sedang memantau akun sosial media istrinya. Tangannya meremas kesal kertas di tangannya begitu melihat postingan yang menandai akun istrinya.
“Bagaimana tangan pria itu menyentuh pipi istriku” Teriaknya dalam pikirannya.
Padahal dia sedang tidak bisa tidur karena merindukan istri mungilnya yang menggemaskan tapi, tiba-tiba saat dia berencana melihat postingan terbaru istrinya sebagai pengobat rindu malah yang dia temukan sebuah postingan dari teman Azia yang memperlihatkan bagaimana pria lain menyentuh pipi istrinya yang sangat menggemaskan itu.
“Besok aku harus ke memesan tiket, aku harus mengawasi Azia di sana.” Ucapnya kesal dengan terus memperhatikan postingan itu.
1 jam berikutnya ada notif lagi dari instagram Azia, dan masih dari orang yang sama. Aulia memposting video kebersamaan mereka di sebuah bar dan Azia ada di dalamnya. Terlihat Alham sedang bersandar di bahu Azia, tidak hanya itu tangan Azia seolah mengelus lembut pipi pria yang menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Azia.
“BAJING*N” Alex benar-benar murka, dia melempar handphonenya ke lantai karena tidak bisa menahan emosi melihat postingan terakhir dari Aulia.
“AKAN AKU BUN_H KAMU ALHAM, SIAL*N” Teriaknya kesal sambil menatap lurus tanpa tujuan.
*
*
Namun yang sebenarnya terjadi adalah setelah mereka selesai makan, sesuai dengan kesepakatan mereka pun pergi ke sebuah Bar yang sudah di sewa oleh Aulia untuk mereka, alasan dia melakukan itu hanya agar tidak ada yang mengganggu atau melihat bagaimana teman-temannya menjadi gila saat mabuk.
“Aulia, aku kita bisa bicara?” Alham menarik tangan Aulia saat akan masuk ke pintu bar.
“Ada apa?” Tanya Aulia kaget dan sesekali melihat ke arah teman-teman yang sudah masuk mendahulinya.
“Apa kamu yakin membawa Azia kesini?” Alham melirik ragu pada Aulia dan sesekali melirik ke arah pintu masuk.
“Memangnya kenapa?” Aulia bingung dengan kegelisahan yang diperlihatkan raut wajah Alham.
“Melihat tanggapan lambat mu, sepertinya kamu benar-benar lupa akan masalah waktu itu.”
“Masalah apa?” Tanya Aulia lagi yang masih tidak tahu arah pembicaraan mereka.
“Azia.. Dia… Cih, kenapa aku perlu mengingat masalah waktu itu lagi!” Keluhnya kesal.
“Ada apa?” Tanya Aulia lagi.
“Saat pertemuan waktu awal kita masuk sebagai mahasiswa, bukan kamu juga melihat bagaimana gilanya Azia saat dia mabuk?” Ucap Alham kesal.
“Bukan kah itu sudah lama, apa kamu pikir itu masih berlaku? Itu sudah bertahun yang lalu dan saat itu Azia masih berusia 17 tahun, tapi sekarang dua sudah dewasa dia sudah berusia 24 tahun dan aku tidak merasakannya.” Jawab Aulia yang sangat percaya kalau temannya sudah berubah total semenjak semakin dewasa.
“Sejauh aku lihat tidak banyak yang berubah, aku juga mendapat pesan dari sekretaris pribadinya yang dulu, dia melarangku untuk memberikan apapun yang mengandung alkohol pada Azia. Aku pikir alasannya pasti sama. Ayo jangan lakukan itu atau salah satu diantara kita akan tiada malam ini” Ucap Alham dengan nada serius.
“Jangan mengatakan hal mengerikan itu. Kamu membuatku merinding!” Aulia mulai menggosok-gosok leher belakangnya karena ucapan Alham.
“Kalau kamu berniat mati malam ini, tolong jangan ajak aku. Aku akan pulang ke hotel saja!” Lanjut Alham.
“Jangan begitu! Aku tidak enak pada teman-teman yang lain dan aku sudah terlanjur menyewa tempat ini”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Mereka pasti tidak tahu masalah ini.”
“Al, kalau begitu kamu beli susu atau apapun sebagai pengganti untuk Azia. Aku masih belum siap mati malam ini”
“Oke. Kamu masuk saja duluan, aku akan menemukan sesuatu untuk Azia.”
“Eum”
Lalu segera Alham pergi mencari minuman pengganti untuk Azia. Sementara itu Aulia tetap masuk dan melihat situasi di dalam bar itu.
“Ayo pesan apapun yang kalian mau, kali ini aku akan mentraktir kalian sampai puas!”
Semua bersorak gembira dan langsung memesan minuman tanpa ragu, namun saat Azia masih memikirkan apa yang akan dia pesan untuk dirinya, Aulia menarik Azia ke kursi lain menjauh dari teman-teman yang lain.
“Kamu yang minum, ya!” Pinta Aulia dengan nada lembut untuk membujuk Azia.
“Loh, kenapa?” Tanya Azia yang terlihat tidak terima karena hanya dia yang tidak diperbolehkan memesan minuman di tempat itu.
“Aku janji tidak akan minum banyak, lagian aku selalu minum vitamin dari dokter jadi aku yakin ketahanan tubuhku stabil dan aku tidak akan sakit”
‘ini tidak ada hubungannya dengan kesehatanmu, sayang. Jika kamu hanya deman saja setelah mabuk itu bukan masalah besar tapi, ini tentang nyawa kami semua… si Alham kok lama banget sih!’ batin Aulia.
