Obsession Of Love

Obsession Of Love
Perang dunia cinta



Aku tahu kak Alex pasti kesal padaku karena aku pulang duluan dan tidak mengabarinya tapi, saat itu aku benar-benar lupa karena aku terlalu lelah berdansa bersama Andi, aku pikir dansa itu menyenangkan tapi rasanya seperti berolahraga, aku cukup merasa kelelahan ya meski ada bagian menyenangkannya juga sih.


Senin pagi aku telepon kak Alex dan ingin minta maaf padanya, sayangnya niat baikku tidak di sambut baik olehnya. Dia tidak mengangkat telepon dariku dan bersikap acuh saat aku datang menemuinya di rumah sakit. Dia membuat aku seakan menjadi manusia transparan, aku memanggilnya beberapa kali tapi dia mengabaikan ku dan terus berjalan lalu dia bicara pada suster yang ia temui. Baiklah, aku coba mengerti, mungkin dia sedang ada keperluan mendesak dengan suster itu, namun setelah selesai bicara dengan suster itu dia malah kembali berjalan dan meninggalkan aku yang memiliki kaki yang lebih pendek darinya.


“Kak Alex tunggu! Kita perlu bicara” Teriakku sambil terus mengejarnya.


Aku berulang kali memanggilnya tapi dia benar-benar tidak merespon ku, dia terus saja berjalan dan tidak sekalipun dia melihat ke belakang.


“Oke! Kalau ini mau kakak! Terserah!!!” Aku kesal dan akhirnya aku berhenti mengejarnya.


Aku pikir dia akan berbalik mengejarku tapi, kenyataannya dia masih sama, bersikap dingin dan mengabaikan keberadaanmu.


“Oke!! Kakak mau mengabaikan aku! Aku juga bisa, lihat siapa yang akan menangis duluan!” Pikirku sambil melihat ke arah rumah sakit hingga ojek yang aku pesan datang.


Beberapa hari berlalu dan dia benar-benar tidak mengabari aku ataupun datang menjemput ku seperti biasa. Ya, untungnya Andi itu banyak utang sama aku jadi, pas dia mau pulang sama gebetannya pasti aku palak di depan pintu pagar jadi, terpaksa deh dia antar jemput aku tiap hari.


“Azia, udah dong jangan kayak gini terus!”


“Kayak gini gimana maksudmu?”


“Setiap les kamu selalu kejam padaku, lalu kenapa kamu tambah jadwal kekejaman mu itu?! Di tambah kamu sering membajak bekal aku, please deh sekarang kamu buat aku jadi supir kamu, yang benar ajalah!” Andi kelihatan kesal, tapi dia tetap mau mengantarku pulang walau sering protes.


“Makanya kalau jadi orang jangan banyak utang, anggap semua yang kamu lakukan beberapa hari ini sebagai bentuk cicilan utangmu, ngerti gak!”


“Enggak! Eh, pinjam duit dong!”


“Buat apa?”


“Nanti sore aku mau jalan sama si Ani, aku butuh dana buat kencan”


“Kamu yang mau kencan kok aku yang keluar uang?”


“Jangan gitulah! Kitakan best friend, iya kan? Ayolah, gak banyak kok cuma 500 ribu aja, ya!??” Andi merebahkan kepalanya ke atas meja dan menatapku dengan tatapan yang menyedihkan hingga aku kehilangan prinsip yang aku tanam sejak dia gak bayar utangnya.


“Iya, iya nih! Awas ya kalau gak bayar”


“Di bayar kok, nanti hehehe” Andi terlihat senang karena mendapatkan uang dariku.


“Makasih ratu rakus ku yang baik hati dan cantik bak bidadari!” Andi kadang suka lebay kalau udah dapat apa yang dia inginkan.


“Udah gak usah muji-muji kalau pada akhirnya kamu gak mau bayar utangmu!”


“Aku bayar kok, nanti pas aku jadi kepala koki di restaurant Bundaku”


“Lah itu masih lama, dasar pangeran gak ada akhlak!”


“Makasih pujiannya!”


“Uek!” Aku muntah-muntah dengan senyum lebay dari Andi. “Udah, kamu sana ke kelas, tambah pusing aku kalau lihat kamu di sini!”


“Oke, ratu rakus! Aku akan pergi dan memberikanmu waktu pribadi, selamat menghayal!” Lalu Andi menghilang secepat kilat.