“Boleh ya aku coba minum? Aku tidak pernah minum setelah waktu kita di paksa minum oleh senior di kampus waktu itu” Ucap Azia dengan nada memohon.
‘Nahkan, benar kata si Alham, anak ini tidak berubah, pasti dia masih sama’ Batin Aulia dengan senyum terpaksa yang dia coba bentuk.
“Ah tidak, waktu itu aku pernah minum pasti bersama sekretaris ku, itu hanya seteguk anggur pemberian dari salah seorang klien ku” Juarnya tanpa keraguan seolah itu adalah hal yang biasa.
‘Pantas mantan sekretarisnya memberikan peringatan keras pada Alham, pasti sudah terjadi sesuatu’ Batin Aulia dengan sedikit menyendiri mengingat ucapan Alham.
“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Aulia penasaran.
“Tidak ada. Entahlah, sebenarnya aku tidak ingat. Tapi… besoknya sekretarisku minta cuti 1 minggu.” Jawab polos perempuan itu.
“Apa kamu pernah bertanya pada sekretarismu tentang masalah itu?”
“Masalah apa?” Azia masih saja bicara dengan polos.
“Alasan dia minta cuti.”
“Eum.. Aku tidak bertanya, aku pikir dia lelah saja. Atau mungkin dia ada masalah dengan pacarnya. Waktu itu kan pas setelah seminggu dia cuti, aku melihat ada bekas memar di dahinya, apa mungkin dia dipukuli pacaranya?” Ucap Azia polos dengan gaya seolah sedang berpikir keras.
‘Nah, nah kan! Ini pasti perbuatan gila dia, anak ini benar-benar tidak mengingat apapun perbuatannya setelah dia sadar dan itu menambah rasa nyeri pada dirinya.’ Aulia terus membatin tiap kali Azia bicara.
“Hai! Kenapa kalian disini, ayo gabung dengan yang lain. Kita kan mau party bareng, ya’kan?” Ajak Zian yang tidak tahu apapun.
“Aha,ha,ha… Kalian duluan aja, ada hal yang harus kami bicarakan disini” Ucap Aulia sedikit kaku.
“Auh. Kalau gitu, nih buat kalian” Zian memberikan dua cangkir bir pada dua perempuan di depannya.
Aulia sangat kaget karena Azia langsung menerima gelas berisi bir dari tangan Zian.
“Makasih” Ucap polos perempuan cantik dengan senyum manisnya.
Saat Azia akan meneguk minuman itu, Alham muncul dan segera merebut minuman di tangan Azia sebelum perempuan cantik itu membuka mulutnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Azia kaget sekaligus kesal karena minumannya di rebut Alham.
“Nih buat kamu. Kamu minum jus itu, aku membelinya di restoran terdekat, kalau kamu tidak suka aku juga beli beberapa susu coklat dan stroberi untukmu” Ucap Alham lalu ia meneguk minuman di tangannya.
“Terimakasih tuhan” Ucap Aulia dengan suara kecil dengan mata seolah bangga melihat kecepatan tangan Alham yang menyelamatkan nyawa mereka.
Setelahnya teman-teman lain terus menyodorkan beberapa minuman pada Azia tapi Alham terus menggantikan Azia untuk minum, alhasil Alham masuk parah, lalu Aulia yang jahil membuat video dimana Alham yang sedang mabuk parah terlihat sangat menggemaskan. Dan saat foto kebersamaan mereka Alham dipaksa ikut tapi saat akan berfoto, Alham tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Azia yang sedang duduk di sebelahnya. Azia mencoba membangunkan Alham dengan menepuk pelan pipi Alham agar mereka bisa berfoto tapi Alham tidak kunjung bangun hingga membuat Azia geram dan menepuk memukul keras pipi Alham hingga pipi putih pria itu benar-benar merah. Sayangnya pukulan itu tidak mampu membangunkan Alham yang sudah mabuk parah, dan saat kejadian itu Aulia bukannya mengambil foto malah merekam kejadian langka itu dan langsung memposting di IGS-nya.
“Ni anak mabuk, siapa mau urus?” Tanya Azia.
“Lah, kan dia sekretaris kamu ya kamu lah!” Ucap Aulia yang lepas tangan.
“Jangan gitulah! Kan kamu yang ajak kita ke tempat ini”
“Ya iya tapi kan kamu yang tidak minum di antara kita berenam, kalau gitu kamu urus saja dia.” Aulia pun segera menghilang dari tempat itu meninggalkan teman-temannya yang sudah terkapar di bar itu.
“Dasar tidak bertanggung jawab.”
Azia yang kebingungan pada akhirnya terpaksa menggunakan aplikasi DoS untuk meminta dikirimkan orang agar mengurus teman-temannya dan juga Alham.
Tak butuh waktu lama dan beberapa orang asing datang tanpa bisa, hanya sebuah pesan dari aplikasi yang menginformasikan kalau 4 orang akan masuk ke bar dan mengurus semuanya.
“Cepat juga pergerakan mereka, tidak sia-sia membayar mahal. Tapi… Gara-gara ini kesempatanku untuk mengirim perintah jadi berkurang dengan percuma” Keluh Azia kesal lalu dia segera meninggalkan tempat itu.
* **