“Dasar teman gak ada akhlak! Selalu bikin kesel orang aja, udah orang banyak masalah di tambah lagi sama ulah dia, nyebelin banget!”


Karena jam makan siang masih lama, aku pun pergi ke perpus dan membaca beberapa buku di sana. Tak lama kemudian ada seorang kakak kelas duduk di depanku, tadinya aku tidak terlalu peduli hingga dia mulai bicara.


“Apa kamu anak kelas 2-A?”


“Iya, ada apa kak?”


“Tidak, kamu cukup populer ya dari awal kamu pindah kesini, padahal kamu bukan ketua OSIS atau orang yang berpengaruh di sekolah.”


“Lalu?” Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya yang ingin dia sampaikan padaku.


“Jadi, kakak anak yang pintar ternyata, bisa masuk kelas yang di isi sama anak-anak yang berprestasi.”


“Ya, bisa dibilang begitu, apa kamu sering ke tempat ini?”


“Tidak juga, kadang-kadang saja! Ah, sepertinya hampir bel, aku pergi dulu!” Lalu aku langsung pergi setelah melihat jam dinding.


Dari cara dia bicara aku bisa tahu kalau dia adalah anak yang ramah meski sedikit narsis.


***


Waktu cepat berlalu dan tak terasa hampir mendekati ujian tengah semester. Kak Alex semakin sibuk dan aku juga semakin sibuk mempersiapkan ujian diri sendiri dan juga anak yang aku ajari.


“Azia, sibuk baget kamu, ya? Beberapa hari ini kamu selalu pulang jam 10 malam. Apa tidak masalah?” Tanya Fara yang terlihat khawatir padaku.


“Kamu tahu sendiri, Fara kalau aku tu gak mungkin membiarkan mereka anak dalam pengawasanku itu mendapat nilai di bawahku”


“Ya ya ya, aku cukup paham. Oh iya, bagaimana dengan si kampr*t itu?”


“Kak Alax? Dia sibuk, kami bahkan tidak bicara hampir satu bulan ini, aku tidak mengerti dia kenapa? Masa dia marah cuma gara-gara aku ketiduran di rumah dan lupa kabarin dia, aku udah minta maaf jadi, apa yang perlu dipermasalahkan lagi, ya’kan?”


“Kamu baru nyadar kalau si anak kampr*t itu selalu melebih-lebihkan masalah”


“Kak Alex tidak seperti itu, Fara!”


“Kamu selalu membela dia, aku jadi semakin tidak menyukainya. By the way, si Mia beberapa hari ini kok gak kelihatan?”


“Gak tau tu, mungkin aja dia lagi asik berduaan sama si Dirga, lagian beberapa hari lagi dia bakalan balik ke Amerika”


“Huem… Kalian jadi menyebalkan setelah punya pasangan, aku jadi males buat pacaran”


“Kalau Andi nembak kamu mau?”


“So pasti lah! Tapi sayangnya itu gak mungkin” Jawab Fara realistis karena Andi memang tidak pernah menganggap Fara sebagai lawan jenis.


“Tentu saja gak mungkin, di hatinya cuma ada satu perempuan dan itu bukan kita berdua. Andi bilang dia sedang dalam proses move on tapi, menurut pengalaman aku sih gak percaya ya sama ucapan si kadal gak jelas itu”


“Azia, apa aku boleh minta tolong?”


“Apa?”


Aku pergi ke meja belajar dan melihat materi yang akan aku berikan pada anak yang aku ajarkan.


“Bentar lagikan valentine jadi apa kamu bisa buat Andi jalan sama aku? Sehari aja, please!!”


“Eum.. Aku usahakan deh!”


“Makasih sayangku!” Fara memelukku dengan sangat erat saking bahagianya.


“Udah, sekarang langsung aja ke intinya, ayo belajar, sekarang giliran kamu!”


“Loh! Gak asih ah, masa lagi happy-happy malah di suruh belajar?”


“Kalau gak mau belajar, eum… boleh, tapi aku gak jadi bantuin kamu ya?!”


“Jangan dong…. Iya deh aku belajar!”


Lalu Fara pergi ke meja belajarnya dan mulai membaca materi dan mengerjakan beberapa soal yang aku berikan padanya. Dia terlihat kesal dan tidak senang dengan permintaanku, kelihatan sekali dia memaksakan diri untuk belajar malam itu.


Bersambung….